Oleh Muhammad Asari

Menjadi peletak dasar ilmu perburungan di Indonesia bagaikan hidup yang berubah 180 derajat bagi Prof. Dr. Soekarja Soemadikarta yang usianya kini tidak muda lagi, namun semangat muda masih melekat pada dirinya.

Sejak usia 15 tahun, dia sudah menjadi tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pangkat Kopral dan Sersan sudah melekat pada bahunya. Berbagai pertempuran diikutinya diantaranya pertempuran yang sengit di Tasik Selatan.

Menghadang tentara Belanda yang melintasi jalur Tasikmalaya-Garut menjadi bagian tugasnya dan Sersan Soma muda sempat membentuk pasukan garuda putih. Berprofesi sebagai tentara bagi Prof Soema bukan suratan takdir hidupnya, dia pun lantas berhenti dan menyerahkan senjatanya kepada juniornya Eddie Mardjuki Nalapraya yang pensiun dengan pangkat terakhir Mayjen, pernah menjabat mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta dan kini Presiden International Pencak Silat Federation.

“Bukan darah saya untuk menjadi tentara, karena saya tidak tega saling menembak dan mematikan orang lain, meskipun dikatakan membunuh dalam peperangan diampuni,” ujar suami mendiang pustakawati senior Lily Koeshartini saat ditemui di kediamannya di Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/12/2011).

Dia menceritakan waktu itu dia mengalami trauma dan sakit, karena terbayang-bayang telah menembak seseorang, kemudian dia merasa tidak tega karena tidak bisa berbuat terbaik untuk orang lain namun menembak orang lain.

“Saya trauma, sakit saya, saya ingat didikan orang tua saya untuk berbuat baik bagi orang lain,” cerita Profesor kelahiran Bandung, 21 April 1930 silam.

Berhenti dari dinas ketenteraan, kemudian dia menamatkan SMP dan SMA sampai menginjak jenjang bangku kuliah di Bandung. Belum selesai dibangku kuliah, Soema muda sudah diangkat menjadi asisten dosen Fakultas Kehewanan UI waktu itu masih di Bogor. Kemudian dari sana dia dikirim untuk studi keluar negeri.

Akhir tahun 1959 dia pulang ke Indonesia, setelah menyelesaikan studinya di Freie University, Berlin, Jerman dengan memperoleh Doktor Ilmu Pengetahuan Alam. Dia aktif mengajar di UI selama 49 tahun 6 bulan. Terakhir, sebagai guru besar bidang Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia.

Pada masa-masa tahun 1962 hingga 1970 dia menjabat Kepala Museum Zoologicum Bogoriense, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pada waktu itu semua staf museum disekolahkan keluar negeri untuk memperdalam keahlian masing-masing. Semua bidang pun sudah dipilih, kecuali ilmu burung. Lantas karena tidak ada pilihan, Soema memilih studi tentang ilmu burung. Itu menjadi awal baginya menginjak dunia perburungan.

Moto Aristotles Pleasure in the job puts perfection in the work atau kesenangan dalam pekerjaan menempatkan kesempurnaan dalam pekerjaan, menopang dalam melaksanakan kesuksesan tugasnya. “Saya pilih ahli burung dan menekuni ilmu burung dan saya membaca terus,” kata mantan Dekan Fakultas MIPA-UI 1978-1981 dan 1981-1984.

Sejarah ornitologi Indonesia waktu 1960 silam, ayah dari Lini Berlinawati dan almarhum Dedi Achadiat ini masih menekuninya seorang diri. Padahal koleksi perburungan Indonesia cukup banyak. Dunia yang dia tekuni memang tidak menghasilkan banyak uang, namun bukan menjadi halangan bagi dia untuk terus mendalami dunia perburungan.

Karya seorang periset umumnya akan dihargai oleh berbagai lembaga universitas, khususnya dari luar negeri seperti diberikan kesempatan untuk melakukan riset di universitas tersebut. “Jika menghasilkan karya yang baik dan diakui dunia internasional, maka akan diberikan grand sebagai bentuk penghargaan seperti melakukan riset di universitas tesebut, ” katanya.

Menurut Soema, penelitian tentang ilmu perburungan di Indonesia sebelumnya didominasi oleh peneliti asing. Mereka ke Indonesia sejak abad ke 16. Tercatat perkembangan perburungan Indonesia mencapai 1.534 spesies yang terbanyak ke empat di dunia setelah Kolombia, Peru, dan Brazil.

Sebagai ahli taksonomi, sudah banyak burung yang dideskripsikannya yang kebanyakan jenis walet, salah satunya yang diberi nama Collocalia linchi dedii. Burung ini ditemukan di Ubud, Bali. Nama ini diambil dari putranya yang sudah meninggal.

“Saya berikan ke dia karena dia sejak kecil ikut dengan saya kelapangan, saya kehilangan dia,” kata peraih Habibie Award 201I dalam bidang ilmu dasar sambil merendahkan nada suaranya.

Penghargaan tingkat dunia pun diraihnya hingga 10 penghargaan prestisius, diantaranya dari National Academy of Sciences-National Research Council sebagai Visiting Research Associate di Departemen Ornithology, Smithsonian Institution, Washington, USA, Honorary President, XXV International Ornithological Congress, Campos do Jord o, SP, Brazil dan Goldene Promotion (Jubil umsurkunde) 1959-2009, Freie Universit t Berlin, Jerman.

Khazanah kekayaan burung Indonesia juga ditemukan dalam literatur kuno China. Seperti yang ditemukan pada selendang sutra dan digambar jenis burung. Lukisan ini berasal pada masa dinasti Song dibawah Kaisar Huizong (1082 1135).

Dalam sejarahnya, Huizhong memang dikenal sosok kaisar yang dikenal sebagai penyair, pelukis, kaligrafi, dan musisi. Selendang ini sekarang ada di Museum of fine Arts Boston, Amerika serikat. alt

“Ini tentu ada ekspedisi dari China yang mendarat ke Sulawesi, mungkin dikasih burung ini, ujar peraih Honorary Member, The British Ornithologists Union.

Sesudah dilakukan berbagai penelitian dan kajian sejarah oleh Prof Soema, burung itu ternyata sejenis burung kakak tua. Burung ini adalah burung endemik dari Sulawesi yang namanya Trichoglossus Ornatus. Dalam bahasa asing burung ini dikenal Five Colored Parkeet Pearch on Apricot Branch.

Setelah lukisan burung itu diperbesar, diteliti, nyatanya burung itu endemik Sulawesi, burung inipun makannya mudah sekali sehingga gampang dibawa, berbeda dengan jenis burung lainnya, kata ahli burung yang baginya bukan suatu yang harus untuk memelihara burung. Ini terlihat dari kediamannya yang tidak terdengar kicauan suara burung, tapi ada lukisan burung.

Temuan khazanah perburungan Indonesia juga ditemukan dalam buku Notes on the Malay Archipelago and Malacca compiled from Chinese sources yang ditulis Groeneveldt, W.P yang dipublikasikan 1880 silam. Buku ini menceritakan tentang sejarah kuno China khusus pada masa dinasti Tang. Dalam buku itu tercantum adanya burung dari Indonesia jenis pinka bird yang dibawa ke China.

“Sampai sekarang saya masih penasaran dengan dalam buku yang ditulis oleh seorang Belanda, disini tercatat ada burung pinka bird, yang dibawa dari kerajaan kaling di Indonesia ke China,” kata Soema.

Kekayaan literatur perburungan dan ilmu pengetahuan lainnya, tidak terlepas dari pengarsipan. Berebeda dengan penghargaan tentang keilmuan dari negara-negara lain, mereka memperhatikan hal-hal demikian, seperti adanya museum kuno negara lain dan data-data kuno yang mereka simpan hingga saat ini.

“Di luar arsip banyak sekali, ini susahnya kita dengan arsip, tapi disini kalau cari arsip yang seminggu saja susah sekali,” kelakar Soema yang justru tak memelihara burung di rumahnya.

Perkembangan ilmu perburungan saat ini mulai berkembang, apalagi dikancah taksonomi modern. Saat ini telah lahir pengamat muda tentang perburungan. Meski demikian, Prof Soema berpesan kepada peneliti muda harus banyak baca, bertanya dan jujur dalam penelitiannya.

“Saya dulu masih konvensional karena hanya berdasarkan kasat mata atau morfologi, saat ini sudah menggunakan taksonomi modern, seperti mengidentifikasi burung dengan sonogram dengan hanya mengenali dari suaranya,” ujarnya yang kini sebagai anggota dewan Penasehat Perhimpunan Burung Indonesia dan Founding member International academy of science.

Menurut filsuf dan rohaniawan Prof. Dr. Franz Magnis Suseno menanggapi pemberian gelar Habibie Award mengenai ilmu perburungan kepada Prof Soema, ornitologi sebenarnya adalah ilmu yang mewujudkan hormat dan cinta manusia pada alam. Burung dinilai sebagai contoh kebebasan padahal sayang manusia mengurung mereka dalam kandang.

“Ornitologi adalah kesadaran bahwa ia sendiri termasuk alam dan tahu bahwa sifat alamiahnya tidak boleh hilang oleh cekikan dunia buatan yang semakin mengelilinginya, ujar Magnis Suseno.

“Berbanding dengan manusia modern, alam dipandang semata-mata sebagai tambang, lahan dan objek pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia rakus.  Manusia tidak lagi tahu apa itu tahu diri, tidak tahu apa itu puas dengan seadanya, hidup hanya diciptakan oleh ekonomi kapitalistik untuk bisa meningkatkan laba mereka,” jelasnya.

Ada pertanyaan menggelitik setengah berkelakar dari Franz Magniz untuk Prof Soema, “Mengapa peneliti burung mesti bersusah payah masuk hutan belantara, menyelusuri sungai apalagi akan kehujanan, mengapa melakukannya tidak ke pasar burung Pramuka di Jakarta saja yang banyak ditemukan burung dilindungi maupun tidak dilindungi.” (asr)

Share

Video Popular