Li Xiao-qing

Di bawah penyelamatan besar-besaran oleh otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT), bursa saham Tiongkok pekan ini kembali pasang surut. Investor pasar saham Tiongkok sekarang telah memahami terkait otoritas Tiongkok yang berusaha mencegah pasar saham agar tidak merosot dan pola penyelamatan bursa saham dari tim nasional (Bank of China, Chinese National Petroleum dan BUMN Tiongkok lainnya-red). Banyak investor mengurangi kuota sahamnya atau melakukan perdagangan jangka pendek, dalam kondisi seperti ini, PKT telah menjadi mesin ATM pasar saham, dan kini ada desas desus yang mempertanyakan terkait berapa lama lagi tim nasional sanggup menopang pasar saham tersebut ?

Kepercayaan terhadap pasar saham bagi investor Tiongkok sekarang sangat rendah, terjadi arus dana keluar secara besar-besaran di bursa saham, dan pasar maupun investor sekarang telah mengetahui pola kerja PKT terkait penyelamatan bursa saham. Artinya pihak manajemen PKT akan mencegah bursa saham jatuh ke posisi terendah. Jika anjlok, atau saat SSE Composite Index tergelincir ke level 3,600 poin, maka PKT akan segera turun tangan berusaha menyelamatkan bursa saham terkait, untuk mencegah indeks saham tersebut jatuh di level 3,507 poin pada penutupan 8 Juli sebelumnya.

PKT terjebak dalam dua kesulitan terkait penyelamatan bursa saham

Melansir laman “Wall Street Journal”, Jumat 31 Juli 2015 lalu, SSE Composite Index ditutup turun 1.1% ke level 3,663.73 poin. Indeks tersebut jatuh 10 % pekan ini, sementara pada awal Juli lalu jatuh 14%, merupakan kinerja bulanan terburuk sejak Agustus 2009.

Zhao Mile, analis dari Shenzhen Lyric Pioneer Technology Co., Ltd memperingatkan dampak dari intervensi pemerintah, termasuk memicu spekulasi lebih lanjut dari fund manager pribadi. Mereka sekarang berusaha untuk menemukan waktu pembelian setiap hari dari dana milik negara.

“Saya pikir, pemerintah sebaiknya melangkah mundur selangkah, biarkan pasar yang menentukan berapa banyak harus turun atau naik,” kata Zhao.

Resiko yang dihadapi pemerintah PKT saat menyelamatkan bursa saham, setiap saat otoritas setempat mendorong harga saham yang lebih tinggi, selalu ada segerombolan investor yang menjual sahamnya dalam Break Even Point (suatu kondisi dimana dalam suatu operasi entitas bisnis tidak menghasilkan laba maupun mengalami kerugian), dan hal ini juga yang memukul kepercayaan pasar.

Saat ini, PKT menghadapi dilema di pasar saham, jika mengangkat pasar saham, investor ritel dan transaksi keuangan secara berturut-turut akan melakukan cash out (penarikan tunai). Sebaliknya, jika tidak mengangkat pasar saham, maka pasar saham akan anjlok seperti yang terjadi pada 27 Juli 2015 lalu. Dan jika terus seperti ini, PKT akan menjadi mesin ATM pasar saham, sehingga membeli atau tidak menjadi dilema tersendiri bagi PKT. (joni/rmat)

 

 

Share

Video Popular