Cao Changqing

Bursa saham RRT terus anjlok, meskipun terjadi sedikit rebound, tapi kepanikan pasar ini akan bertahan selama beberapa waktu. Mengenai anjloknya bursa, para pakar saham dan ekonom melontarkan sejumlah alasan teknis, tapi betapapun kompleksnya permasalahan, faktor yang paling fundamental adalah: terjadinya lonjakan dramatis yang tidak masuk akal selama setahun terakhir, pasti kemudian akan terjadi “koreksi”, dengan kata lain akan “terus merosot” untuk merefleksikan bahwa kenaikan sebelumnya tidak sepantasnya terjadi.

Dengan indeks saham kota Shanghai sebagai contoh, selama beberapa tahun terakhir bursa bergerak fluktuatif di level 1800 hingga 2100 poin, dan tidak pernah menembus “Zona Koreksi Kotak”. Hingga Juli 2014 lalu, mendadak menembus di atas 2100 poin, lalu tak terbendung hingga menembus ke 3000 poin di akhir tahun. Kondisi bursa saham Tiongkok yang mengalami kelesuan selama bertahun-tahun, memang tidak heran ketika kondisi membaik, grafik akan melonjak ke level 3000 poin, hal ini bisa dipahami dan tidak bertentangan dengan kondisi ekonomi RRT. Tapi yang tidak lazim adalah, sejak awal tahun (2015) bursa saham RRT terus memanas, indeks saham mencapai 5178 poin (pertengahan Juni). Ini sangat tidak masuk akal. Karena dalam 12 bulan indeks bursa saham melonjak 150%, juga sangat tidak relevan dengan kondisi ekonomi RRT, skala ekonomi RRT secara keseluruhan dan imbal hasil perusahaan sama sekali tidak mencapai pertumbuhan 150% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jadi bongsornya bursa efek RRT sebenarnya hanya “balon udara”, yang tidak ditopang dengan kondisi ekonomi yang benar-benar bongsor. Balon udara itu hasil ditiup sampai membesar, begitu ada peluang atau tiba waktunya, balon itu akan bocor, anjloknya bursa sekarang adalah suara mendesis kebocoran balon tersebut.

Mengapa bursa efek RRT pernah melonjak tanpa batas? Ini adalah hal yang harus dipertanggung jawabkan oleh pemerintah RRT. Bursa efek RRT selama bertahun-tahun dalam kondisi “bearish” alias tengkurap, pemerintahan Xi Jinping mencoba untuk mengubah situasi, dengan beranggapan bahwa bergairahnya bursa efek akan meningkatkan stabilitas masyarakat, sehingga menggairahkan bursa efek pun menjadi bagian dari kebijakan “menjaga stabilitas” pemerintah. Sehingga ada komentator yang menyebut bursa efek RRT sebagai “bursa politik”.

Untuk merangsang bursa, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan “profit baik”. Para spekulan kawakan mendapat informasi akurat tentu dengan tajam bisa memprediksi atau diberitahu “orang dalam” partai, sehingga memborong saham (pada waktu itu indeks bursa di level 2100 poin), sehingga bursa efek menjadi bergairah, pemerintah seperti matador yang membawa kain merah berupa kebijakan “profit baik”, banteng bursa pun terus menyeruduk ke kiri dan menerjang ke kanan secara menggila. Disemangati lagi dengan lagu-lagu “matador” hingar bingar — surat kabar “People’s Daily” memberitakan kabar baik tersebut, surat kabar “Global Post” memuat kabar positif, para ahli di pemerintahan ikut menambahkan bumbu berita, jadinya bursa Tiongkok sebagai bursa yang “bullish” akibat ulah manusia, hawa bullish itu terus membubung tinggi tak terbendung hingga mencapai level 5178 poin.

Ketika balon ini nyaris meletus dan suara mendesis bocor mulai terdengar, pemerintah lagi-lagi melakukan intervensi terhadap bursa dengan melontarkan semakin banyak kebijakan “profit baik”, bahkan reksadana saham BUMN mengeluarkan pernyataan bersama akan masuk ke bursa dan membeli saham lagi untuk mendongkrak bursa. Tapi kebijakan tersebut hanya efektif untuk jangka pendek, efek jangka panjangnya diragukan banyak pihak, karena negara di seluruh dunia tidak ada satupun yang melakukan intervensi dengan cara masuk ke bursa secara langsung seperti RRT. Intervensi secara langsung seperti ini mungkin akan menimbulkan dampak yang lebih buruk lagi.

Sebagian orang menegaskan, ketika perekonomian AS memburuk, pemerintah juga pernah melakukan aksi “penyelamatan bursa”, Presiden Obama pernah melakukannya, mengapa RRT tidak boleh melakukannya? Aksi penyelamatan bursa di AS adalah menyelamatkan perusahaan, bukan menyelamatkan bursa efek, dan bukan langsung mengeluarkan dana segar untuk dimasukkan ke bursa saham, keduanya sama sekali berbeda. Meski demikian, tindakan Obama menggunakan uang negara untuk menyelamatkan 3 perusahaan otomotif besar dan perusahaan property yang sarat dengan dana pemerintah mendapat kecaman luas, hasilnya tidak memuaskan. Pemerintah tidak intervensi langsung, ekonomi AS dibiarkan anjlok hingga ke dasar dan rebound kembali, kini ekonomi AS semakin baik. Seperti ke-3 perusahaan otomotif tersebut, seandainya pemerintahan Obama waktu itu tidak memberi bantuan kepada ketiganya, dan membiarkannya bangkrut, finansial perusahaan tersebut akan restrukturisasi, manajemen juga akan berubah, dengan demikian berbagai kesepakatan dengan Serikat Buruh yang berhaluan kiri akan bisa ditiadakan (Serikat Buruh menggunakan aksi mogok kerja memaksa perusahaan otomotif menambah fasilitas bagi pekerja yang mencekik kepentingan ekonomi perusahaan).

Seperti resesi ekonomi yang dialami AS di era tahun 1930-an, seandainya Presiden Roosevelt yang berhaluan kiri tidak menerapkan “kebijakan baru” intervensi ekonomi secara menyeluruh dan membiarkan ekonomi anjlok ke dasar, membiarkan pasar menyelaras dengan sendirinya, maka resesi ekonomi di AS tidak mungkin akan terus berlanjut hingga belasan tahun, dan sejak awal akan mengalami rebound. Akibat intervensi pemerintahan Roosevelt pada waktu itu, selama 8 tahun ia menjabat sebagai presiden, tingkat pengangguran AS lebih tinggi daripada sebelumnya (tahun 1931 sebesar 15.9% dan tahun 1939 menjadi 17.2%), karena Roosevelt telah menaikkan pungutan pajak dari tertinggi sebesar 24% di tahun 1929, menjadi 79% (naikc 55%). Pungutan pajak yang tinggi, kesejahteraan tinggi, defisit besar, adalah penghalang terbesar perkembangan ekonomi. Baik pada saat itu, ataupun pada masa setelah itu, banyak pakar menyatakan, kebijakan intervensi ekonomi yang telah diterapkan oleh pemerintahan Roosevelt adalah penyebab utama ekonomi AS tidak bisa melepaskan diri dari resesi ekonomi berkepanjangan.

Lalu apakah perusahaan harus dibiarkan bangkrut begitu saja? Benar sekali. Tapi bangkrutnya perusahaan bukan berarti pasti akan gulung tikar dan ditutup, justru kebanyakan yang terjadi adalah perusahaan melakukan restrukturisasi. Seperti Uniter Airlines dan Delta Airlines di Amerika, setelah bangkrut keduanya restrukturisasi, kemampuan dan keuntungan ekonomi pun meningkat. Sementara 3 perusahaan otomotif tersebut, jika mereka menyatakan diri bangkrut sesuai peraturan ekonomi AS, maka jajaran manajemen dan pemilik akan diganti, dan kesepakatan semula dengan Serikat Buruh akan ditiadakan, termasuk hutang pun direstrukturisasi. Perubahan yang menyeluruh seperti ini baru akan bermanfaat bagi perusahaan. Singkat kata, operasional perusahaan atau bursa efek seharusnya menyelaraskan diri dengan ritme ekonomi. Tidak boleh mengandalkan campur tangan pemerintah, terlebih lagi tidak seharusnya seperti tindakan pemerintah RRT yang berusaha menyelamatkan bursa efek secara langsung dengan mengerahkan uang negara.

Setelah upaya menyelamatkan bursa gagal, pemerintah RRT akan meniru “kiat jitu Yunani”, yakni melimpahkan tanggung jawab dan kesalahannya pada pihak luar. Pada situs berita milik pemerintah telah bermunculan artikel “teori konspirasi” kekuatan asing dan perusahaan pendanaan luar negeri menggoreng bursa RRT dan meraup untung. Pernyataan seperti ini adalah metode yang lazim digunakan mempermainkan rakyat dan melindungi kekuasaan partai, cara lama yang usang, entah masih berguna untuk membodohi berapa banyak rakyat.

Fakta sederhananya adalah: kali ini hanya dalam tempo 3 minggu saja, dana di bursa efek RRT telah menguap sebesar RMB 21 trilyun, atau setara USD 3,2 trilyun. Kekuatan finansial Barat manapun tidak ada satupun yang mampu menggoreng dana sebesar itu. Sebesar apakah dana senilai USD 3,2 trilyun itu? Sebagai gambaran, RRT adalah negara ekonomi kedua terbesar di dunia, tahun 2014 lalu PDB-nya hanya USD 10 trilyun. Hanya 3 minggu dana di bursa efek RRT menguap sebesar 1/3 dari total PDB-nya. Tidak satupun perusahaan di Barat mampu mengumpulkan dana sebesar itu, bahkan pemerintah RRT sendiri tidak akan mampu menanggungnya. Total cadangan devisa RRT hanya USD 3,843 trilyun (hingga akhir 2014), seandainya seluruhnya dikeluarkan, hanya cukup untuk menyelamatkan penguapan dana di bursa efek RRT selama 3 minggu.

Apalagi, dilihat dari sejarah bursa efek RRT selama beberapa tahun terakhir, beberapa kali upaya pemerintah mendongkrak bursa saham berdampak tidak baik. Tahun 2007 lalu ketika bursa efek RRT sedang bullish (naik), sempat mencapai level 6124 poin. Tapi kemudian anjlok hingga hanya 1600 poin. Kebijakan penyelamatan bursa efek yang ditempuh pemerintah sama sekali tidak efektif.

Kemudian bursa rebound, dari 1600 poin naik ke level 3400 poin. Lalu anjlok lagi, pemerintah kembali berusaha menyelamatkan bursa, tapi tidak berdampak apapun, akhirnya bursa anjlok hingga level 1800 poin, kemudian fluktuatif di level 2000 poin, hingga Juli 2014 lalu, ketika pemerintah mengusung kebijakan “profit baik” bursa kembali meroket secara tidak wajar.

Dilihat dari dua kali lonjakan bursa efek RRT sebelumnya, diperkirakan upaya pemerintah RRT menyelamatkan bursa kali ini akhirnya akan sulit berhasil. Jadi walaupun bursa efek RRT ada kemungkinan rebound besar-besaran, tapi lebih mungkin akan terjun bebas.

Dalam 3 kali guncangan dahsyat bursa efek di RRT selama 8 tahun terakhir, pemain utama di baliknya adalah pemerintah RRT, gairah bursa diciptakan oleh pemerintah yang menyebabkan lonjakan drastis yang tidak lazim, yang kemudian akan diiringi dengan koreksi besar-besaran. Dalam proses ini, yang meraup untung adalah kalangan pejabat partai yang mendapat informasi “dalam”, yang dirugikan adalah para investor dari kalangan rakyat biasa.

Selain intervensi pemerintah, satu lagi masalah besar di bursa efek RRT adalah psikologi tak sehat di kalangan rakyat penggoreng saham. Menurut berita, di RRT terdapat lebih dari 100 juta warganya merupakan penggoreng saham, yang mengaitkan 300-400 juta jiwa; mengabaikan orang tua dan anak-anak, berarti dari setiap 4-5 orang warga RRT ada 1 orang diantaranya adalah penggoreng saham. Sedangkan bursa efek AS adalah ajang investasi, sebanyak 51% keluarga AS menanamkan dananya di bursa efek, tetapi mereka bukan penggoreng saham, melainkan adalah investor saham. Investasi merujuk pada masa depan ekonomi suatu perusahaan, bukan memprediksi mimic wajah pemerintahan (yang menyelamatkan bursa dengan uang negara). Istilah “menggoreng” di RRT sudah sangat melegenda, menunjukkan bursa efek RRT sudah berubah menjadi kasino, menjadi tempat mengadu peruntungan, menggoreng, bahkan ajang berjudi.

Para analis Barat juga telah melihat kondisi ini, sehingga mereka menyebut bursa efek RRT sebagai “Casino Capitalism”. Perjudian memiliki dua karakter utama, yang pertama adalah tidak bisa diprediksi, dan yang kedua adalah lebih banyak kalah daripada menang. Bahkan ada ungkapan bahwa judi adalah “10% menang, 20% seri, dan 70% kalah”. Kebanyakan orang akan kehilangan uangnya, sehingga kasino bisa terus meraih keuntungan. Sedangkan bursa efek jika berubah menjadi kasiono, maka selain sangat menakutkan, ia betul-betul adalah bencana.

Tapi bursa efek RRT telah berubah menjadi kasino yang unik, segelintir penguasa yang memiliki informasi dalam terus meraup keuntungan dan kaya mendadak, bursa efek telah menjadi “ajang memutar dan mencuci uang” bagi mereka, sebagian kecil investor biasa yang mujur mungkin bisa seri atau mendapat sedikit untung, tapi kebanyakan mengalami kekalahan, uang yang telah masuk tidak bisa keluar lagi, atau bahkan ludes tak tersisa.

Sebenarnya bursa efek RRT bahkan tidak bisa menandingi kasino di negara Barat. Seperti kasino di Las Vegas yang terkenal, pemerintah setempat menerapkan aturan dan pengawasan yang ketat (ada Casino Industry Authority). Pemilik kasino yang berbuat curang akan dipecat dari industri kasino, dan selamanya tidak boleh masuk ke industri ini lagi. Para karyawan kasino yang berbuat curang juga akan dihukum berat. Sedangkan RRT adalah ajang konspirasi pejabat dengan pengusaha, tidak ada kebebasan pers, tidak ada pergantian partai, tidak ada ekonomi pasar yang sesungguhnya, jadi sama sekali tidak transparan, apalagi pengawasan yang efektif. Akibatnya bisa dibayangkan, bursa efek RRT sekarang menjadi transaksi informasi dalam, jika ada pemilik kasino mengakali mesin judi, yang diuntungkan adalah para pejabat, yang dirugikan adalah investor biasa. Pada pokoknya, pemerintah PKT-lah pelaku utama bergolaknya bursa efek RRT.

Dampak dari anjloknya bursa efek RRT terhadap perekonomiannya jauh lebih kecil daripada dampak psikologisnya pada masyarakat. Kondisi ini akan menyebabkan masyarakat menjadi semakin tidak percaya pada pemerintah, semakin tidak puas terhadap pejabat yang memanfaatkan kondisi ini untuk meraup untung, sehingga akan timbul iri dengki bahkan kebencian. Akibatnya justru akan semakin bertentangan dengan tujuan pemerintah yang berniat “menjaga stabilitas” dengan menyelamatkan bursa, akan tetapi, semakin dijaga semakin tidak stabil. (sud/whs/rmat)

 

Share
Kategori: EKONOMI TIONGKOK

Video Popular