Lin Shi-yuan

Demi menindak spekulan sebagai bentuk dukungan pasar saham yang sedang sakit, Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok membekukan akun transaksi yang berhubungan dengan Citadel Securities, yang merupakan adik perusahaan dari The Citadel Group Limited (CGL) yang berbasis di Amerika Serikat.

Laman Reuters, Senin (3/8/2015), menyebutkan bahwa Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok yang berada di garis depan aksi bailout pemerintah menyatakan perang terhadap pelaku short selling atau jual kosong (suatu cara untuk memperoleh profit dari penurunan harga dari sekuriti seperti saham atau obligasi). Dua bursa saham utama Tiongkok telah merosot 30% dibandingkan nilai puncak Juni lalu.

Karena dampak dari pelemahan ekonomi Tiongkok, sehingga berimbas pada Shanghai and Shenzhen stock Exchange yang kembali anjlok pada Senin lalu (3/8/2015). Sebuah survei swasta menyebutkan, bahwa manufaktur PMI-Purchasing Managers’ Index Tiongkok turun ke titik terendah dalam dua tahun terakhir, menghancurkan harapan kestabilan ekonomi.

Meskipun otoritas setempat mengakuisisi saham secara besar-besaran selama sebulan terakhir ini, tetapi ekonomi yang lemah telah meningkatkan tantangan yang dihadapi Beijing untuk mencoba mengembalikan kepercayaan investor.

Pekan lalu, Beijing mengalihkan fokusnya ke arah strategi perdagangan otomatis, dan menduga beberapa strategi hedge fund baik disengaja atau tidak telah mendistorsi harga demi meraih keuntungan.

Pernyataan The Citadel Group tidak mengatakan mengapa akun perdagangannya di Shenzhen stock exchange diskors, namun, menurut sumber dari dalam, bahwa komisi regulasi sekuritas Tiongkok sedang menyelidiki perannya dalam gejolak pasar.

Pihak The Citadel Group mengatakan, bahwa meraka telah 15 tahun berinvestasi secara aktif di Tiongkok, dan selalu mempertahankan dialog yang konstruktif dengan badan pengawas (regulator) terkait di Tiongkok.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa akun “Citadel (Shanghai) Trading” yang diskors itu milik anak perusahaan lokal dari Citadel Securities, yang dikelola oleh Guosen Futures Co Ltd. Sementara akun Citadel (Shanghai) Trading lainnya beroperasi normal.

Ini merupakan perusahaan asing pertama yang akunnya di Tiongkok itu ditangguhkan dalam aksi pemberantasan short selling saat ini.

Perusahaan asing menjadi target

Laman Reuters menyebutkan, bahwa Citadel bukan satu-satunya lembaga asing yang beroperasi di Tiongkok, beberapa tokoh dalam industri percaya bahwa perusahaan pengelola dana asing lainnya, terutama hedge fund yang menggunakan strategi kuantitatif, mungkin menjadi target-nya badan pengawas (regulator) sekuritas di Tiongkok.

Hingga detik ini, Shanghai dan Shenzhen stock exchange telah membekukan 38 akun perdagangan dengan alasan melanggar aturan perdagangan, termasuk Citadel (Shanghai) Trading.

Ketika terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan ancaman deflasi serta banyaknya utang perusahaan, upaya bailout Beijing yang kurang meyakinkan itu menyebabkan investor asing mempertanyakan kemampuan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam memastikan kestabilan keuangan.

Mereka juga mempertanyakan komitmen PKT terkait reformasi pasar bebas. Reformasi pasar dipandang sebagai cara yang penting dalam mengalihkan Tiongkok dari ekonomi berorientasi ekspor beralih ke perekonomian jasa layanan konsumen. Penindakan terhadap pelaku short selling dan strategi perdagangan otomatis diperluas hingga ke yurisdiksi di luar negeri.

Sumber terkait mengatakan, bahwa komisi regulasi sekuritas Tiongkok menekan broker Tiongkok dan asing di Hongkong dan Singapura untuk menyerahkan catatan perdagangan, dengan tujuan untuk menemukan oknum yang mengatur short position (Strategi jual-Posisi dengan profit yang dapat diperoleh saat penurunan harga market). (joni/rmat)

 

 

 

Share

Video Popular