Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un baru-baru ini melakukan inspeksi ke pusat penangkaran penyu di daerah Sungai Taedong. Ia langsung naik pitam dan melabrak petugas berwenang di sana yang melaporkan bahwa pusat penangkaran menghadapi masalah operasional sehingga panen terhambat.

Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa alm. Kim Jong-il yang memprakarsai pendirian pusat penangkaran penyu di Sungai Taedong tersebut. Kim Jong-un baru melabrak petugas berwenang setelah bersama melakukan inspeksi keliling lokasi untuk memahami produksi dan cara pengelolaan di sana.

Kim Jong-un mengatakan, untuk keperluan penangkaran lobster air tawar di lokasi tersebut, Partai Buruh Korea Utara telah menyediakan bibit lobster unggul serta mengambil tindakan yang diperlukan guna mendukung suksesnya panen. Namun setelah 2 tahun berlalu, pusat penangkaran masih belum berhasil membudidayakan lobster, menunjukkan kemampuan kader yang rendah, cara berpikir yang kaku dan tidak memiliki sikap bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban.

Dari foto yang disajikan dalam laporan KCNA terlihat, seluruh petugas pusat peternakan itu hanya bisa menundukkan kepala sambil ‘sibuk mencatat’ sesuatu dalam buku bawaan mereka masing-masing. Seolah berusaha untuk mencegah agar api kemarahan dari Kim Jong-un yang suka makan makanan enak tidak tambah berkobar. Takut malapetaka jatuh ke kepala.

Selain itu, tampak uban sudah mulai tumbuh di kepala Kim Jong-un yang baru berusia 30 tahun lebih. Ini mungkin diakibatkan oleh stress berat dalam mengendalikan kepemimpinan Korea Utara. Atau karena masuk golongan pemuda beruban.

Kim Jong-un memiliki luapan perasaan yang sulit diduga, bisa menggunakan segala cara untuk mengeksekusi mati pejabat yang tidak disukai. Bahkan paman dan bibinya sendiri pun tak terhindar dari malapetaka itu. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan mengabarkan bahwa Menteri Pertahanan Korea Utara Hyon Yong-chol yang suka membantah ucapan Kim Jong-un ditambah lagi dengan mengantuk sewaktu mengikuti kegiatan yang diadakan oleh militer baru-baru ini dieksekusi mati memakai senjata untuk menembak pesawat terbang dengan alasan telah melakukan ‘pengkhianatan’ terhadap bangsa dan negara.

Seorang pejabat pembangkang yang melarikan diri dari Korea Utara mengatakan bahwa ia pun terpaksa meninggalkan Korea Utara karena ngeri terhadap politik terornya Kim Jong-un.

Akibat hasil panen bahan pangan yang rendah ditambah dengan sanksi yang diberikan oleh PBB kepada Korea Utara, maka banyak bahan pangan tidak bisa masuk ke negeri tersebut, akibatnya stok pangan tidak mencukupi dan jutaan rakyatnya kelaparan. Mereka terpaksa melarikan diri dari Korea Utara atau melakukan kejahatan di perkampungan negara tetangga yang berdekatan dengan perbatasan demi memperoleh makanan. (Sinatra/rmat)

Share
Kategori: INTERNATIONAL

Video Popular