Jakarta – Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Anak menggelar Gerakan 1000 lilin untuk Angeline (8) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (11/6/2015). Gerakan ini diharapkan sebagai tonggak sejarah bangsa Indonesia peduli anak.

Aksi ini sebagai keprihatinan kepada Angeline yang sebelumnya disebut hilang hingga akhirnya ditemukan tewas di Denpasar, Bali. Dia ditemukan polisi tewas dalam kondisi masih memeluk boneka.

Anggota Satgas Perlindungan Anak Ilma Sovri Yanti sebagai penyelenggara Gerakan 1000 lilin untuk  Angelina mengatakan tewasnya Angeline menjadikan catatan gelap nasib tragis anak Indonesia. Bahkan hingga saat ini kekerasan demi kekerasan masih dialami oleh anak Indonesia.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Charliyan yang turut hadir dalam kegiatan ini turut menyampaikan prihatin atas tewasnya Angeline. Dia berharap tewasnya Angeline menjadi tonggak sejarah agar seluruh masyarakat bangsa lebih memperhatikan kepedulian anak.

Menurut Anton, pola asuh anak pada masa mendatang sudah harus diurus oleh negara. Apalagi terkait adopsi anak seseorang semestinya menggunakan pola asuh yang baik. Adopsi anak seharusnya meningkatkan martabat anak, bukan sebaliknya justru merendahkan martabat anak.

Angeline bocah cantik yang duduk di kelas II SD itu ditemukan terkubur di halaman belakang rumahnya, Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Dia ditemukan tidak jauh dari rumahnya dekat kandang ayam oleh pihak kepolisian.

Sebelumnya pada 16 Mei 2015, oleh kaka angkatnya, Yvonne memberitahukan bahwa Angeline hilang. Bahkan pihak keluarga angkat menyebarkan brosur dan berkampanye di media sosial tentang pencarian Angeline yang hilang.

Aksi ini menarik perhatian sejumlah pejabat untuk mendatangi rumah orangtua angkat Angeline. Namun kedatangan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi, Yudy Chrisnadi dan Menteri Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan, Yohanna Yambise mendatangi, rumah orang tua angkat Angeline namun ditolak.

Setelah jasad Angeline ditemukan, Polisi bergerak cepat untuk mengusut kasus tewasnya Angeline. Kapolda Bali, Irjen Ronni Sompie memimpin langsung pengangkat jasad Angeline yang ditemukan terkubur dalam lubang ditutupi pohon pisang.

Polisi langsung memeriksa ibu angkat Angeline, Margriet Megawe. Pihak yang turut diperiksa adalah dua kakak angkatnya, dua penghuni kos dan seorang petugas keamanan yang disewa pihak keluarga. Pemeriksaan terhadap mereka masih berlangsung hingga saat ini.

Dalam kasus ini, pembantu keluarga angkat Angeline, Agustinus Tai Mandamai mengaku membunuh Angeline. Tidak hanya itu, Agus juga memperkosa Angeline. Hingga saat ini baru Agus yang ditetapkan sebagai tersangka, sementara keterlibatan pihak keluarga masih dalam penyelidikan oleh pihak kepolisian.

Share

Video Popular