Erabaru.net. Ketika anak-anak mengambil uang Anda, bagaimana dalam menangani hal itu agar mereka tidak mengulangi lagi.

Ketika anak-anak mengambil uang Anda, sebagai orangtua bagaimana cara terbaik dalam menangani hal itu agar anak tidak mengulang perbuatannya?

Para ahli menyarankan lebih baik menggunakan cara halus sekaligus tegas secara bersamaan.

Cara ini tidak hanya bisa membuat anak-anak memahami bahwa melakukan hal-hal buruk secara diam-diam itu pasti akan ketahuan dan akan mendapatkan hukuman, sekaligus membuat mereka tahu bahwa memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan itu barulah anak yang baik.

Sebaiknya hindari penggunakan cara kekerasan terhadap anak, karena mental anak itu masih rapuh, sehingga justru kontraproduktif.

Jangan menggunakan “Interogasi layaknya tahanan” dalam memperlakukan anak yang melakukan kesalahan karena mengambil uang, atau memaksa anak-anak untuk mengakui kesalahannya.

Tapi cobalah menggunakan cara yang agak lembut untuk menyadarkan mereka, agar mereka mengetahui bahwa ayah/ibu tahu akan kesalahan yang mereka lakukan, dan jika berbuat salah itu akan ada konsekuensinya.

Selain itu, Anda harus berusaha mencari tahu faktor yang menyebabkan anak-anak itu mengambil uang, dengan begitu baru bisa menemukan cara untuk pencegahan.

Jika anak-anak mengambil uang untuk membeli sesuatu, dan relatif wajar, maka sebagai orangtua yang bijak seyogyanya memahami pikiran mereka, kemudian bimbing mereka, agar anak-anak tahu bahwa mengambil itu tidak dibenarkan.

Namun, apabila dengan cara kasar, hal ini hanya akan menyakiti harga diri anak itu, atau bahkan membuat mereka bukan saja tidak mau mengakui kesalahannya, tapi justru karena kesalahannya itu membuat mereka tidak mau mengoreksi diri bahkan malah bertindak lebih jauh.

Contoh kasus: Seorang guru dari sebuah sekolah dalam menyikapi kasus pencurian itu adalah menginterogasi satu persatu, menanganinya kasus itu bagaikan penyidik di kantor polisi.

Dan hasilnya jelas, pencurinya adalah seorang anak perempuan.

Lalu, guru itu mengumumkan siapa pencurinya di depan banyak siswa.

Cara guru itu sangat jelas dipahami, tetapi tidak mempertimbangkan secara cermat dengan kapasitas mental yang bisa diterima anak itu dan efek dari pendidikan itu apakah memberi manfaat dalam jangka panjang.

Anak yang ditunjuk sebagai pencuri di hadapan umum itu bukan saja tidak memperbaiki kesalahannya, sebaliknya justru menjadi sesosok orang yang “mendendam pada guru, teman-teman dan bahkan masyarakat”.

Contoh kaus: Tentang pola pendidikan yang tepat dari seorang ibu yang bijaksana. Satu keluarga itu hanya ada dua bersaudara yakni kakak dan adik.

Suatu hari, si kakak yang berusia 12 tahun dan adiknya yang berusia 8 tahun membeli sebuah jam tangan baru, sang kakak mengambil dua lembar uang dengan nominal 1000 dollar Taiwan dari dompet ibunya, satu lembar untuk adiknya, dan selembar lagi untuk dirinya.

Ibunya mendapati uangnya berkurang, lalu menduga uang itu diambil anaknya.Tapi, sang ibu tampak tenang dan tidak terburu-buru menuduh, sampai saat makan malam, ibu berkata pada anak-anak : “Ibu merasa uang di dompet ibu telah berkurang 2000 dollar, jangan-jangan ada pencuri yang masuk ya! Ibu sangat khawatir.”

Saat itu, si kakak menundukkan kepalanya, sementara si adik kelihatan agak gugup, melihat gelagat itu, sang ibu pun menegaskan dugaannya.

Sang adik yang penakut, lalu secara diam-diam mencari kesempatan mengembalikan uangnya itu ke dalam dompet ibunya, sementara sang kakak diam saja.

Tentu saja, ibu yang bijak itu terus mengamati, dan mendapati kalau peringatannya itu berjalan efektif, tapi, masih belum sepenuhnya memecahkan masalah itu.

Lalu, sang ibu menunggu kesempatan dan sambil tersenyum berkata pada kedua anaknya : “Ibu sepertinya keliru, beberapa hari lalu ibu bilang uang ibu berkurang 2000 dollar, sebenarnya ibu salah hitung, ternyata hanya kurang 1000 dollar.”

Sang ibu mengamati respon sang adik biasa saja, dan agak santai, tahu kalau sang adik telah memperbaiki kesalahannya, tapi sang kakak masih saja pura-pura bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lalu, sang ibu kembali mengatakan : “Ibu tidak percaya uang itu diambil oleh anggota keluarga sendiri di rumah, mungkin ada pencuri yang menyelinap masuk ke rumah, kita panggil polisi saja, bagaimana menurut kalian?”

Saat itu, sang ibu melihat si adik mengerlingkan mata ke arah kakaknya, dan tampak ekspresi sang kakak terlihat mulai gugup.

Sang ibu tetap tenang, sambil mengamati secara diam-diam ekspresi kedua anaknya.

Seusai memasak, sang ibu kemudian memeriksa isi dompetnya, dan melihat lembaran 1000 dollar nya telah kembali ke tempatnya semula, sang ibu pun tahu kalau anak sulungnya itu juga telah mengembalikan uang yang diambilnya.

Sejak saat itu sang anak tidak pernah mengambil uang lagi.

Kesimpulan

Cara ibu yang rasional itu mencerminkan toleransi dan keseriusan.

Tidak secara langsung menuduh anak-anak, tetapi mengisyaratkan atau menunjukkan pada anak-anak, memberikan anak-anak waktu untuk berpikir dan membuat pilihan mereka sendiri, ini adalah toleransi ; kemudian saat ibu mengatakan akan “memanggil polisi” hal ini untuk menunjukkan keseriusan masalah tersebut, agar anak-anak tahu akan konsekuensi dari mencuri itu, ini mencerminkan ketegasan sekaligus keseriusan orangtua dalam menyikapi kesalahan anak-anak.

Lagipula, sang ibu begitu percaya diri, ia yakin anak-anak tidak jahat (buruk kelakuan) dalam arti yang sebenarnya, itu hanya dorongan sesaat, dan tentu saja, sang ibu juga percaya kalau pola pendidikannya itu memberikan hasil yang baik. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular