Jakarta – Survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and consulting (SMRC) menunjukkan masyarakat Indonesia tetap percaya atas kinerja presiden Joko Widodo. Meski demikian, sekitar 56 persen warga menganggap kurang/tidak puas atas kinerja Jokowi.

Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan mengatakan hasil survei menunjukkan meskipun warga kurang/tidak puas atas kinerja Jokowi, 68 persen warga menganggap Jokowi tidak boleh diturunkan sebelum pemilu 2019. Hanya 13,2 persen warga menganggap Jokowi harus diturunkan.

“Ini menunjukkan Indonesia memiliki warga negara yang kritis tapi tidak anarkis,” katanya dalam temuan survei di Kantor SMRC, Jakarta, Kamis (9/7/2015).

Menurut dia, hasil ini menunjukkan rakyat mendesak agar kinerja pemerintah diperbaiki dengan tetap menjaga proses politik secara konstitusional. Namun demikian, Presiden Jokowi harus mencegah kondisi nasional terus memburuk, terutama di bidang ekonomi agar masyarakat tidak menjadi anarkis dan meruntuhkan demokrasi.

Survei secara lengkap menunjukkan pemerintah harus sadar bahwa masyarakat cenderung tidak puas dengan kinerja pemerintahan Jokowi-JK. Sekitar 31,5 persen warga menyatakan kondisi ekonomi Indonesia sekarang lebih buruk daripada tahun lalu, sementara yang menyatakan lebih baik hanya 24 persen.

Segi politik, 37,5 persen warga menyatakan buruk daripada tahun lalu. Sementara yang menyatakan lebih baik hanya 21,6 persen. Sedangkan dalam hal huku, 38 persem warga menyatakan kondisi hukum Indonesia buruk sementara yang menyatakan baik hanya 32 persen.

Hasil survei tepatnya ada sekitar 56 persen warga menganggap kurang/tidak puas dengan kinerja Jokowi. Sementara yang menyatakan sangat/cukup puas hanya mencapai 41 persen. Dari segi kepercayaan, 55 persen masyarakat Indonesia cukup/sangat yakin Jokowi mampu memimpin Indonesia, sedangkan yang kurang yakin/tidak yakin mencapai 48 persen.

Survei diangkat dengan tajuk “Kinerja Presiden Jokowi, Evaluasi Publik Nasional Setahun Terpilih Menjadi Presiden.” Populasi dipilih secara random yakni 1220 responden. Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel – 2,9 persen pada tingkat kepercayaan  95 persen.

Responden survei terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewancara yang telah terlatih. Sebanyak 20 persen dari responden terpilih didatangi kembali oleh supervisor. Hasil quality kontrol tidak ditemukan kesalahan berarti. Waktu wawancara lapangan 25 Mei-2 Juni 2015. Ada pun biaya survei berasal dari kas dana SMRC.

Pengamat politik, Salim Said mengatakan hasil survei menunjukkan posisi Presiden Joko Widodo dan pemerintahannya mengalami kemerosotan popularitas. Hasil ini terjadi hampir setahun setelah dilantik.

Menurut dia, posisi Jokowi yang terbilang sebagai A New Kid on The Block dia adalah fenomen baru dalam belantika politik Indonesia. Jokowi tidak memiliki rekam jejak pada tataran politik nasional sebelum memasuki Istana Negara.

Hingga kemudian, lanjut Salim, ketika terpilih menjadi Presiden bermacam pihak mencoba bersaing dan mendorong orang-orang mereka menjadi pembantu Presiden. Sebagai Capres dan Presiden yang tidak menguasai partai, Jokowi dinilai cenderung mengalah kepada para pembesar partai politik yang mendukungnya.

Menurut pengamat politik senior itu, akibatnya sebagian besar para menteri serta pejabat penting lainnya pada sekitar Jokowi adalah orang yang tidak dipilih sendiri oleh Jokowi. Oleh karena itu, Jokowi harus menjadi dirinya sendirinya serta bersikap dan bertindak berani.

“Kalau tidak berani, dia tidak akan pernah dirinya sendiri di depan ketua partai pendukungnya yang cenderung mengendalikannya,” katanya

– See more at: http://www.erabaru.net/detailpost/survei-smrc-warga-tetap-percaya-kinerja-jokowi-meskipun-melemah#sthash.4xYnGrVy.dpuf

Share

Video Popular