Setiap anak punya rasa ingin tahu. Rasa penasaran buah hati Anda sudah dimanifestasikan sejak awal. Sejak masa baru lahir, ia akan menatap dengan penasaran terhadap obyek yang terang dan berwarna cerah. Sampai pada 5 – 6 bulan kemudian, begitu mendengar suara, dengan penasaran ia akan mencari sumber suara itu.

Ketika anak-anak sudah bisa berjalan, ia akan merasa tidak tahan dengan kesepian di kamar, dan dengan rasa ingin tahu yang kuat ia akan ke luar untuk bermain, untuk “mencari tahu sesuatu yang baru/aneh”. “Langit akan hujan”, “Matahari terbit dan terbenam setiap hari”, “Bebek bisa berenang, sementara ayam tidak bisa” dan sebagainya. Dimana semua pemandangan ini akan membuatnya merasa sangat penasaran dan merasa lucu. Karena penasarannya itu, akan membuatnya mengemukakan berbagai pertanyaan yang ganjil. Saat hujan, ia akan bertanya, “Mengapa tante membawa payung?” “Mengapa kakek berjenggot, sedangkan ibu tidak ?” “Mengapa ayam betina bertelur, sedangkan ayam jantan tidak” dan sebagainya, pertanyaan aneh yang bertubi-tubi, sehingga membuat kita selaku orangtuanya bingung dan sulit untuk menjawabnya.

Bila sudah semakin besar, rasa ingin tahu anak-anak yang kuat, akan mendorongnya bertindak untuk mencobanya, bahkan bertindak sebagai bocah perusak. Ia akan membuang semaunya mainan yang sudah tidak diinginkannya lagi, mengobrak-abrik seisi rumah mencari mainan yang baru. Ketika melihat layar di televisi bisa berbicara, dan bernyanyi, ia akan mengitari sekeliling TV melihat ke sana kemari, memukul-mukul pesawat TV, berteriak kepada obyek di TV itu agar keluar dan bermain dengannya.

Melihat ibu menabur benih di tanah dan berkecambah, ia juga akan ikut menanam biji semangka ke dalam tanah, menggalinya setiap hari untuk melihat apakah sudah bertunas, saat melihat tukang cukur memotong rambut, ia juga akan mengambil gunting untuk mencukur bulu anjing, mencukur rambut boneka. Semua tindakan ini dipicu oleh rasa ingin tahunya yang kuat.

Bersikap bijak terhadap rasa ingin tahu anak-anak, termasuk bersikap secara bijak atas pertanyaan yang diajukannya dan bijak terhadap perilaku atau tindakannya yang menyebabkan kerusakan akibat rasa ingin tahunya itu.

A. Bersikap bijak atas pertanyaannya

Oleh karena rasa ingin tahunya, dengan pengetahuannya yang dangkal dan pengalaman hidup yang sederhana, mak si anak akan selalu melontarkan beberapa pertanyaan yang naïf atau bahkan pertanyaan yang menggelikan. Terhadap sebuah pertanyaan yang sudah Anda jawab dan Anda anggap sederhana itu, ia akan terus mencercanya dengan bertanya berulang-ulang, dan ia tidak akan merasa bosan, sehingga membuat kita kewalahan menghadapinya. Adalah hal yang baik, bilamana anak-anak suka bertanya, namun untuk memenuhi rasa ingin tahu, dan mendapatkan jawaban yang memuaskannya, memang bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut cara kita bagaimana menyikapi secara tepat terhadap pertanyaan yang diajukan anak-anak.

Kita harus mendorong anak-anak mengajukan pertanyaan

Menginspirasi anak-anak untuk bertanya, jangan menyindir atau menertawakannya. Seorang anak yang mengajukan pertanyaan, berarti rasa ingin tahunya sangat kuat, kita seharusnya memuji dan mendorongnya (memberikan semangat), menjawab secara sederhana, tepat dan segera. Jika orangtua mengabaikan pertanyaan anak, acuh tak acuh atau tidak peduli dengan pertanyaan anak-anak, atau bahkan menganggapnya hanya merepotkan, maka akan menyebabkan anak-anak menjadi takut atau enggan untuk bertanya lagi, sehingga kehilangan rasa ingin tahu dan antusiasnya terhadap segala yang ada di sekelilingnya.

Maxim Gorky (seorang penulis Soviet/Rusia) pernah berkata : “Masalah anak-anak, jika jawabannya hanya dengan sepotong kata tunggu saja, kelak setelah dewasa Anda akan tahu. Ini sama saja dengan menghilangkan rasa ingin tahu anak-anak.” Oleh karena itu, orangtua sejatinya memberikan jawaban atas pertanyaan anak-anak. Terhadap beberapa pertanyaan yang memang tidak dipahami anak-anak ketika itu, jangan memberikan jawaban padanya dengan mengatakan “Kamu akan mengerti kelak setelah dewasa, dan sudah banyak membaca (belajar).” Seharusnya mendorong semangatnya lebih banyak belajar pengetahuan dan untuk mencari jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan anak-anak harus inspiratif

Terhadap pertanyaan yang terarah, misalnya “Apa itu ?” “Ini namanya apa ?” Bisa langsung menjawabnya, tapi terhadap pertanyaan yang agak kompleks dan berubungan dengan logika, sebaiknya orangtua membimbing anak-anak untuk merenunginya, biarkan anak-anak menemukan jawabannya sendiri melalui kesimpulan dan pengamatan dari pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

Ada sebuah contoh seperti ini : ketika seorang bocah sedang memandangi bulan purnama di langit, dia bertanya pada ayahnya : “Ayah, apakah bulan akan selamanya begitu bulat dan terang ?” Sang ayah tidak segera menjawab secara langsung, tetapi mengatakan : “Nanti kita lihat beberapa hari, kamu akan mengetahui rahasianya, dan tahu jawabannya.

“Beberapa hari kemudian, pada malam cahaya bulan yang redup, ayah membawa anaknya melihat bulan. ketika itu, sang bocah melihat bulan melengkung lalu berkata : “Ayah, bulan melengkung tidak indah, lebih indah bulan yang bundar, ayah, apakah bulan akan bundar lagi ?” Sang ayah tidak langsung menjawab pertanyaannya, namun menjanjikan akan membawanya lagi melihat bulan nanti. Kemudian, ia melihat bulan yang bundar, dan dengan gembira ia berseru : “Lucu sekali, bulan yang bundar bisa berubah menjadi melengkung, kemudian menjadi bundar lagi”. Cara menjawab sang Ayah ini layak dibenarkan dan dianjurkan. Ia membuat rasa ingin tahu anak mendapatkan kepuasan, kemudian membuat anaknya itu mengerti fenomena tentang bulan melalui pengamatan dan pikirannya sendiri.

Catatan

Jika orangtua juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan anak-anak, sebaiknya orangtua jangan pura-pura mengerti dan menjawab semaunya membohongi anak-anak. Sebaiknya secara jujur dan terus terang beritahu anak : “Ayah juga tidak tahu jawabannya nak, nanti ayah beritahu jawabannya setelah memeriksa buku atau bertanya pada orang lain.” Setelah itu, selaku orangtua yang bijak, harus menepati janjinya, sesegera mungkin memberitahu anak-anak jawabannya yang benar.

B. Bersikap bijak terhadap perilaku atau tindakan anak-anak yang menyebabkan kerusakan akibat rasa ingin tahunya itu

Rasa ingin tahu anak-anak, selain suka bertanya, juga hiperaktif. Karena rasa ingin tahu anak-anak dan masih belia tidak tahu apa-apa, sehingga hiperaktifnya cenderung akan menyebabkan terjadinya beberapa tindakan yang bersifat merusak. Sehubungan dengan ini, orang tua harus bisa menanganinya secara tepat, tidak boleh menyalahkan, mencaci maki apalagi sampai memukul anak-anak, tapi sebaiknya membimbing dan mengajarinya dengan sabar. Sebagai contoh, setelah anak-anak membongkar dan merusak mainannya, sebagai orang tua yang bijak sebaiknya tidak serta merta naik pitam dan memukulnya, atau berjanji tidak akan lagi membelikan mainan untuknya, tapi sejatinya memberitahu anak-anak tentang prinsip konstruksi dan cara memasang mainan itu, kemudian memperbaikinya bersama anak-anak, dan jelaskan kepadanya cara menggunakan mainan yang benar, agar ia bisa belajar menggunakan dan menyayangi mainannya. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular