Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku kecewa atas keputusan Pengadilan Negeri Ambon yang memberikan vonis ringan atas kapal MV Hai Fa. Kapal ini merupakan yang terbesar dalam catatan penangkapan kapal ikan ilegal oleh KKP.

“Setelah kami teliti, hasilnya sangat mengecewakan,” kata Menteri Susi beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menurut Susi, tuntutan awal Jaksa di Pengadilan Negeri Ambon dinilai ganjil. Apalagi kapal besar dengan kapasitas sekitar 4.306 GT itu diduga mencuri ikan di perairan Indonesia. Menteri Susi menyatakan semestinya keputusan pengadilan harus tegas sebagai wujud melindungi sumber daya perikanan Indonesia.

Menteri Susi mengungkapkan kapal MV Haifa dalam melakukan aksinya sudah berkali-kali melakukan pergantian bendera. Pada saat melakukan kegiatan 2004 lalu, kapal itu berbendera Tiongkok, kemudian pada 2006 berbendera Panama dan kali ini menggunakan bendera Indonesia.

Susi mengatakan cara pergantian bendera merupakan modus yang digunakan untuk menipu petugas. Mereka pun mempekerjakan warga negara Indonesia dalam kapal tersebut. Namun demikian awak kapal itu lebih banyak berkewarganegaraan Tiongkok.

Melansir dari Antara, Majelis hakim Pengadilan Perikanan Kota Ambon, Maluku, hanya menjatuhkan vonis terhadap Nahkhoda kapal, Zhu Nian Lee, dengan denda Rp 200 juta subsider enam bulan penjara, Rabu (25/3/2015). Putusan itu sama dengan tuntuan jaksa yang dibacakan pekan lalu.

Tidak hanya vonis ringan, Majelis Hakim memutuskan kapal jumbo itu dikembalikan kepada nakhoda. Hakim dalam amar putusan, hanya memvonis nakhoda karena mengangkut ikan hiu koboi dan ikan hiu martil. Vonis hakim juga terkait karena kapal tidak mengantongi dokumen Surat Izin Kapal Pengangkutan Ikan (SKPI).
Data KKP, kapal yang ditangkap akhir Desember 2014 lalu memiliki panjang sekitar 100 meter. Kapal pengangkut itu saat ditangkap ternyata tidak memiliki Surat Layak Operasi (SLO). Petugas juga menemukan 900 ton berbagai tangkapan laut mulai dari ikan dan udang.

Bahkan menurut KKP, hasil sitaan menunjukkan dalam tangkapan kapal itu ditemukan hiu martil dan hiu koboi yang dilarang ditangkap oleh pemerintah Indonesia. Disebutkan oleh Majalah Tempo, hasil dugaan penjarahan ikan itu akan diekspor ke Tiongkok. Tiga perusahaan yakni PT Antarticha Segara Lines, PT Avona Mina Lestari dan PT Dwikarya Reksa Abadi terlibat dalam persekongkolan.

Share

Video Popular