Reporter Epoch Times: Huang Yun

Pengaduan Heboh: Shi Yongxin Telah Dicopot Status Bhiksu

Shi Zhengyi juga melaporkan bahwa Shi Yongxin sudah sejak lama dicopot status kebhiksuannya. Tiga “dokumen” (bukti) yang dipublikasikan oleh Shi Zhengyi terkait “dicopotnya status Shi Yongxin sejak dulu” yaitu: surat dari Master Shi Xingzheng selaku guru Shi Yongxin (tertanggal 10 Mei 1987, isinya mengenai berbagai kesalahan yang dilakukan Shi Yongxin di Biara Shaolin); surat jawaban dari Buddhist Association of China kepada Master Shi Dechan mengenai “relokasi” (pencabutan status bhiksu) terhadap Shi Yongxin (tertanggal 1 Februari 1988); surat pelaksanaan “relokasi” oleh Master Shi Dechan pada Shi Yongxin (tertanggal 23 April 1988).

Shi Zhengyi mengatakan, setelah Shi Yongxin menyucikan diri menjadi bhiksu di Biara Shaolin tahun 1983 lalu, ia telah direlokasi oleh mantan kepala biara Shaolin yakni Master Shi Xingzheng dan Master Shi Dechan karena mencuri artefak milik biara dan menggelapkan dana biara, dan ada dokumen resmi membuktikan pencabutan tersebut. Namun entah bagaimana Shi Yongxin yang tidak lagi berstatus bhiksu kemudian mendapatkan jabatan sebagai kepala biara Shaolin.

Menanggapi laporan bukti yang dibuat oleh Shi Zhengyi, Biara Shaolin menyatakan agar masyarakat menilai sendiri kebenarannya, Shi Yanzhi dari Komisi Kebiaraan Shaolin tidak berani lagi memberikan tanggapan. Menurut berita di thepaper.cn (situs milik harian Oriental Morning Post corong kubu Jiang Zemin yang terbit di Shanghai) Shi Yanzhi berharap pada pemerintah PKT agar membantu menyelesaikan masalah ini, dan tidak akan membuat terlalu banyak pernyataan untuk mengklarifikasi. Sampai berita dimuat, belum ada penguasa atau departemen terkait yang tampil menanggapi kebenaran dari “dokumen” (bukti) tersebut.

Kalangan luar berpendapat, persis seperti anggota gadungan PKT Jiang Zemin yang kemudian bisa menjadi pemimpin tertinggi PKT, maka tak aneh jika bhiksu gadungan Shi Yongxin bisa menjadi wakil ketua Buddhist Association of China, kuncinya adalah ia bisa dimanfaatkan oleh PKT.

Shi Yongxin Jadi Mesin Pencetak Uang Bagi PKT

Bencana terbesar yang menimpa Biara Shaolin terjadi pada masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) pascac PKT berkuasa di Tiongkok, biara kuno itu nyaris hancur seluruhnya. Setelah era tahun 1980-an, tanah suci bagi umat Buddha itupun anjlok reputasinya menjadi tanah komersil dan menjadi alat bagi pemerintah PKT untuk mencetak prestasi politik.

Sebagai bhiksu politik hasil binaan PKT, Shi Yongxin mengemukakan “agama Buddha harus bisa mengikuti perkembangan zaman”. Berkat dukungan pemerintah setempat, Shi Yongxin dengan cepat menyulap dan mengembangkan tanah suci umat Buddha itu menjadi pusat komersil. Dan karenanya, Shi Yongxing pernah menerima hadiah dari pemerintah kota Dengfeng berupa mobil SUV (Sport Utility Vehicle) bernilai RMB 1 juta Yuan (2,2 miliar rupiah). Bulan Agustus 1997, Biara Shaolin membentuk perusahaan Shaolin Industrial Development Co. Ltd. di provinsi Henan, inilah perusahaan pertama bagi kalangan umat Buddha setelah sekian ribu tahun. Lima tahun kemudian, “Shaolin” telah dikenal sebagai sebuah merek dagang yang terkenal dari provinsi Henan, dan tak lama kemudian naik kelas menjadi “merek terkenal Tiongkok”. Saat ini Biara Shaolin telah memiliki lebih dari 200 merek terdaftar.

Hingga sekarang, lima anak perusahaan telah didirikan oleh Shi Yongxin, antara lain Shaolin Temple Intangible Assets Management Ltd., Shaolin Joy Ltd., Shaolin Temple Culture Communication Co. Ltd., Shaolin Food Development Co. Ltd., dan Shaolin Pharmacy Co. Ltd.. Beberapa tahun terakhir Biara Shaolin mendirikan serangkaian usaha mulai dari kursus Wushu, pertunjukan Kungfu, konser berskala besar, agen perjalanan, hotel, pabrik pedang dan lain-lain, juga sebidang area rekreasi seluas 600 hektar.

Belakangan ini Shi Yongxin terlibat dalam pembuatan film, konser, pertunjukan Kungfu luar negeri, menggelar pemilihan “bintang Kungfu” di luar negeri, menjual ilmu beladiri Shaolin dan rahasia teknik pengobatan Shaolin dan banyak lagi kegiatan komersil lainnya. Musim panas 2009, Shaolin bahkan menggelar ajang kontes lomba “Busana Bikini Duta Wisata Internasional” yang menuai hujatan bertubi-tubi.

Tanggal 27 Desember 2009, kota Dengfeng di provinsi Henan bersama dengan perusahaan BUMN yakni China Travel International Investment (HK) Limited membentuk perusahaan baru yakni “HK-China Travel (Dengfeng) Songshan Shaolin Culture Tourism Co. Ltd. yang mencakup tiket tempat wisata Shaolin, Songyang, dan juga Zhongyue, transportasi dan pusat wisata, lahan parkir, hotel dan lain sebagainya, guna mengalang modal untuk listing Biara Shaolin di bursa efek, namun kemudian rencana tersebut buyar karena terjadi konflik internal.

Selain menjadi komersil di dalam negeri, Shi Yongxin juga memanfaatkan ketenaran Shaolin untuk meraup untung dari luar negeri. Sejak tahun 1987, ia memimpin rombongan bhiksu Shaolin melakukan pertunjukan keliling ke lebih dari 60 negara di seluruh dunia, jumlah pertunjukan mereka mencapai lebih dari 1000 sesi. Menurut surat kabar “Guardian” Inggris, tiap sesi pertunjukan Shaolin meraup keuntungan sekitar USD 10.000 (135 juta rupiah).

Shi Yongxin membangun biara cabang di berbagai kota besar di seluruh dunia, hanya di Berlin, London dan beberapa kota lain saja ia telah mendirikan lebih dari 40 perusahaan, dan di lebih dari 50 kota di seluruh dunia telah dibangun perkumpulan dan sekolah riset kungfu Shaolin dengan jumlah murid orang asing mencapai lebih dari 3 juta orang, membentuk rantai kelompok industri yang setiap tahun menghasilkan ratusan juta RMB.

Biara Shaolin juga masuk ke sektor property di luar negeri, Australia Shaolin Village yang sempat dihebohkan media massa Barat adalah satu contohnya. Menurut media massa Australia, “Shaolin Village” yang rencananya akan menelan biaya sebesar sekitar RMB 5,5 milyar (12, 1 triliun rupiah) itu akan dibangun di Shoalhaven, Australia, dan akan menjadi cabang Biara Shaolin berskala terbesar di luar negeri. Selama proses deklarasinya, di dalam proyek tersebut didapati mencakup hotel berbintang 4 dengan 500 kamar, 500 unit rumah permanen, 350 unit vila independen, dan lapangan golf 27 hole. Biara Shaolin yang terjun ke bisnis property pun mendapat kecaman keras dari warga Australia (lihat foto).

Shi Yongxin dituding memanfaatkan kebesaran nama yang dibangun selama ribuan tahun oleh para bhiksu Shaolin dan kepercayaan masyarakat terhadap Shaolin, dengan tujuan mencari keuntungan komersil. Dan Shi Yongxin mengenakan jubah bhiksu tapi berlagak seperti bos perusahaan besar menjualnya ke seluruh dunia, ini adalah suatu penghinaan bagi para biarawan.

Shi Yongxin selalu menenteng iPad keluaran terbaru saat menghadiri Kongres Rakyat Nasional, menggunakan mobil mewah lengkap dengan supir pribadi, sehari-harinya kerap menemui sejumlah pejabat tinggi, menerima wawancara berbagai media massa, bahkan berteman dengan sejumlah tokoh Hollywood terkenal, tapi apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang bhiksu seperti membaca paritta suci, bermeditasi, berkultivasi, berlatih kungfu, tidak satupun dilakukannya.

Album musik berjudul “Shaolin Zen – Music Ceremony” yang menelan biaya produksi sebesar ratusan juta RMB dengan peraih piala Oscar kategori Best Original Music bernama Tan Dun sebagai pencipta dan dimainkan oleh 700 musisi, tapi diciptakan sesuai dengan permintaan seorang pcejabat PKT di propinsi Henan yang menuntut “harus riang gembira, meriah, seru dan mendebarkan”.

Komentator bernama Chen Simin dalam tulisannya menyatakan: memanfaatkan media massa untuk dengan cepat meraup keuntungan dan ketenaran, Shaolin telah menjadi mesin penyedot uang bagi Shi Yongxin, Shi Yongxin pun menjadi pohon penghasil uang bagi PKT, yang kemudian mendorong dirinya ke dalam lingkungan para petinggi PKT dan berbagi kekuasaan disana. Sosok pemimpin agama yang terefleksi dari Shi, adalah duka bagi agama Buddha di bawah kekuasaan PKT, terlebih lagi adalah naas bagi para umat Buddha di Tiongkok.

Netter di Tiongkok mengatakan: biara di Tiongkok menjadi tempat kotor dan bernoda, tak kalah dibandingkan dengan lingkungan birokrasi maupun bisnis; biara masa kini telah berubah menjadi organisasi komersil dan aib; ajaran Buddha telah ternoda; merosotnya moral dan tradisi dimulai dari agama Buddha; tanah suci Buddha telah begitu kotor; di tengah masyarakat sekarang ini, jika kepala biara demikian, dimana lagi ada batasan? Para pemimpin di biara terkenal bahkan mempunyai jabatan administratif dan menerima gaji, sungguh terlalu; master palsu, bhiksu dan bhiksuni palsu di Tiongkok sangat banyak; biarawan masa kini yang mengemudikan mobil mewah dan telepon genggam mewah termasuk yang low profile, karena mereka tidak menerbangkan pesawat pribadinya.

Para netter protes keras terhadap Shi Yongxin yang telah merusak ajaran Buddha dengan mengkomersilkan Shaolin, sama sekali bukan perilaku seorang biarawan yang seharusnya, dan menuntut agar Shi Yongxin diinvestigasi tuntas, agar masyarakat mengetahui fakta sebenarnya, dan memberi ganjaran bagi para penjahat yang mengatas namakan agama Buddha itu sesuai hukum. (sud/whs/rmat)

Share
Kategori: BERITA TIONGKOK

Video Popular