Peristiwa pembantaian Tiananmen 4 Juni di Beijing, 26 tahun silam menjadi awal dari perubahan Soviet Timur (Barat menyebutnya Revolusi Serial 1989), ini adalah sumbangsih luar biasa dari kaum intelek dan para mahasiswa Tiongkok pada gerakan demokratisasi global. Waktu itu masyarakat hampir semua percaya pada ramalan Francis Fukuyama pada bukunya “The End of History and the Last Man”, bahwa konflik perebutan ideologi manusia telah mencapai titik akhir, demokrasi bebas telah meraih kemenangan akhir.

Tapi 20 tahun setelah mengalami perubahan politik, masyarakat akhirnya menyadari, dari totalitarian atau otokratis terbuka menuju demokrasi bukanlah jalan satu arah, sejumlah negara yang pernah melalui demokratisasi sedang menghadapi bencana kembali ke totalitarian.

Landasan Opini Publik Kembalinya Rusia ke Totalitarian

Di antara negara non-demokrasi yang saat ini sedang membina kebersamaan dan saling belajar, salah satunya adalah Iran yang merupakan negara teokrasi, sedangkan RRT sama sekali tidak pernah demokrasi, hanya pernah menganut sistem otokratis semi terbuka di era tahun 80-an, dan sekarang sedang berlari kencang kembali ke sisi gelap otokratis.

Tapi dalam sejarahnya Rusia pernah mengalami westernisasi, setelah era 90-an abad lalu sempat melalui sekelumit sejarah demokrasi. Membedah kondisi Rusia, mungkin akan lebih jelas memahami secara realistis bahwa perubahan masyarakat menjadi demokrasi bukanlah jalan satu arah.

Kembalinya Putin ke arah totalitarian sangat erat kaitannya dengan profesinya sebagai mantan anggota KGB (Dinas Intelijen Rusia), orang seperti ini terobsesi pada arbitrase dan kekuasaan, apalagi sejak periode Tsar Peter hingga zaman kekuasaan Stalin, akar budaya otokratis yang terbentuk ratusan tahun itu begitu mendalam, mungkin hanya sedikit di bawah RRT.

Dalam artikel penulis terdahulu (2014) berjudul “Bagaimana Paham Putin-isme Terbentuk”, dipaparkan bahwa paham Putinisme adalah sebilah pedang yang ditempa dari kekuatan negara besar Great Power Chauvinism dan politik kekuasaan, tapi ia toh melalui penempaan yang disebut opini. Karena Rusia berbeda dengan RRT, Rusia masih memiliki kulit luar sistem demokrasi.

Dalam sistem verbal di Barat, “Pilihan rakyat” adalah simbol kebenaran politik yang tidak dapat diganggu gugat. Tapi di negara diktator, kehendak rakyat mudah ditekan oleh kekuasaan, narasi penulis pada artikel tersebut berfokus pada: “Perubahan signifikan politik Rusia berawal setelah pemerintahan Putin. Sebelum Putin menjabat, Rusia sempat mengucapkan selamat tinggal pada otokratis dan menuju demokrasi. Sejak 1999, Putin secara optimal memanfaatkan kemampuannya mengemudikan politik, membawa Rusia secara perlahan mengalami perubahan politik kembali menuju otokratis dan diktator, ia sendiri berhasil berubah dari dipilih rakyat menjadi seorang diktator sejati.

Hal yang patut disoroti adalah, setiap perubahan besar dalam politik Putin, selalu mendapat dukungan penuh dari kalangan arus utama Rusia. Tentu bisa juga diartikan: Putin mampu memenuhi tradisi Chauvinisme di hati masyarakat Rusia, berhasil memanfaatkan ketergantungan masyarakat Rusia selama ratusan tahun terhadap penguasa, dan akhirnya Putin mewujudkan idealisme politiknya menjadi Tsar Peter masa kini.

Singkatnya, pendukung Putin adalah kaum tani dan para generasi muda, penentangnya adalah kaum menengah yang terpusat di Moskow dan St. Petersburg, pendukung Putin jauh lebih banyak daripada penentangnya.

Ada semacam tren pandangan di tengah masyarakat Tiongkok: pondasi otokratis PKT terutama dari orang-orang kelahiran tahun 50-an hingga 60-an, kekuatan utama itu adalah kaum ibu-ibu yang suka menari di alun-alun, setelah generasi ini tiada, generasi yang lebih muda dengan sendirinya akan memiliki ideologi demokrasi. Ungkapan ini tidak didukung realita yang kuat, karena kaum sayap kiri pendukung Mao di RRT juga banyak yang lahir di tahun 80-an hingga 90-an.

Pada pondasi sosial Putin, pendukung fanatiknya menyebut diri mereka “the Young Guard (Molodaya gvardiya)”. Organisasi pemuda dari zaman peperangan Uni Soviet sebelumnya, adalah simbol para pemuda yang berani bertempur. Organisasi pemuda “United Russia” dari partai berkuasa berganti nama menjadi “Young Guard” pada 2005, dan sekarang menjadi organisasi politik kaum muda terbesar di Rusia.

“Prestasi” yang diraih “The Young Guard” tidak bisa dipandang enteng, dalam gerakan melawan “Color Revolution” organisasi ini memainkan peran sebagai ujung tombak, bentrok dengan pemuda yang melakukan pawai menentang Putin, memprotes Estonia yang telah memindahkan Monumen Pembebasan Tentara Merah Uni Soviet, menyerang Gereja Mormon yang merupakan sarang intelijensi AS, mendukung Putin mengirim pasukan ke Ukraina dan lain sebagainya. Kemana pun Putin menunjuk, “Young Guard” akan menyerang ke arah tersebut.

Anggotanya kebanyakan lahir setelah Uni Soviet runtuh, kelompok pemuda ini dididik lewat berbagai macam metode, belum ada riset yang tersistematis akan hal ini. Keberadaannya cukup mengejutkan para tokoh demokrasi global: betapa mengerikannya akibat dari indoktrinasi ideologi itu. (sud/whs)

Share

Video Popular