Orangtua pada masyarakat sekarang bersedia melakukan apa saja untuk anak-anaknya, lebih banyak menggantikan anaknya melakukan sejumlah pekerjaan, agar buah hatinya itu tidak perlu bekerja terlalu keras.

Kita lupa bahwa jalan yang berliku-liku itu sebenarnya juga merupakan salah satu cara pembelajaran anak. Pengetahuan berharga itu baru akan terlihat setelah menempuh perjalanan yang sulit (upaya keras), lagipula hasil kerja keras sendiri itu rasanya akan sangat manis setelah mengecap getirnya. Tapi sebagian besar orangtua sekarang berpandangan terbalik, justru mengambil kesempatan anak-anak mendapatkan pengalaman dari kegagalannya itu, dan juga tidak memberi kesempatan anak-anak dalam membuktikan kemampuannya sendiri.

Kebiasaan anak- anak yang sebentar-sebentar minta bantuan orang dewasa, mudah menyerah terhadap suatu tantangan seperti ini sangat jelas seusai sekolah. Ketika anak-anak menemui masalah yang tidak bisa dipecahkanya, mereka acapkali menyerah dan menunggu bantuan orang dewasa, tidak berusaha mencari (berpikir) sendiri solusi atau pemecahannya.

Bagaimana agar anak-anak belajar menghadapi situasi sulit

Pembelajaran “latihan menghadapi situasi sulit” merupakan bagian integral dari pendidikan mutu, menyerap pendidikan “keras” (belajar menghadapi kesulitan) di masa kanak-kanak, mencerminkan pembaharuan dalam konsep pendidikan.

Dengan membiarkan anak-anak menerima / menjalani “latihan menghadapi situasi sulit”, dapat membantu mengembangkan kekuatan, ketahanan, kecepatan, ketangkasan, keselarasan, fleksibilitas anak-anak dan kualitas fisik lainnya. Kemampuannya beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi situasi sulit, hal ini dapat membantu mengembangkan kebiasaan mereka agar bisa dengan tenang memikirkan saat menghadapi situasi sulit.

Menjalani “latihan menghadapi situasi sulit” seyogyanya juga merupakan satu “pelajaran wajib” dalam proses pertumbuhan anak-anak. Lalu, bagaimana menerapkan “pelajaran wajib”ini ?

Ahli Parenting merekomendasikan beberapa cara berikut ini :

Memberi dorongan (semangat) mengatasi kesulitan, mengembangkan keberanian menghadapi kegagalan

Ada anak-anak yang dengan mudah bereaksi pasif (pasrah) saat menghadapi kesulitan, tidak bergairah/semangat), kemudian mengambil jalan mundur. Untuk mengubah gejala ini, maka perlu mengajarkan pada anak-anak agar mengambil sikap yang benar, berani menghadapi situasi sesulit apa pun, dan tantang kesulitan itu di kala mereka menghadapi kesulitan. Misalnya, ketika anak-anak takut ketinggian saat mendaki bukit, takut terjatuh, maka kita harus memberi dorongan semangat padanya : Jangan takut, kamu pasti bisa ! Apalah artinya kalau hanya jatuh ke bawah?” Kamu memang anak yang berani!

Banyak remaja putri takut berjalan di atas balok keseimbangan, takut berenang, maka di saat demikian, kita harus memberi semangat pada mereka .Ketika anak-anak terjatuh, biarkan ia bangun dan berdiri sendiri, orang dewasa umumnya tidak perlu membantunya berdiri dan menghiburnya, sehingga dengan demikian, anak-anak akan secara bertahap membangun kepercayaan dirinya. Ketika mereka berhasil mengatasi kesulitan secara berturut-turut, mereka akan bertambah berani, membangkitkan keinginannya untuk mengatasi kesulitan, sehingga rasa takut itu pun akan lenyap, dan meningkatkan rasa percaya dirinya.

Sengaja menciptakan hambatan, memupuk kemampuan menghadapi kegagalan

Kesulitan, kegagalan dan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dalam hidup itu merupakan hal-hal yang kerap terjadi, tapi, mengapa masih dengan sengaja menciptakan kesulitan itu ? Karena dalam perjalanan pertumbuhan, selalu tak terelakkan anak-anak akan menghadapi kesulitan, hambatan. Jika anak-anak sehari-hari terbiasa berjalan di atas jalan yang datar, terbiasa mendengar kata-kata yang enak didengar telinga, terbiasa mengerjakan hal-hal dengan lancar tanpa hambatan, namun, begitu mereka menghadapi kesulitan, maka mereka menjadi tidak terbiasa, sehingga mereka pun menjadi bingung dan tak berdaya, menjadi tegang, dan mudah menyebabkan kegagalan.

Jadi, guru dan orangtua secara sengaja menciptakan beberapa kendala dalam hidup dan pembelajaran sehari-hari pada anak-anak. Saat mengatur hambatan itu, harap perhatikan pendidikan terkait itu terarah dan bersifat pencegahan, membentuk aktivitas penghalang yang ditargetkan. Selain itu, guru dan orangtua perlu memperhatikan karakteristik usia anak-anak, tingkat kesulitan yang diatur itu harus bisa diatasi oleh anak-anak melalui kerja kerasnya.

Misalnya, ketika anak-anak tidak bisa mengambil benda yang diinginkan, guru dan orangtua tidak perlu segera mengambilkan untuknya, tapi biarkan ia menguras otaknya (berpikir), bagaimana untuk bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Singkatnya, guru dan orangtua perlu secara sengaja mengatur hambatan dalam rutinitas sehari-hari dalam permainan anak-anak.

Menggunakan kehidupan nyata, meningkatkan kemampuan hidup mandiri

Tujuan dari pendidikan menghadapi kegagalan adalah agar supaya anak-anak memiliki kemampuan untuk hidup secara mandiri dalam kehidupan nyata. Mampu menghadapi segala bentuk kegagalan agar bisa lebih baik mengatasi masalah.

Pola pendidikan bangsa Amerika bagi anak-anaknya patut dijadikan rujukan, menurut para ahli pendidikan Amerika, bahwa orangtua berperan penting dalam mengembangkan kemampuan anak-anaknya menghadapi kegagalan dan mengatasi segala sesuatu secara mandiri. Sejak kecil, anak-anak Amerika sudah tinggal di kamar mereka sendiri secara terpisah, mereka melakukan aktivitas sendiri, melatih ketrampilan hidup mandiri.

Oleh karena itu, anak-anak sejatinya sejak usia 3 tahun, orangtua sudah seharusnya meminta atau menyuruh anak-anak untuk tidur sendiri di malam hari, menyuruhnya makan sendiri, ke toilet, berpakaian, merapikan tempat tidur, merapikan mainan. Selain itu, permintaan orangtua dan guru harus seragam, begitu juga dengan sikap dalam mendidik harus seragam, lakukan latihan secara berulang setiap hari, dan jelaskan secara berulang.

Anda bisa menyuruh anak-anak sejak kecil untuk ikut membantu mengerjakan pekerjaan di rumah, misalnya membersihkan kamar, membantu ayah / ibu membeli sesuatu dan sebagainya. Dalam proses ini, mereka kerap akan menghadapi kesulitan atau kekecewaan, jadi, orangtua sebaiknya meminta mereka untuk memecahkan masalahnya secara mandiri, dan dalam proses mengesampingkan kegagalan alami ini, akan membuat mereka secara lebih lanjut menjadi matang (dewasa) dan meningkatkan kemampuannya dalam mengatasi sesuatu secara independen.

Melalui “Latihan menghadapi situasi sulit” sebagaimana ulasan diatas, perjalanan hidup anak-anak kita di kemudian hari, pasti akan dapat mengatasi setiap kesulitan dan kegagalan dengan semangat juang yang gigih. (Bayvoice/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular