Erabaru.net. Cukup banyak orangtua merasakan satu kesan yang sama.

Anak-anak sekarang pada dasarnya dalam perilaku sehari-hari mereka, kurang mengetahui tentang etika sopan santun, angkuh dan mengangap dirinya melebihi orang lain.

Namanya juga anak-anak, bicara apa adanya, tanpa pertimbangan.

Terutama anak-anak di bawah usia 7 tahun dan tidak mendapatkan pendidikan di sekolah, apa yang dipikirkan itulah yang diucapkan, tidak sepandai orang dewasa.

Karena anak-anak masih belia, tidak begitu paham dengan segala hal ihwal yang ditemui, bukan anak-anak yang tidak pintar, anak yang tahu sopan santun juga perlu waktu untuk melatih.

Namun ada juga anak-anak dari beberapa keluarga yang sejak kecil berperilaku baik dan tahu tata krama.

Ketika melihat anak-anak keluarga lain yang punya sikap sopan santun, apakah Anda juga ingin agar putra-putri Anda berperilaku seperti mereka?

Sebenarnya, orangtua adalah gurunya anak-anak, dan merupakan guru pertamanya mereka.

Pola pendidikan dan perilaku orangtua dalam kehidupan sehari-hari akan berdampak langsung pada anak-anak.

Karena itu, jika Anda ingin putra putri Anda tahu akan budaya santun, maka Anda sendiri juga seyogyanya sehari-hari berbicara dengan bahasa yang santun juga, sehingga anak-anak bisa belajar dari Anda.

Biarkan ia mengalaminya sendiri

Orangtua memiliki “lingkaran” mereka sendiri : Kerabat, teman sekolah, rekan kerja, dan teman-teman lain, tapi bagi anak-anak, “lingkaran” orang-orang dewasa itu terasa asing di mata mereka.

Persahabatan antar orang dewasa itu tidak bisa dipahami anak-anak. dan sulit rasanya meminta anak-anak agar bisa seperti kita, beramah-tamah secara tulus terhadap tamu kita.

Jika ingin meminta anak-anak agar menerima dan ramah dengan tamu, maka perlu dibicarakan lebih dulu dengan si anak perihal tamu bersangkutan.

Komunikasi ini sangat penting, karena anak-anak menunjukkannya mengikuti perasaan orang dewasa.

Seperti misalnya hubungan ayah/ibu dengan tante yang akan bertamu nanti itu sangat akrab, ketika tamu datang, ia akan sangat antusias.

Jadi, setiap ada tamu yang berkunjung, ayah/ibu bisa bercerita sejenak tentang persahabatan dengan tamu bersangkutan, cerita tentang hal-hal lucu Anda dengan si tamu, sehingga dengan demikian anak-anak akan bersikap santun terhadap tamu mengikuti perasaan Anda.

Senyum, adalah salah satu cara bersikap santun

Jika si anak sering berada di dalam lingkungan orang-orang yang murah senyum (ramah) , sehingga dengan sendirinya ia akan bisa belajar memperlakukan orang lain dengan ramah sambil tersenyum ; sebaliknya, jika sering berada dalam lingkungan orang-orang yang “mukanya masam”, maka secara otomatis juga ia akan kena tinta hitamnnya (pengaruh buruk), sehingga dengan sendirinya ia akan menjadi anak yang kasar dan tidak sopan.

Jangan memaksakan kehendak terhadap anak-anak

Terkadang akan Anda temukan, tidak peduli bagaimana Anda membimbing, anak Anda tetap saja berikeras tidak mau menyapa tamu yang berkunjung, hingga pada akhirnya bisa jadi akan menangis.

Barangkali ada banyak faktor, mungkin ia tidak mengerti mengapa harus begitu, segan dan malu, atau mungkin itu karakter bawaan.

Sebagai orangtua yang arif, kita seharusnya menerima karakternya yang memang seperti itu, jangan memaksa anak-anak harus begini atau begitu di hadapan orang luar.

Bawa anak-anak bertamu

Membawa serta anak-anak bertamu ke rumah orang adalah hal biasa. Orangtua juga seyogyanya mendidik anak-anak pengetahuan dasar tentang bertamu.

Pertama-tama, kita harus mendidik anak-anak bagaimana cara menyapa orang lain.

Ajarkan anak-anak bagaimana menyebut panggilan hormat seseorang dari sisi usia, dan memberi salam ini sangat penting.

Terhadap orang-orang yang sering dijumpai, misalnya kakek-nenek, paman, bibi dan sebagainya, anak-anak umumnya tahu bagaimana memanggilnya.

Tapi bagaimana dengan tamu atau orang-orang yang jarang dijumpai, jadi, orangtua perlu mengajar anak-anak.

Misalnya, bagaimana cara memanggil orang yang lebih besar, tua, senior (dari sisi usia) dan seterusnya.

Karena panggilan-panggilan seperti ini jarang diucapkan anak-anak, sehingga akan terasa kaku saat memanggil.

Jika menunggu sampai bertemu dengan tamu baru mengajarinya, hal ini mungkin akan membuat anak-anak merasa tidak nyaman dan malu sehingga segan untuk bicara.

Oleh karena itu, lebih baik sebelumnya “latihan” dulu sejenak bersama anak, sehingga saat memanggil juga akan terasa lebih alami.

Kedua, beritahu anak Anda tidak boleh mengutak-atik benda apa pun saat bertamu ke rumah orang, mengutak-atik barang orang lain itu adalah perilaku yang tidak baik dan tidak sopan.

Terakhir, ingatkan pada anak-anak, saat makan juga harus santun.

Semua orang suka makanan yang enak, tidak boleh dimakan sendiri, harus bisa (belajar) rendah hati.

Misalnya, ada makanan kesukaannya di atas meja, tidak boleh makan sendiri, asalkan sudah mencicipinya, itu juga sudah cukup, sisakan beberapa untuk orang lain.

Baik sebagai tamu atau tuan rumah, penting sekali memberikan suntikan antisipasi lebih dulu tentang tata krama pada anak-anak.

Dengan belajar memahami etika sopan santun di masa anak-anak, sebenarnya untuk meletakkan dasar yang baik bagi hubungan interpersonal anak-anak di kemudian hari.( Secretchina/Jhn/Yant)

Share

Video Popular