Seiring perang PKT (Partai Komunis Tiongkok) dengan polusi, Departemen perlindungan lingkungan, pada Senin (13/7/2015), mengatakan, bahwa pada awal Juni lalu, hampir 75% kota-kota di Tiongkok gagal memenuhi standar kualitas udara, namun, sudah lebih baik dari tahun lalu pada periode yang sama.

Awal Juni lalu, sebesar 60% kualitas udara di Ibukota Beijing masih di bawah standar, konsentrasi partikulat PM2.5 (partikelkecil di udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan) partikel naik 11% dari tahun lalu pada periode yang sama.

Sehubungan dengan ketidakpuasan publik atas meningkatnya risiko pencemaran lingkungan dan kabut tebal, tahun lalu PKT menyatakan “perang terhadap polusi” dan akan mulai menghilangkan kapasitas industri yang tidak memenuhi standar, mengurangi konsumsi batubara.

Tahun lalu, di antara 74 kota besar di China, ada sekitar 90% yang tidak memenuhi standar kualitas udara. Sementara itu, udara sehat dari standar nasional yang ditetapkan PKT adalah kandungan PM 2,5 di bawah 35 mikrogram per-meter kubik. Namun, pemerintah setempat memperkirakan tidak bisa menurunkan rata-rata nasional ke level itu sebelum 2030.

Untuk mencegah penipuan data kualitas udara, Wakil Menteri Departemen Perlindungan Lingkungan PKT mengumumkan aksi inspeksi selama 2 tahun, ia menuduh beberapa pemerintah daerah membuat data palsu untuk memenuhi standar nasional.

Polusi udara Tiongkok yang mengerikan dapat menyebabkan banjir yang fatal

Menurut penelitian terbaru, asap dan polusi udara telah menyebabkan banjir terburuk di Tiongkok dalam lima dekade terakhir ini. Juli 2013 lalu, curah hujan 94 cm melanda sejumlah wilayah provinsi Sichuan, Tiongkok bagian barat, bencana itu menyebabkan 200 orang tewas dan 300,000 warga dievakuasi.

Fan Jiwen, pemimpin peneliti dari Pacific Northwest National Laboratory (Laboratorium Nasional Pasifik barat laut) mensimulsi kondisi atmosfer di tanah cekungan Sichuan yang parah di bawah tingkat emisi yang berbeda, menemukan bahwa jika bukan karena asap setempat, gas rumah kaca dan tingginya konsentarsi aerosol yang dipancarkan itu, maka curah hujan akan berkurang 60%.

“Kami terkejut mengetahui skala dari dampak polusi tersebut,” kata Fan Jiwen pada majalah Science.

Tanah cekungan Sichuan dihuni sekitar 100 juta penduduk, dan memiliki industri berat seperti besi, baja, produksi energi dan industri berat lainnya. Basin dikelilingi oleh pegunungan, pegunungan menghimpun aerosol di udara, sehingga memungkinkan kelembaban menumpuk. Menurut percobaan simulasi Fan Jiwen, dimana seiring dengan sistem cuaca yang mencapai pegunungan, kelembaban udara yang tinggi melepaskan curah hujan yang sudah lama terpendam.

Peneliti lain juga menyebutkan hubungan potensial antara polusi udara dengan cuaca. Polusi udara dapat menyebabkan serangan muson (angin musim) di Asia Tenggara. Selain itu, ada juga yang mengaitkan aerosol atmosfer itu berhubungan dengan tornado dan kekuatan badai tropis.

Bagi Tiongkok, konsekuensi lain dari akibat polusi udara adalah menyebabkan kematian prematur sekitar 400,000 orang setiap tahun. Bersama timnya, Fan Jiwen merekomendasikan Beijing agar memperkuat perang terhadap polusi, untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut di masa depan. (joni/rmat)

Share
Kategori: TIONGKOK

Video Popular