Qin Yufei

Setiap orang bisa mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang dijumpai Wall Street baru-baru ini tampaknya masih berkaitan dengan memburuknya kondisi ekonomi dan politik di Tiongkok. Kekhawatiran investor terhadap Tiongkok masih melebihi jatuhnya harga minyak dunia, kuatnya nilai Dollar AS, gejolakannya Yunani atau kenaikan suku bunga the Fed.

Media CNN pada 16 Agustus 2015 melaporkan bahwa setelah nilai Yuan Tiongkok (Renminbi) mengalami depresiasi, kekhawatiran para investor terhadap ekonomi Tiongkok naik setingkat lebih tinggi. Kondisi tersebut tidak hanya dapat memicu perang mata uang, tetapi juga spekulasi luar tentang rezim Beijing yang sudah mulai panik terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok yang semakin parah. Para investor dunia sebelumnya sudah dibuat terkejut oleh tangan besi para pejabat Tiongkok dalam mengatasi jatuhnya harga saham di bursa Tiongkok.

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni dalam laporannya mengatakan, “Apakah mereka benar-benar tidak tahu apa yang mereka lakukan? Saya kira demikian. Saya berpendapat bahwa itu sudah mulai membuat para investor dunia merasa ngeri.”

CNN membeberkan kelima faktor yang menjadi alasan kaburnya para investor dari Daratan Tiongkok, yakni :

Bila Tiongkok bersin maka dunia yang terserang flu

Tiongkok menjadi penting dengan alasan utamanya adalah karena skop-nya yang besar. Kondisi Tiongkok memang berbeda dengan Yunani atau Puerto Rico. Jelas Tiongkok memiliki skala besar yang mampu mempengaruhi ekonomi global.

Tiongkok dalam tahun-tahun belakangan ini sudah menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia melampaui Jepang dan Jerman. Ia juga merupakan konsumen terbesar dunia untuk minyak mentah, tembaga serta bahan baku lainnya.

Harga minyak juga tembaga anjlok dalam beberapa pekan terakhir. Pertumbuhan ekonomi yang melambat cukup tajam bisa menyebabkan kehancuran lebih jauh harga-harga komoditas lainnya. Hal ini dapat memicu krisis keuangan bagi negara-negara yang mengandalkan ekspor bahan-bahan dari sumber daya alam.

“Hal ini bisa menyebabkan krisis utang terjadi di suatu lokasi dunia. Dengan kata lain bahwa kekacauan di Tiongkok mungkin saja akan menghantarkan ekonomi global mencapai titik krisis,” kata Ed Yardeni.

Mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok berhenti bergerak

Tiongkok telah menjadi katalis utama untuk pertumbuhan ekonomi global dalam 15 tahun terakhir. Namun pertumbuhan ekonomi Tiongkok sudah melambat, tingkat pertumbuhan menurun dari 10 % pada tahun 2010 menjadi tinggal 7 % pada paro pertama tahun ini.

Sekarang Tiongkok telah membuat perusahaan nasional mereka yang berskala besar menderita ‘sakit kepala’. Termasuk perusahaan multinasional seperti perusahaan Apple dari AS, General Motors, Starbucks, perusahaan induk KFC Yum.

Analis Bank of America Merrill Lynch dalam laporannya menyebutkan bahwa untuk saham AS, bisnis Tiongkok pernah menjadi sumber optimisme dan potensi pertumbuhan, tetapi sudah menjadi sumber kekecewaan sekarang. Dari mobil sampai televisi, dari iPhone sampai produk-produk mekanikal.

Devaluasi Renminbi memicu kepanikan

Kuatnya nilai Dollar AS tentu merupakan hal yang baik bagi orang Amerika yang bepergian keluar negeri untuk berwisata, namun, menimbulkan hambatan bagi perekonomian AS karena menyebabkan komoditas yang diekspor menjadi berharga lebih tinggi bagi negara pengimpor.

Pada tahun lalu, nilai tukar Dollar terus membumbung tinggi, intensifitasnya kian terasa pada saat nilai Renminbi mengalami depresiasi seperti sekarang. Inilah salah satu faktor pendorong menurunnya harga saham di bursa AS pekan lalu.

Deflasi Tiongkok mungkin bisa menyebar ke AS

Pertumbuhan ekonomi diperlambat bisa membuat tekanan penurunan harga komoditas Tiongkok. Tercatat hingga Juli tahun ini, harga jual produk dari pabrik-pabrik di Tiongkok sudah berturut-turut menurun selama 41 bulan terakhir.

Banyak orang mengkhawatirkan deflasi Tiongkok bisa menyebar ke negara lain. Ia sudah menyebabkan beberapa harga hasil pertambangan dan minyak mentah menurun. Jika tanda-tanda deflasi muncul di AS, Bank Sentral AS the Fed mungkin harus menunda atau membatalkan rencana kenaikan suku bunga.

Investor tidak lagi percaya terhadap pemerintahan Tiongkok komunis

Tiongkok secara umum masih dianggap misterius oleh negara-negara lain. Itu disebabkan karena banyak investor percaya bahwa angka-angka yang dilaporkan oleh pejabat rezim Beijing itu adalah bikinan untuk kepentingan kinerja ekonomi Tiongkok. Dengan kata lain bahwa kinerja ekonomi Tiongkok yang sebenarnya lebih buruk dari angka-angka yang mereka laporkan.

Kepala Bagian Strategi Investasi S&P Capital IQ, Sam Stovall mengatakan, “Layaknya Penyihir Ozu : Dalam banyak hal sepertinya melihat keindahan bunga melalui udara yang berkabut, tetapi itu hasil dari manipulasi yang ada di balik layar”.

Tindakan pemerintah komunis baru-baru ini juga telah menimbulkan kekecewaan bagi investor. Pemerintah justru membantu untuk mengembangkan gelembung pasar saham Tiongkok. Dan di saat anjloknya harga saham, mereka malahan mengambil pendekatan yang terlalu radikal dengan maksud untuk melindungi pasar, dan situasi itu bertambah buruk akibat devaluasi mata uang mereka.

Resiko yang dihadapi Beijing tidak hanya terbatas pada telah menyakiti investor. tetapi mereka kelak akan menghadapi krisis kepercayaan pasar yang lebih besar meskipun mereka sudah berupaya keras untuk memulihkan keadaan.

Tulisan dalam laporan Bank of America Merrill Lynch berbunyi, “Meskipun rencana pengeluaran dan penurunan suku bunga dapat memberikan beberapa bantuan, tetapi keyakinan (pasar) terhadap kemampuan mereka akan melemah.” (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular