Gelombang panas mencapai 47°C dalam 3 hari terakhir terus menyerang 2 propinsi India bagian selatan yakni Telangana dan Andhra Pradesh. Dikabarkan bahwa jumlah korban tewas dari kedua propinsi itu sudah mencapai 200 orang.

The Times of India melaporkan, pasien terkena serangan panas terus berdatangan ke rumah-rumah sakit di Telangana. Sedangkan pemerintah propinsi Andhra Pradesh menyediakan tim medis darurat yang ditempatkan di seluruh wilayah kabupaten untuk memberikan bantuan pengobatan kepada penduduk. Bersama dengan itu pihak berwenang mengeluarkan peringatan kepada masyarakat yang tidak membawa serta pelindung panas agar tidak keluar rumah pada siang hari.

Dinas Meteorologi India sudah mengeluarkan peringatan gelombang panas ketika suhu udara mencapai 45°C. Mereka meramalkan bahwa gelombang panas dalam 3 hari ke depan masih akan menyerang 10 kabupaten di propinsi Telangana dan 9 dari 13 kabupaten di propinsi Andhra Pradesh.

Suhu udara tertinggi di India yakni 48.8°C pernah terjadi di kota Vijayawada pada 11 Mei 2002.

Laporan media menyebutkan bahwa serangan udara panas yang menelan begitu banyak korban belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka yang menjadi korban kebanyakan adalah para lansia, wanita dan balita. Ketika tiba di rumah sakit, kebanyakan dari mereka sudah mengalami dehidrasi yang cukup serius dan gejala stroke panas. Rumah sakit dan Puskesmas setempat kekurangan perlengkapan medis yang memadai. Aliran listrik terputus sehingga kipas angin pun tak berfungsi ikut memperburuk kondisi pasien.

Jumlah korban di seluruh rumaah sakit pada kabupaten Mahbubnagar, propinsi Telangana dilaporkan mencapai lebih dari 500 orang. korban yang perlu perawatan rumah sakit menjadi banyak karena wilayah mereka memang sering mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

Kepala Dinas Meteorologi India stasiun Hyderabad Y.K. Reddy mengatakan, “Kenaikan 5 – 7°C dari suhu normal sudah terjadi di beberapa tempat. Masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah setelah pukul 10 pagi bila tidak perlu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan”. (CNA/Sinatra/rmat)

Share
Kategori: INTERNATIONAL

Video Popular