Sektor properti RRT sesungguhnya adalah suatu industri yang telah sepenuhnya bangkrut. Namun karena ketergantungan jangka panjang pemerintah terhadap keuangan properti yang telah terbentuk sedemikian rupa tidak mungkin dihilangkan begitu saja, dan tidak mampu menghadapi serangkaian krisis yang akan terjadi jika harga properti anjlok, maka pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan bursa properti, bahkan dengan mempertaruhkan segala-galanya. Menyelamatkan bursa properti dengan melanggar aturan ekonomi seperti ini adalah faktor utama yang membuat sektor properti hidup segan mati tak mau.

Padahal secara rasional, pemerintah tak ingin menyelamatkan properti. Menyusutnya harga properti telah terjadi sejak beberapa tahun lalu, sama sekali tidak ada pernyataan apapun dari pemerintah selama 2-3 tahun penyusutan harga. Dari makna tertentu, harga properti telah menyandera pemerintah.

Alasan pemerintah disandera adalah karena pemerintah sendiri merupakan pelaku utama yang meraup keuntungan besar dari properti. Mati-matian mempertahankan harga properti sangat tidak diinginkan pemerintah tapi terpaksa harus dilakukan. Kondisi ini akan terus berlanjut untuk waktu yang cukup lama.

Pertumbuhan ekonomi yang hanya bertopang pada keuangan properti sebagai inti ini terjadi karena karakteristik ekonomi yang didorong oleh kekuasaan.

Ciri khas utama dari ekonbomi kekuasaan adalah kekuasaan menjadi penghasil permintaan, sifatnya kaku dan keras, modal, sumber daya, teknologi, manajemen, pelayanan, tenaga kerja hanya bersifat factor produksi umum. Kakunya kekuasaan menentukan model pertumbuhan ekonomi seperti ini pada dasarnya bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi pasar, dan membatasi pertumbuhan pasar.

Dan pertumbuhan pasar justru merupakan lingkungan tempat bergantung hidupnya inovasi dari denyut ekonomi. Dengan demikian bisa disimpulkan satu hal: model pertumbuhan ekonomi yang berpusat pada keuangan properti tidak menguntungkan bagi pertumbuhan pasar dan ekonomi inovatif. Karena pasar juga tidak memiliki kemampuan inovasi yang baik jangka panjang untuk berkembang, maka pasar dan inovasi tidak dapat menjadi sumber kehidupan bagi ekonomi tersebut, sehingga ketergantungan pemerintah terhadap keuangan properti sulit untuk dihilangkan. Ini menentukan untuk jangka waktu yang sangat panjang ke depan, keuangan properti tetap akan menjadi sumbu utama bagi keuangan pemerintah. Di dalam ekonomi yang didorong kekuasaan, pemenuhan mendasar akan pendapatan dan pengeluaran keuangan adalah pendorong utama kehidupan ekonomi.

Lalu apakah tangan pemerintah yang bisa terlihat ini serba bisa? Apakah pemerintah mampu melakukan apa saja? Mampukah pemerintah untuk terus menahan harga properti agar tidak merosot dan bisa dipertahankan untuk jangka waktu lama?

Pasar adalah sebuah tangan yang tak terlihat, dan tangan yang tak terlihat ini begitu mendapat status legal untuk menimbulkan dampak tertentu, akan menimbulkan kekuatan yang sangat dahsyat. Begitu dimulai RRT menempuh jalan ekonomi pasar, maka kesadaran pasar akan seperti sistem kontrak lahan yang menyusup ke dalam jiwa setiap petani dalam sekejap, dalam tempo yang sangat singkat akan membentuk kesadaran pasar seluruh warga. Kesadaran ini bahkan bisa mendominasi “tangan yang terlihat” itu. Seluruh warga akan berorientasi pada uang, yakni kesadaran kepentingan yang berorientasi pada pasar akan menyusup ke seluruh lapisan masyarakat. Melakukan kendali terhadap tangan yang tak terlihat adalah tugas ekonomi makro pemerintah, berlaku di negara mana pun. Jika tangan ini tidak dikendalikan akan bisa mengacau dan masyarakat akan runtuh. Akan tetapi metode mengendalikan tangan yang tak terlihat ini, instruksi administratif biasa tidak akan membantu, dan hanya bisa dilakukan dengan menyempurnakan sistem pasar.

Namun yang dilakukan selama puluhan tahun terakhir adalah berusaha mengendalikan pasar dengan kekuatan administratif dari kekuasaan. Hasilnya, sebagian dari kekuasaan mengkhianati niat awal, berkomplot dengan tangan yang tak terlihat membuat aturan terselubung, dan berbalik menciptakan kesulitan untuk mengendalikan kondisi makro ekonomi. Oknum korup yang tertangkap baru-baru ini yang telah meraup uang tak terhitung banyaknya, adalah media perantara konspirasi antara kekuasaan dengan tangan yang tak terlihat ini. Dan ini menjelaskan satu hal, dengan sistem pasar yang tidak sempurna, kendali pemerintah terhadap pasar pasti akan gagal, betapapun baiknya niat hati pelakunya. Hal yang masih dapat dikendalikan oleh pemerintah hanya pasar yang teratur dan sempurna, bukan pasar yang serba kacau dan bersifat keras/kaku dengan campur tangan pemerintah dengan aturan terselubung.

Jadi, bisa dibayangkan akibat yang akan timbul dari tindakan pemerintah untuk menyelamatkan pasar properti. Baik secara logika maupun realita, pemerintah tidak akan dapat menyelamatkan pasar, yang dapat dilakukan hanya berusaha menyelamatkan pasar untuk menunda meletusnya krisis properti.

Dilihat dari kondisi saat ini, upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan pasar, mulai dari kebijakan hingga finansial, semua telah dikerahkan, akan tetap hanya berdampak pada kota-kota tingkat satu. Sebagian kecil properti mengalami kenaikan, tapi kota di tingkat bawah terutama di tingkat tiga dan empat, jangankan naik harga, bahkan turun harga pun mungkin tidak ada orang yang membeli properti. Upaya pemerintah bukan hanya tak mampu mengangkat harga properti, bahkan membentuk dua kutub, panas dan dingin, di kota-kota tingkat satu properti memanas, sementara di kota tingkat tiga dan empat dbingin.

Kota yang tidak ingin memanas lagi justru semakin panas, dan tidak bisa diredakan; kota yang ingin memanaskan sektor properti tidak bisa memanas, justru kian mendingin. Ini berarti kemampuan tangan yang terlihat ini sangat terbatas, sudah bukan lagi jamannya untuk bermain sulap. Kekuasaan bisa semena-mena, tapi semakin semena-mena maka semakin tidak menyelesaikan masalah. Sebenarnya pada dimensi kita hidup ini, kebanyakan masalah hanya bisa terselesaikan oleh waktu, dan bukan benar-benar diselesaikan.

Semakin parahnya kemakmuran semu di kota-kota tingkat satu membuat efek busa semakin besar, dan ancaman krisis semakin mendalam. Di dalam budaya tradisional Tiongkok, dampak dari paham otoritarianisme senantiasa adalah nomor satu. Penduduk akan terus merapat ke pusat pemerintahan, mulai dari kekuasaan tingkat bawah akan merapat pada kekuasaan tingkat atas, begitupun akan menjadi pilihan pertama untuk domisili warga. Di daerah, kemanapun pemerintah pindah, maka penduduk akan terkonsentrasi pada tempat itu.

Dilihat secara vertikal, desa akan mengarah ke kabupaten, kabupaten akan mengarah ke prefektur, prefektur akan mengarah ke propinsi, propinsi akan mengarah ke kota yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya, ini adalah realita. Kota-kota tingkat satu mulai dari Guangzhou dan Shenzhen terus ke utara, adalah kota idaman warga Tiongkok. Karena itulah harga properti di kota-kota tersebut tetap meroket dan masih terus menarik minat pembeli walaupun suplai telah melampaui permintaan. Dan di kota-kota tingkat satu dimana jumlah suplai properti telah jauh melampaui permintaan, efek busa masih terus menggelembung akibat kebijakan pemerintah menyelamatkan properti. Dan busa yang baru membentuk ini akan mendatangkan bahaya yang semakin besar, karena semuanya adalah semu.

Faktanya, kemampuan dan kapasitas ekonomi pada kota-kota tingkat satu sudah sulit untuk memenuhi skala populasinya, sementara jumlah penduduk di kota-kota tersebut masih terus melambung akibat daya tarik properti. Suatu hari busa ini akan meletus, pada saat itu harga properti di kota tingkat satu akan anjlok drastis, dan memicu krisis yang tak terkendali.

Ekologi sosial di kota-kota tingkat tiga dan empat memburuk, siapapun yang bisa akan meninggalkan kota-kota tersebut, harga properti pun semakin terpuruk. Di kabupaten yang agak terbelakang, orang-orang yang mampu akan membeli properti ke kota propinsi, para pejabat kabupaten pun membeli properti di kota propinsi, orang-orang yang mampu akan pindah ke kota. Ini sudah menjadi tren yang tak terbendung. Yang memicu tren ini bukan sektor properti, melainkan memburuknya politik di tingkat dasar dan ekologi social.

Beberapa arus kekuasaan seperti pejabat korup, penguasa, penjahat, bajingan dan gangster berpacu malang melintang di daerah dan orang-orang yang baik, yang berperikemanusiaan, yang lurus, yang bercita-cita, sulit untuk bertahan. Baru-baru ini tabloid partai menerbitkan artikel berjudul “Pusat Telah Melihat Permasalahan Oknum Tirani Desa dan Tirani Dusun”. Di tingkat atas ada pejabat korup, di lapisan bawah ada preman, orang-orang biasa hanya bisa terjepit di tengah-tengah berusaha bertahan hidup. Dengan demikian, orang-orang yang baik hanya mampu eksis di dalam himpitan untuk tetap dapat eksis. Maka orang yang mampu membeli properti di desanya pergi ke kota yang lebih besar untuk membeli rumah. Sebaik apapun rumah di kota tingkat tiga dan empat direnovasi, tidak ada yang mau membelinya, sulit untuk mempertahankan harga properti untuk tidak menjadi dingin. Besar kecilnya suatu kota bukan sekedar data jumlah populasi saja, melainkan juga ukuran untuk kualitas sosial masyarakatnya. Semakin besar suatu kota, akan semakin terjamin keamanan seseorang. Sedangkan di desa-desa tempat para preman dan mafia merajalela, kehidupan sangat kelam seolah matahari tidak pernah terbit.

Kota yang kekurangan sumber daya, terutama wilayah setingkat kabupaten, mutlak akan menjadi zona kaum miskin, akan muncul zona penduduk miskin yang sangat luas, masyarakat di daerah akan merosot menjadi komunitas hewan.

Di wilayah tengah dan barat Tiongkok, di kota yang tidak memiliki sumber pertambangan, pariwisata, dan hasil bumi, akan mengalami kehampaan. Orang yang berduit, bermoral, dan kuat akan pergi, meninggalkan orang tua, orang sakit dan cacat. Tempat yang tidak memiliki hawa manusia seperti itu dengan cepat akan menjadi surga bagi preman dan penjahat, peradaban akan segera lenyap seperti es meleleh dengan cepat di musim panas. Tempat seperti ini akan menjadi daerah miskin dan terbelakang. Saat ini di RRT tidak sedikit daerah mengalami nasib seperti ini. Ditelusuri lebih lanjut sistem politik dan ekologi sosial di daerah tersebut sangat menakutkan. Oknum preman menguasai kota dan berperilaku semena-mena. Tempat-tempat itu telah menjadi tempat yang tak pernah disinggahi orang beradab.

Di balik kontradiksi panas dingin properti adalah kesenjangan kaya dan miskin, kesenjangan kelas masyarakat, kesenjangan budaya, yang merupakan bencana parah bagi ekologi politik dan sosial.

Dampak dari krisis properti tidak akan dapat dihindari. Akan tetapi permasalahan adalah benda mati, sedangkan manusia adalah mahluk hidup, manusia tidak akan ditenggelamkan oleh permasalahan. Krisis properti di RRT bukan tidak ada jalan keluar, melainkan tergantung pada ada atau tidaknya keinginan untuk menyelesaikannya. Jika benar-benar berniat menyelesaikannya, fakta harus dihadapi, penyakit harus diobati secara tepat. Sayangnya di tengah budaya Tionghoa yang telah bermetamorfosa, jarang ditemui contoh teladan yang benar-benar menghadapi fakta dan mengobati penyakit secara tepat. Seperti artikel ini sendiri, hanyalah ungkapan hati nurani seorang intelektual saja. (sud/whs/rmat)

Share
Kategori: TIONGKOK

Video Popular