Oleh: Zhou Xiaohui

Ledakan di Tianjing bagaikan alarm yang dibunyikan untuk Beijing. Laporan Epoch Times menyatakan bahwa kelompok Jiang yang berada di belakang kasus ledakan tersebut bertujuan untuk menyampaikan kepada Xi Jinping 2 kondisi yang dikehendaki Jiang Zemin, yakni pertama, Jiang Zemin harus disertakan dalam parade militer upacara perayaan 70 tahun kemenangan Tiongkok berperang melawan penjajah Jepang yang akan diselenggarakan pada 3 September nanti. Kedua, menghentikan pelacakan kesalahan terhadap diri dan keluarga Jiang.

Xi Jinping yang naik pitam karenanya melakukan tindakan balasan berupa membatasi kebebasan bergerak Jiang Zemin beserta kedua putranya. Selain tetap bersikeras untuk menyelidiki kasus peledakan di Tianjin sampai tuntas, Xi Jinping pun tidak akan merubah keputusannya untuk menghentikan proses pengajuan mantan Wakil Sekretaris Walikota Shanghai Dai Haibo yang dekat dengan keluarga Jiang ke pengadilan. Pokoknya, Xi Jinping tidak akan menyerah dalam melawan Jiang Zemin.

Jelas, kedua kondisi yang dituntut Jiang Zemin tak akan disetujui oleh Xi Jinping. Dan Jiang Zemin yang sering menggunakan trik-trik kotor untuk menteror penguasa sudah dapat dipastikan akan menggiringnya ke tingkat konfrontasi yang lebih tinggi.

Apakah mereka yang menciptakan ledakan di Tianjing, tidak akan berbuat teror di Beijing? Apalagi serangkaian kegiatan akan dilaksanakan di ibukota Beijing termasuk penyelenggaraan IAAF Championship. Tindakan menteror yang sering dilakukan kelompok Jiang mungkin saja dilakukan di saat para pejabat tinggi negara lain ataupun atlit luar negeri berkumpul di Beijing. Ini yang paling dikhawatirkan oleh Xi Jinping.

Kita melihat Beijing sekarang sangat gelisah. Seluruh aparatur negara seperti polisi bersenjata, pasukan panser, anggota keamanan publik seluruhnya dikerahkan untuk mengamankan Beijing. Ibukota kini memasuki siaga satu. Masyarakat pun dikelola sedemikian rupa agar ada kelompok yang bertugas untuk meronda menjaga keamanan setempat. Kelompok-kelompok itu tersebar dimana-mana, di ibukota termasuk shopping center, gedung perkantoran, tempat-tempat kerumunan.

“Masyarakat mengawasi masyarakat,” kata yang berwenang.

Mulai 20 Agustus 2015 ini, Beijing memberlakukan kendaraan beroperasi secara giliran sesuai nomor kendaraan ganjil genap. Penerbangan dalam negeri menutup counter check in 45 menit lebih cepat. Pengirim surat maupun paket harus didata identitas dirinya, jam sibuk KA bawah tanah pada pagi hari diperpanjang setengah jam, balon udara panas, pesawat model dan lainnya dilarang mengudara. Wilayah udara Beijing dapat sewaktu-waktu diberlakukan larangan tertentu. Bagaikan akan menghadapi musuh besar, Beijing sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan ‘bahaya’ yang akan mengancam.

Melalui cara yang begitu mengkhawatirkan masyarakat untuk memastikan keamanan, mungkin hanya terjadi di negara yang otoriter. Fenomena seperti ini sudah kita jumpai pada 2008 menjelang diselenggarakannya Olimpiade, saat KTT APEC tahun lalu. Untuk mengurangi rasa tidak puas masyarakat Beijing, pihak walikota Beijing pun menggunakan ‘Nasionalisme’ sebagai taktik untuk mengajak partisipasi rakyatnya. Walikota pada 20 Agustus 2015 menerbitkan Surat yang Disampaikan kepada Warga Masyarakat Beijing menjelaskan panjang lebar tentang perlunya partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat Beijing untuk menjaga keamanan wilayah Beijing.

Mau tidak mau, masyarakat Beijing tak bisa berbuat yang lain karena mereka tahu tidak memiliki hak suara. Tidak ada keraguan bahwa dalam 2 minggu ke depan. Kota Beijing termasuk Zhongnanhai akan memasuki situasi tegang. Tak seorangpun warga Beijing yang mengharap insiden ledakan seperti di Tianjin terjadi di Beijing. Namun satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa sampai terjadi insiden di Beijing, berarti tingkat konfrontasi akan meningkat yang akan meningkatkan pula perburuan ‘harimau besar tua’. Tampaknya, ketegangan itu dapat memuncak sewaktu-waktu. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular