Sehubungan dengan merosotnya pasar saham Tiongkok dan upaya penyelamatan bursa saham dari otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) belakangan ini, artikel yang ditulis editor senior keuangan Linette Lopez, yang dipublikasikan American Business Insider pada 11 Juli lalu menyebutkan, bahwa dunia bisa belajar dari pengalaman penting ini, bahwasannya PKT itu sangat lemah, dan hal ini tidak diketahui sebelumnya oleh banyak negara di dunia.

Pasar saham Tiongkok anjlok 30% baru baru ini

Dalam artikel terkait, Lopez menyebutkan bahwa dalam satu tahun terakhir,Shanghai Composite Index naik sekitar 150%. Namun, setelah mencatat rekor tinggi pada 12 Juni lalu, kemudian mulai turun, hingga pada awal Juli merosot hampir 30%.

Hingga 9 Juli 2015 berhasil Rebound, namun, SSE Composite yang naik pada April, Mei dan Juni semuanya anjlok. Anjloknya bursa saham Tiongkok itu tidak hanya mengejutkan seantero Tiongkok, tetapi juga mengejutkan hampir semua negara-negara lain di dunia.

PKT membiarkan orang-orang bermain saham, sehingga ada yang tidak segan-segan meminjam uang dengan bunga tinggi untuk membeli saham. Ketika pasar saham anjlok, yang paling menderita adalah investor ritel.

“Ada yang menyalahkan lembaga perbankan asing, ada yang menunggu bailout pemerintah, ada juga yang bunuh diri,” kata Lopez, editor senior keuangan Business Insider.

Demi untuk mencegah kasus bunuh diri, beberapa daerah pemukiman sementara tidak membuka lantai atas (atap), seperti yang ditunjukkan pada pengumuman berikut:

PKT buru-buru bailoutkarena ia (PKT) lemah

Pasar saham yang merosot 30% seketika membuat rezim yang berkuasa itu terperosok dalam kondisi darurat, dan mengambil berbagai langkah penyelamatan bursa saham. Menurut Lopez hal itu disebabkan PKT sangat lemah.

Hal yang lebih penting lagi, Partai Komunis Tiongkok takut terjadi kerusuhan sosial. Partai tersebut secara hati-hati dan bertahap membuat perencanaan masa depan, jika rencananya digulingkan, maka seluruh proyeknya akan gagal (Kekuasaan PKT akan gagal-red).

Demi perencanaan tersebut, warga Tiongkok melakukan bisnis dengan PKT, mereka menukarnya dengan sistem politik multi partai dan kebebasan sipil gaya barat (demokrasi negara barat). Hingga pertumbuhan ekonomi mulai melambat pada tahun lalu dan sebelum merosotnya pasar saham baru-baru ini, kesepakatan tersebut tetap berjalan normal.

Selain itu, jika masyarakat Tiongkok merasa kesepakatan tersebut tidak bisa berjalan normal, dan jika mereka menganggap rencana pemerintah itu tidak bisa membuat Tiongkok ke taraf yang kuat, mereka mungkin akan meninggalkan proyek tersebut (Rakyat akan meninggalkan PKT-red).

“Inilah faktor yang sangat penting bagi rezim PKT atas anjloknya pasar saham, karena ia mungkin akan membuat rakyat tidak percaya atas kesepakatan tersebut,” pungkas Linette Lopez, editor senior keuangan Business Insider. (joni/rmat)

Share
Kategori: TIONGKOK

Video Popular