Dalam beberapa hari terakhir ini pemerintah Tiongkok komunis meluncurkan serangkaian langkah-langkah untuk menghentikan anjloknya pasar saham yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah memberi jaminan pada investor bahwa mereka akan melakukan apa pun untuk menopang pasar saham. Sementara itu, laporan media asing menyebutkan, bahwa langkah-langkah penyelamatan ini mengancam dan mengandaskan reformasi keuangan utama, sekaligus membuat Tiongkok berada dalam kekacauan keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Akhir pekan lalu, Beijing telah mengambil tindakan yang paling agresif untuk menggerakkan pasar saham, menangguhkan IPO (penawaran umum perdana), bank sentral menyediakan dana untuk pinjaman kepada investor membeli saham, meningkatkan kuota orang asing untuk membeli saham seri A. Sementara itu, 21 broker setuju untuk menginvestasikan 120 miliar Yuan sebagai dana talangan. Mereka berjanji akan membeli saham sampai Shanghai Composite Index mencapai 4,500 poin.

Tapi, pada Selasa (7/7/2015) kemarin, pasar saham masih turun 1,3% hingga 3,727.12 poin, jatuh 27,9 % dibandingkan nilai puncak beberapa waktu lalu. Namun, yang lebih mengkhawatirkan, kinerja pasar sekilas tampak lebih buruk dari permukaan indeks. Indeks CSI 300 turun 1,8%. Shenzhen GEM (Pertumbuhan Pasar Enterprise dari Bursa Efek Shenzhen) turun 5,1%, jatuh lebih dari sepertiga dari nilai puncak awal Juni lalu.

Pasar saham di Hongkong juga jatuh. Indeks Hang Seng turun 1%. Saham seri H jatuh 3,3%, anjlok lebih dari 20% dari nilai puncak pada Mei lalu, dan masuk dalam kondisi bear market (Suatu kondisi pasar dimana terjadi kecendrungan (trend) turun)

PKT menyelamatkan bursa dan indeks saham, sementara Amerika menyelamatkan bursa dan perusahaan swasta

Pemerintah Tiongkok berjanji untuk memastikan Shanghai Composite Index mencapai 4,500 poin. Semenatara itu, pendiri J- Capital Research Yang Si-an (Anne Stevenson-Yang) mengatakan, bahwa skala jaminan ini sangat mengejutkan. Analis membandingkan upaya penyelamatan yang dilakukan Tiongkok sekarang dengan Troubled Asset Relief Program-TARP (program penyelamatan sektor keuangan) yang dilakukan Amerika Serikat pada 2008 silam. Menurut Yang Si-an, perbandingan ini memiliki satu titik kekeliruan, yaitu pihak yang diselamatkan TARP adalah perusahaan yang beroperasi, bukan indeks saham seperti yang dilakukan Tiongkok sekarang.

“Langkah-langkah penyelamatan bursa saham yang dilakukan Tiongkok tanpa menghiraukan apapun, bisa dikatakan bahwa Tiongkok mempertaruhkan dua taruhan sekaligus,” ujar Yang Si-an, pendiri J- Capital Research.

Taruhan ini memiliki kelemahan mendalam. Melalui penggunaan Ekuitas, pemerintah menggantikan utang yang dijamin itu telah menciptakan bull market (kondisi dimana pasar dalam keadaan uptrend/kenaikan) Tiongkok, yang membuat keuntungan disproporsi (ketidak-seimbangan) BUMN, dan tentu saja juga membuat PKT memetik manfaatnya.

Ekuitas-ekuitas ini adalah kontribusi dari orang-orang kecil—ini adalah masalah yang lebih besar. Ketika media resmi dan pejabat pemerintah mulai menggembar-gemborkan pasar saham setahun lalu, mereka pada dasarnya berkomitmen untuk melindungi puluhan juta tabungan rumah tangga.
Namun, kebijakan bailout dari pihak berwenang cenderung membuat para orang-orang kecil bak memetik bintang di langit (sulit dijangkau).

Bull market yang diciptakan pemerintah membuat jutaan keluarga menghadapi risiko

Andrew Collier, CEO dari Orient Capital Research seperti dilansir “Shi ying” mengatakan, pemerintah mau tidak mau harus fokus pada indeks dan big cap stocks (saham papan atas) untuk mempengaruhi pasar, dan ini sepenuhnya akan mengecualikan small cap stocks (saham lapis ketiga, dibawah 1 triliun). Jika small cap stocks turun, maka akan ada banyak investor yang tidak puas melakukan protes, dan ini akan membawa lebih banyak masalah bagi para pimpinan.

Dari sisi politik, ketika pemerintah memutuskan untuk membuat pasar saham naik, maka para pemimpin Tiongkok mempertaruhkan kredibilitas mereka pada orang-orang dengan jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keputusan sebelumnya mungkin akan membangkitkan amarah sebuah wilayah atau sebuah kelompok yang berkepentingan, bukan jutaan keluarga seantero negeri.

Sedangkan dari sisi keuangan, ratusan miliar uang pinjaman telah mengalir ke pasar saham. Jika kehilangan harta-harta ini, maka utang-utang itu pun tidak dapat dilunasi, dan inilah sebabnya mengapa bull market yang diciptakan pemerintah itu membuat sistem keuangan secara keseluruhan berada di bawah risiko.

Rendahnya efektivitas atas langkah-langkah penyelamatan

Melansir the “Wall Street Journal”, jatuhnya Shanghai Composite Index pada Selasa lalu (7/7/2015) menunjukkan efektivitas yang diupayakan pemerintah untuk menggerakkan pasar itu sangat rendah. Pada Selasa itu, hanya 55 saham perusahaan yang naik, sementara 864 lainnya jatuh. Saham-saham individu yang naik itu adalah raksasa pasar, yang dijanjikan oleh para pialang saham untuk mengakuisisinya. Sebagai contoh, Bank of China, China Construction Bank dan Ping An Insurance Company.

Arthur Kwong, Direktur pasar saham Asia-Pasifik dari Paribas Investment Management Company (BNP) mengatakan, bahwa perubahan kebijakan Beijing menstabilkan pasar saham kecil kemungkinannya bisa menghasilkan pemulihan yang lama, meskipun jika pasar bisa pulih dalam jangka pendek. Dan meskipun setelah sell-off bulan lalu, ia masih bersikap hati-hati terhadap saham seri A Tiongkok.

“Kita akan senang jika fundamental pasar beranjak positif. Lagipula hingga saat ini, tindakan kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanya menunjukkan efek yang terbatas, banyak sudah ‘peluru’ (kebijakan) yang diluncurkan, tapi berapa kali lagi mereka bisa memotong suku bunga kembali ?” pungkas Arthur Kwong. (joni/rmat)

Share
Kategori: TIONGKOK

Video Popular