Introvert dan extrovert itu sendiri tidak ada istilah baik atau buruk, tapi istilah yang digunakan psikolog untuk membedakan karakteristik yang berbeda dari setiap orang. Namun, ketika pertumbuhan anak-anak itu membutuhkan dorongan dari kita, dimana jika kita memberikan label yang keliru pada anak-anak, ini akan menghambat perkembangan sifat alami anak-anak.

Ketika saya mengantar anak putri saya ke Taman Kanak-kanak, secara kebetulan bertemu dengan ibunya selly yang juga mengantar putrinya ke sekolah, begitu melihat ibunya Selly, dengan ceria putri saya berteriak : “Halo tante, ” ibunya Selly pun menyuruh putrinya (Selly) menyapa saya, tapi, Selly memalingkan kepalanya ke sisi lain. Selly bergeming tidak peduli apa yang dikatakan ibunya. Dengan marah dan tak berdaya ibunya Selly berkata pada saya : “Maaf ya Mer, putri saya Selly pemalu, tidak tahu bagaimana menyapa pada siapa pun yang ditemuinya.” Saya segera memberi isyarat pada ibunya Selly, tidak apa-apa, jangan lagi menyalahi anak-anak.

Setelah mengantar anak ke sekolah, saya dan ibunya Selly lalu pergi ke pasar beli sayur. Ibunya selly terus mengomeli Selly saat ngobrol denga saya. Selalu tidak mau menyapa orang-orang yang ditemuinya, tidak bisa menyapa kerabat atau teman-teman yang berkunjung ke rumah, benar-benar berwatak introvert, tidak suka bicara. Tapi terkadang ia bisa bermain dengan semangatnya bersama anak-anak ketika membawanya jalan-jalan, demikian juga saat di TK.

Saya bilang pada ibu Selly : Sebenarnya sifat introvert /ekstrovert itu sendiri tidak ada istilah baik atau buruk, tapi kalau introvert itu memang tidak baik ; Menjadikan inferioritas (rasa rendah diri) sebagai introvert, akan menyebabkan penyesalan anak seumur hidupnya.

Menurut keterangan ibu Selly, bahwasannya Selly memang berwatak pemalu, penakut, biasanya suka bermain bersama anak-anak kecil, tapi dia menjadi diam seribu bahasa tidak bisa menyapa saat bertemu orang dewasa ; Tidak suka sekolah, agak pemberontak ; takut tapi juga sekaligus benci ayahnya .

Sampai di sini, membuat saya terkenang kembali dengan masa kecil saya dulu, saat kecil dulu saya juga tidak berani menyapa guru atau orang-orang dewasa, saya selalu berputar arah jalan saat bertemu guru. Saya juga tidak berani berbicara dengan lawan jenis. Setelah dewasa dan bekerja, saya tetap tidak berani menyapa pimpinan, karena rendahnya keterampilan komunikasi saya, sehingga kesempatan untuk dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi pun dengan sendirinya juga sangat sedikit. Lantas apakah saya juga termasuk introvert ?

Ada seorang pemain biola yang handal, tapi selalu ingin bunuh diri setelah tenar. Ia migrasi ke Amerika Serikat, setiap malam ia harus menelepon sekitar 1 – 2 jam pada pastor, dan ini berlangsung hingga sepuluh tahun lebih lamanya. Ketika berbicara di atas podium dia sangat kebingungan, sangat jauh berbeda dengan pertunjukkan instrumen musik yang dimainkannya. Dia adalah seorang yang berbakat, dari keluarga intelek, pemusik ajaib, meraih ketenaran, ia canggung saat berbicara di atas panggung. Lantas apakah ini introvert ? Dan masih banyak lagi contoh seperti ini….

Sebenarnya, saya tahu benar kalau saya bukan berwatak introvert. Banyak anak-anak juga bukan berwatak introvert, tapi penakut, rendah diri, “yang diintroversikan”. Belakangan saya dipromosikan ke manajer departemen. Pimpinan meminta saya untuk memberikan pelatihan minimal 4 jam setiap bulan pada karyawan, saya mulai mencoba untuk berubah, ketika pelajaran saya diakui oleh pimpinan perusahaan dan segenap karyawan, perlahan-lahan saya mulai berani. Kini, saya tidak saja ekstrovert, tapi si bawel yang menjengkelkan.

Setelah mengalaminya sendiri, akhirnya saya tahu sebuah arti kebenaran : sejak anak-anak mulai bisa mengucapkan kata-kata yang paling sederhana, maka kita harus mendorongnya untuk bermain dan berkomunikasi dengan anak-anak lain. Jika saat itu dia tidak mau bicara, kita harus memakluminya. Oleh karena itu, kesan paling kuat dari putri saya kepada orang-orang adalah berani, pemikiran yang unik, terampil dalam menyampaikan pandangannya.

Kesimpulan : Introvert dan extrovert itu sendiri tidak ada istilah baik atau buruk, tapi merupakan suatu metode yang digunakan psikolog untuk membedakan karakteristik yang berbeda dari setiap orang. Namun, ketika pertumbuhan anak-anak itu membutuhkan dorongan dari kita, dimana jika kita memberikan label yang keliru pada anak-anak, ini akan menghambat perkembangan sifat alami anak-anak. Lalu menjadikan rasa rendah diri itu sebagai introversi, sehingga mengaburkan penyimpangan dalam pendidikan anak, melewatkan waktu terbaik dalam menyesuaikan dan memperbaiki jiwa anak-anak, akibatnya anak-anak harus menguras banyak usaha dan energi untuk memerangi perasaan negatif dari rendah diri itu. Sehingga tentu saja menunda perkembangan mereka, bahkan terjadi tragedi yang lebih serius. Sebagai orangtua perlu lebih banyak mengetahui, memahami dan menghargai sifat bawaan anak-anak, tidak memberikan label pada mereka, dan jangan biarkan mereka “diintroversi”, berikan segera mereka pertumbuhan rohani dan nutrisi yang cukup, dan dengan penuh percaya diri menemani mereka tumbuh dalam suasana ceria. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular