Hidup ini kadang cukup menggelikan, setelah seseorang berkeliling hampir ke seluruh dunia, suatu hari orang itu mendadak menjadi ceria karena menyadari makna dari sebuah kata, seperti kata yang tak asing “tobat”. Dulu kata “tobat” hanya dianggap sebagai suatu kategori spiritual. Saat takdir datang memercikkan kilauan riak air yang berlapis-lapis, baru menyadari keindahannya yang mengandung kekuatan yang begitu besar.

Tobat dalam kebudayaan kuno maupun modern ini, memiliki peran teramat penting. Masyarakat Barat menyebutnya penyesalan, masyarakat Timur menyebutnya introspeksi, juga mengenal istilah “tiga tingkat introspeksi diri”. Tobat jika hanya diistilahkan untuk berkultivasi kebaikan, mungkin juga tidak akan dapat menciptakan aliran jernih spiritual yang indah dalam kebudayaan Timur maupun Barat sejak zaman dulu hingga sekarang. Terlebih lagi karena tobat mengandung kekuatan teramat besar menggugah Yang Maha Kuasa, sehingga dapat menimbulkan dampak tak terduga di tengah kehidupa, Dalam lingkup kecil mampu mengubah seseorang meninggalkan kejahatan dan berbuat kebaikan, dalam lingkup besar mampu menghalau malapetaka yang akan menimpa suatu negara.

Menurut catatan sejarah, untuk memaksa para umat Nasrani meninggalkan agama kepercayaan mereka, kekaisaran Romawi menggunakan berbagai siksaan keji untuk menindas mereka. Dengan kewibawaan dan kebijaksanaan dari menganut kepercayaan yang benar dan berbagai mukzijat Tuhan, membuat banyak orang merelakan hidupnya untuk tidak meninggalkan agama kepercayaannya dan hati nuraninya.

Kaisar Roma, Dioklesianus, membenci agama Kristen, memerintahkan penindasan terhadap umat Kristen dan menembakkan panah pada umat Kristen bernama Sebastianus. Karena banyak di antara pemanah yang sangat menghormati Sebastianus, mereka menembakkan anak panahnya ke bagian tubuh yang tidak mematikan. Seorang janda bernama Irene yang baik hati mengambil jasadnya dan mendapati Sebastianus masih hidup, Irene membawa Sebastian pulang ke rumah dan menolongnya merawat lukanya hingga sembuh.

Setelah pulih Sebastianus langsung menemui Kaisar Dioklesianus menasihatinya agar menghentikan penyiksaan kejam terhadap umat Kristiani. Kaisar Roma yang kejam itu justru memerintahkan agar Sebastianus dipukul dengan tongkat sampai mati.

Menurut catatan sejarah, pada tahun 680 Masehi, Kota Roma dilanda wabah penyakit, warga Kota Roma yang menghormati tulang suci Sebastianus dengan mengaraknya keliling kota, kemudian menyesali perbuatan mereka dengan penuh keikhlasan dan bertobat, serta telah membuat wabah penyakit itu terhenti seketika. Peristiwa mukzijat itu tersebar dengan cepat, membuat negara-negara di sekitarnya ikut menghormati tulang suci Santo Sebastianus.

Tahun 1575 Masehi di Milan, Italia dan tahun 1599 di Lisbon, Portugal, terjadi wabah penyakit di kedua kota ini, tingkat kematian meroket. Warga kedua kota ini bertobat dan menyesali perbuatan mereka, menghormati tulang suci itu dengan mengaraknya keliling kota, wabah itu pun berhenti. Pepatah Tiongkok kuno mengatakan, “Yang Maha Kuasa mencintai setiap kehidupan yang mau bertobat” . Saat manusia benar-benar menyesali perbuatannya dan bertobat, Yang Maha Kuasa akan menarik kembali hukuman dari-Nya, dan memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat dan memperbaiki diri serta menebus dosa-dosanya.

Di zaman Tiongkok kuno pada masa kerajaan Dinasti Han saat Kaisar Wu Ti berkuasa, kehidupan masyarakat amat memprihatinkan akibat perang berkepanjangan. Ditambah lagi perilaku Kaisar Wu Ti yang suka seks dan berfoya-foya menghabiskan pungutan pajak dari hasil keringat rakyat. Yang lebih parah lagi, peristiwa santet merajalela, menyebabkan Ibukota Changan semakin kacau balau, negeri Dinasti Han terancam bahaya luar dan dalam. Di saat itu, salah seorang dari 3 tetua Huguan menulis surat pada Kaisar Wu Ti, tetua itu mengutip puisi dari kitab puisi kuno yang berbunyi: “Lalat hijau datang dan pergi hinggap di pagar, kaisar yang jujur tak percaya rumor. Jika tidak rumor akan terus terjadi, kekacauan besar pasti akan melanda negeri”. Tetua itu menasihati Kaisar Wu Ti: “Ayah ibarat langit, Ibu ibarat Bumi, anak-anak ibarat segenap materi di atas Bumi ini, jadi hanya dengan menenangkan langit dan Bumi, maka segala sesuatu yang ada di atas dunia ini baru bisa harmonis dan baik”.

Setelah surat itu dibaca, Kaisar Wu Ti sangat tergugah, kaisar mendadak tersadar, dan segera memanggil semua menterinya untuk mengakui segala kesalahannya dan bertobat di depan seluruh pejabat negara, peristiwa itu menggemparkan seluruh negeri. Berdasarkan masukan dari para pejabat, berbagai kebijakan pemerintahan pun diubah, kaisar secara terbuka mengeluarkan maklumat “pengakuan dosa” yang terkenal itu, menyatakan kesalahan yang telah diperbuat dan menyesali segala dosa-dosanya. Setelah bertobatnya Kaisar Wu Ti, konflik di tengah masyarakat pun mereda dan situasi berhasil diselamatkan, kekaisaran Dinasti Han pun luput dari keruntuhannya. Peristiwa ini membuktikan ungkapan Tiongkok kuno, “Munculnya niat baik dari hati seseorang, segera diketahui oleh Sang Pencipta”.

Masih banyak lagi kisah-kisah serupa lainnya. Ini menandakan, “tobat” yang bersumber dari hati nurani tidak hanya merupakan suatu niat yang suci, melainkan merupakan suatu kekuatan materi yang nyata, yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan yang signifikan. tobat juga tidak semata berupa harapan seseorang menyesali perbuatannya dan ingin berbuat kebaikan, melainkan juga adalah daya upaya yang kuat. Kekuatan inilah yang menghindarkan negara terhindar dari wabah, terhindar dari segala marabahaya. “Menyadari kesalahan dan memperbaiki diri, kebaikan itu jauh melebihi apa pun”, inilah kebenaran sejati para leluhur! (Sud/Yant)

Share

Video Popular