Belajar itu membutuhkan sebuah lingkungan yang layak. Ketika belajar bahasa asing harus memiliki lingkungan bahasa, dan itulah sebabnya mengapa sejumlah kelas kursus bahasa merekrut orang asing untuk mengajar. Anak-anak perlu lingkungan belajar yang berbeda untuk belajar pengetahuan yang berbeda. Dan terciptanya lingkungan belajar itu harus dileselesaikan bersama-sama antara kepala keluarga/orangtua dan anak-anak.

Lingkungan belajar itu termasuk lingkungan fisik dan lingkungan spiritual. Sebagai orangtua, menciptakan sebuah lingkungan pembelajaran yang berguna mungkin bukan hal yang sulit, tetapi lingkungan yang diciptakan orangtua adalah lingkungan yang dianggap baik olehnya. Misalnya, memberikan anak ruang belajar yang terpisah, siapkan meja, rak buku, buku dan sejenisnya, semua ini merupakan fisik (materi). Tapi cukup banyak orangtua yang kerap mengabaikan terciptanya lingkungan spiritual. Adapun yang disebut dengan lingkungan spiritual adalah suasana belajar yang menyenangkan, suasana belajar yang baik. Menciptakan lingkungan spiritual bukan satu hal yang mudah, namun, lingkungan spiritual itu jauh lebih penting daripada lingkungan fisik.

Di kota-kota besar, kondisi-kondisi material jauh lebih baik, sumber daya guru juga banyak, dan materi yang baik juga mudah ditemukan. Namun, di tempat dengan kondisi materi yang semakin baik, kondisi spiritual anak-anak dalam pembelajaran justru semakin sulit ditemukan. Alasannya, karena lingkungan spiritual dalam pembelajaran di kota itu tidak begitu baik, kerap dipengaruhi oleh banyak faktor, dan hal-hal yang mengganggu konsentrasi anak-anak juga sangat banyak.

Baik uruknya kondisi mental terutama ditentukan oleh pemikiran anak itu sendiri. Seperti kata pepatah, “keluar dari lumpur kotor tapi tidak ternoda” (tidak terpengaruh oleh lingkungan yang bagaimanapun buruknya), anak-anak tidak akan mudah terpengaruh oleh ganguan lingkungan sekitar ketika mereka memfokuskan perhatiannya pada penddidikan dan inilah alasannya kita bisa melihat ada anak-anak yang tetap belajar dalam beberapa suasana yang kacau. Jika anak-anak bisa memfokuskan energi dan pikirannya pada pembelajaran, maka meskipun dalam kondisi materi yang tidak begitu baik juga tidak ada efeknya. Inilah isi pokok membiarkan anak-anak menciptakan sendiri lingkungan belajarnya.

Mengapa begitu ? Karena anak-anak tidak memiliki sumber keuangan, adalah mustahil menyuruh mereka menciptakan sendiri kondisi material dalam pembelajaran. prasyarat hidup sekarang ini juga tidak perlu anak-anak memikirkan materi pembelajarannya. Jadi menyuruh anak-anak menciptakan lingkungan belajar sendiri itu, pada hakikatnya adalah meminta anak-anak untuk memfokuskan energi dan pikirannya pada pembelajaran.

Sementara itu, ada sejumlah orangtua yang membawa anaknya ke tempat kerja, membiarkan anaknya mendengarkan orang dewasa ngobrol. Ini tidak ada manfaatnya bagi anak-anak. Tenang dan tidak ada gangguan, merupakan aspek penting dalam lingkungan belajar anak-anak. Tidak ada gangguan, termasuk aspek-aspek spiritual, aspek materi dan aspek-aspek lainnya.

Menonton TV, bermain game online, berbicara panjang lebar dengan teman-teman dan sebagainya, dimana dalam hal ini juga akan menyebabkan gangguan pada anak-anak. Mungkin dalam benak anak-anak akan berpikir : mengapa ibu dan ayah selalu boleh nonton TV, internetan, chating, sementara saya tidak boleh ? Jadi sekadar mengingatkan pada Anda selaku orangtua, di saat Anda menyuruh anak-anak untuk fokus pada studi, harap perhatikan kata-kata dan perbuatan Anda sendiri, jangan sampai Anda sendiri menjadi sumber gangguan terbesar yang justru memengaruhi belajarnya anak-anak. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular