Melalui perundingan intensif yang berlangsung selama hampir 3 hari, kedua Korea akhirnya mencapai kesepakatan pada Senin (24/8/2015). Pyongyang meminta maaf atas penanaman ranjau di perbatasan yang mencederai 2 orang tentara penjaga perbatasan Korea Selatan. Sementara itu, Korea Selatan berjanji akan menghentikan propaganda yang diarahkan kepada rakyat Korea Utara pada keesokan harinya pukul 12 siang waktu setempat. Suatu konfrontasi tegang antar kedua Korea yang hampir memicu konflik senjata akhirnya reda secara dramatis.

Reuters melaporkan bahwa para wakil dari kedua Korea melakukan perundingan marathon selama 2 hari lebih dalam suasana konfrontasi militer. Saat ini mereka sudah mencapai kesepakatan. Dalam pernyataannya Korea Utara menyampaikaan rasa penyesalan atas tindakan penanaman ranjau yang mengakibatkan kedua orang tentara Korea Selatan mengalami cedera. Sementara itu, Korea Selatan berjanji menghentikan propaganda kepada rakyat Korea Utara pada keesokan harinya tepat pukul 12 siang waktu setempat.

Korea Utara juga setuju untuk mengakhir keadaan siaga perang mereka. Dalam pernyataan bersama itu disebutkan bahwa untuk lebih meningkatkan hubungan antar kedua Korea, kedua belah pihak mulai bulan depan akan membuka pintu reuni bagi keluarga mereka yang terpisah. Serta melanjutkan perundingan-perundingan di Seoul dan Pyongyang.

Jurubicara istana kepresidenan Korea Selatan mengatakan bahwa Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Kim Kwan-jin akan mengeluarkan pernyataan resmi segera setelah beliau tiba kembali dari Panmunjom.

Dalam konferensi persnya Kim Kwan-jin mengatakan bahwa sekarang belum saatnya untuk membahas kapan waktu kedua pemimpin tertinggi kedua Korea itu akan bertemu.

Ketegangan antar kedua Korea kali ini dipicu oleh peledakan ranjau yang mencederai 2 orang tentara penjaga perbatasan, Korea Selatan kemudian membalas melalui penyiaran propaganda yang pernah mereka lakukan 11 tahun lalu. Karena itu Kim Jong-un jadi marah.

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye pada Senin (24/8/2015) menegaskan bahwa jika Korea Utara tidak minta maaf atas insiden peledakan ranjau, maka Korea Selatan tidak akan menghentikan propaganda di wilayah perbatasan.

“Korea Utara harus menyatakan permintaan maaf dan mencegah agar situasi provokatif yang mengganggu keamanan tidak terulang. Bila mereka gagal melakukan hal itu, maka pemerintah Korea Selatan akan mengambil tindakan yang tepat, untuk terus menyiarkan melalui pengeras suara tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh rakyat Korea Utara. Saya percaya kepada militer Korea Selatan, yakin terhadap loyalitas prajurit Korea Selatan,” demikian pernyataan Park Geun-hye.

Selama perundingan berlangsung, pihak Korea Utara menambah pasukan artileri di wilayah perbatasan sampai 2 kali lipat jumlah sebelumnya. Termasuk mengerahkan 50 unit kapal selam mereka ke perairan dekat Korea Selatan. Untuk itu, seorang pejabat pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara memainkan ‘tangan halus dan kasar’ secara sekaligus.

‘Daily Mail’ Inggris dalam laporannya menyebutkan, meskipun pemerintah Korea Utara bersuara dengan profil tinggi kepada dunia luar, unjuk kekuatan. Tetapi rakyatnya tidak merasakan sedikit pun adanya ketegangan perang, mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Warga Pyongyang banyak yang berkumpul di taman untuk menonton film kartun, bukannya cemas menunggu hasil perundingan. (Ma Li/sinatra/rmat)

Share

Video Popular