Nyawa seorang prajurit bagi sebagian orang mungkin hanya sekedar angka, tapi bagi suatu keluarga adalah segala-galanya. Yang paling menggugah dari negara Amerika Serikat bagi penulis bukan terletak pada gedung pencakar langitnya, bukan pada jalan raya yang serba lebar, juga bukan pula produk yang beraneka ragam di toserba, melainkan, sikap AS terhadap nyawa seseorang.

Haru seperti ini berasal dari kunjungan penulis ke AS bertepatan dengan hari peringatan terhadap para prajurit yang tewas di medan perang, yang jatuh pada Senin minggu terakhir pada Mei setiap tahunnya. Saat saya mengemudi mobil melewati taman di sebuah kota kecil, di tanah berumput tertancap bendera dengan rapi, suatu susunan yang terdiri dari puluhan ribu bendera, semua atas inisiatif warga. Di semua tempat di seluruh AS terlihat pemandangan yang sama. Pada hari yang sama di negara ini, seluruh negeri seolah tenggelam di tengah lautan bendera, siapapun yang melihat pemandangan ini setidaknya akan tersentuh indera penglihatannya.

Terdapat 130 taman makam nasional yang berisikan lebih dari 2,9 juta makam di seluruh AS. Pada hari peringatan itu, para relawan akan menancapkan bendera-bendera kecil di makam para prajurit, di taman kota, atau di lapangan umum. Presiden atau wakil presiden AS biasanya akan memimpin upacara peringatan di Taman Makam Ellington, dan akan meletakkan karangan bunga di makam prajurit tak dikenal.

Makam Pahlawan Tak Dikenal

Kita mulai dari makam prajurit yang tak dikenal itu, yang terletak di Taman Makam Nasional Ellington, Washington, yang telah ada sejak zaman Perang Sipil. Pemilik lahan adalah musuh pemerintahan federal. Karena disaat Lincoln terpilih sebagai presiden, beberapa negara bagian di wilayah Selatan tidak puas dan mencoba untuk memerdekakan diri. Persoalan yang tadinya bisa diselesaikan dengan perundingan, tapi mereka langgar melalui pantangan besar di AS, yakni sebagai prajurit AS mereka melepaskan tembakan pertama di dalam negeri sendiri, bermula dari masalah konflik internal masyarakat berubah menjadi konflik permusuhan.

Pemilik tanah makam itu yakni Jendral Lee adalah pemimpin pasukan pemberontak dari Selatan itu, sehingga negara pun menyita tanah miliknya. Tentunya setelah Perang Sipil berakhir, tanah itu pun dikembalikan lagi kepada keluarganya. Uniknya adalah orang yang kali pertama dimakamkan di tanah itu adalah musuh, seorang tawanan pasukan Selatan yang gagal diselamatkan di rumah sakit. Kemudian tidak hanya Jendral Lee juga ikut dimakamkan disini, gedung peringatannya pun menjadi objek wisata yang penting.

Hal ini memberikan konsepsi pertama kepada kita bahwa negeri ini tidak ada musuh, kecuali Anda memilih untuk menjadi musuh. Jika Anda meletakkan senjata, atau tidak bisa mengangkat senjata lagi, maka Anda bukan musuh, malah tetap akan mendapatkan perlakuan sebagai seorang warga AS. Oleh karena itu, perlakuan terhadap para prajurit dan jendral dalam Perang Sipil yang telah tewas itu adalah sama, karena mereka semua adalah warga AS.

Hal yang terpenting adalah orang-orang yang masih hidup, yakni parpol dari Selatan masa itu, mereka dikalahkan oleh pasukan federal, maka mereka ini adalah kaum penentang yang seharusnya “ditumpas habis” dengan cara penindasan kontra-revolusi. Tapi apa yang terjadi kemudian?

Mungkin Anda bahkan tidak akan pernah memimpikannya, mereka adalah Partai Demokrat yang sekarang dipimpin Obama.

Cukup mengguncang Anda bukan? Mengapa? Lincoln yang memimpin Partai Republik pada masa itu memprakarsai pembebasan budak, sedangkan Jefferson Davis dari Partai Demokrat yang tidak puas karena terpilihnya Lincoln, memimpin pasukan Selatan melepaskan tembakan pertama terhadap pasukan pemerintah federal di Benteng (Fort) Sumter di South Carolina. Serangan meriam yang berlangsung genap selama 36 jam penuh itu menyebabkan pasukan yang bertahan itu menyerah. Bermimpi pun mereka tidak akan terbayangkan bahwa hari ini setelah lebih dari seabad kemudian, Obama sebagai generasi pertama keturunan budak ternyata adalah pemimpin partai ini dan menjabat sebagai presiden AS.

Musuh Negara ini sangat jarang sekali

Mari kita lihat lagi konsepsi kedua, yakni apa yang dimaksud dengan tak dikenal? Mereka semua memiliki nama dan marga, bagi ibu, istri, dan anak-anaknya, mereka adalah segalanya bagi keluarga, kematian satu orang menyebabkan tidak utuhnya satu keluarga.

Oleh sebab itu di makam manapun, ada batu nisan yang bertulisan. Tapi di tengah perang ada sebagian kecil orang yang tidak bisa dikenali lagi, bahkan tidak bisa dikenali sebagai lawan atau kawan, inilah alasan disebut sebagai prajurit tak dikenal. Karena tidak mungkin memakamkan jasad orang lain dengan batu nisan bertuliskan nama kerabat Anda.

Oleh karena itu setiap tahun akan terjadi hal serupa, makam yang bertuliskan nama selalu dibersihkan oleh anggota keluarganya, yang tidak dikenal, baik musuh maupun kawan, sama-sama adalah orang Amerika, tidak hanya harus dimakamkan dengan perlakuan yang sama, peletakan karangan bunga juga harus dilakukan oleh presiden menjabat, karena roh mereka lebih membutuhkan perhatian. Mereka semua adalah warga negara AS, yang dimakamkan disini tidak ada musuh. Bisa dipahami konsepsi yang ada disini? Selama Anda tidak secara sadar memilih menjadi musuh maka Anda bukan musuh, jadi musuh negara ini sangat, sangat sedikit.

Apakah Jiwa bisa dinilai dengan Uang?

Ada satu lagi konsepsi terakhir, yakni berapa nilai pantas untuk sebuah nyawa. Ada yang pernah berhitung, setiap satu orang prajurit AS yang tewas, hanya dalam hal pengeluaran ekonomi negara saja, mencakup tunjangan keluarga, santunan, pengurangan biaya pengobatan, subsidi dan lain-lain, totalnya mencapai sekitar USD 1 juta (13.158.000 rupiah), belum termasuk penggunaan fasilitas negara lainnya seperti biaya pesawat, kendaraan, dan lain-lain, serta kegiatan peringatan setiap tahunnya.

Ada yang merasa nilai sebatang nyawa orang Amerika senilai USD 1 juta, akan tetapi jika Anda hitung sebaliknya, sudah lain lagi masalahnya. Seorang pemuda produktif mulai dari lulus sampai akhirnya pensiun, berapa banyak yang pendapatan yang dihasilkannya bagi keluarganya, bagi pajak yang dipungut pemerintah? Yang pasti jauh melampaui USD 1 juta.

Jika Anda memiliki sedikit wawasan saja pasti tahu bahwa hanya dengan mengandalkan kandungan sumber daya alam di AS, baik minyak bumi, gas alam, dan tambang, cukup untuk dinikmati beberapa generasi, tetapi jiwa hanya berlangsung 1 generasi. Ini ibarat kekonyolan seorang konglomerat yang berusaha merebut uang 1 dolar dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Oleh sebab itu sikap orang AS tentang pengorbanan adalah mengorbankan jiwa sendiri demi kehidupan orang lain agar hidup dengan baik. Jika hanya demi uang, apapun yang dikerjakan di AS bisa menghasilkan uang.

Di berbagai tempat di AS juga terdapat tugu peringatan Perang Korea (1950-1953), dan makam para prajurit korban Perang Korea lebih banyak, karena kebanyakan keluarga mereka masih ada, sekitar 50.000 jiwa tewas di Perang Korea, dimana AS merasa pantas mengorbankan begitu banyak nyawa. Membandingkan kondisi di Korea Selatan dengan Korea Utara, sikap haru warga Korsel terhadap orang-orang Amerika Serikat memang berasal dari lubuk hati paling dalam. Itu sebabnya para janda pahlawan di AS merasa bangga, karena merasa telah menyelamatkan jiwa orang lain. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular