Erabaru.net. Seekor unta dengan susah payah telah melewati gurun pasir, dan seekor lalat yang mendekam di punggungnya tanpa menggunakan sedikit tenaga pun telah mencapai tujuan yang sama.

Lalat mengejeknya: ”Terima kasih unta, kamu telah bersusah payah membawaku kemari. Sampai jumpa!” Sang unta menatap lalat itu sejenak dan berkata: ”Ketika kau berada di punggungku, aku tidak tahu, kau kini pergi, tidak perlu memberitahuku juga, kau sama sekali tidak berbobot, maka jangan me-mandang dirimu terlampau berbobot, kau kira kau ini siapa?”

Pada suatu hari sastrawan Inggris George Bernard Shaw sedang bersantai, lalu bermain dengan seorang bocah perempuan yang tidak ia kenal, ketika menjelang petang, Bernard berkata kepada si bocah perempuan itu, pulanglah dan beritahu ibumu, katakan sepanjang sore ini Tuan Bernard telah bermain denganmu, tak disangka anak perempuan itu langsung merespon dengan sepatah kata: “Juga beritahu ibu Anda, katakan Mary sepanjang sore tadi telah bermain dengan Anda.”

Dikemudian hari, Bernard Shaw mengatakan kepada seseorang, “Manusia, janganlah sekali-kali memandang dirinya terlalu penting.”

Seorang artis terkemuka Ying Ruocheng pernah menceritakan sebuah kisah.

Ia dibesarkan di dalam sebuah keluarga besar, setiap makan selalu bersama di ruang makan besar beserta beberapa puluh anggota keluarganya.

Suatu kali, ia tiba-tiba timbul pikiran ingin bercanda dengan mereka, sebelum makan ia bersembunyi dalam sebuah lemari yang tidak mencolok di ruang makan itu untuk menunggu hingga mereka tidak menemukannya baru melompat keluar.

Yang membuatnya kikuk adalah, mereka sama sekali tidak memerhatikan ketidak-hadirannya, setelah menyantap kenyang hidangan, mereka semua meninggalkan tempat, ia terpaksa keluar dengan lesu dan melahap lauk-pauk yang tersisa.

Sejak itu ia mengingatkan dirinya: Jika tidak ingin mengalami kekecewaan maka selamanya jangan memandang diri sendiri teramat penting.

Sastrawan besar Dinasti Song, Su Dongpo, ketika masih muda sangat congkak.

Suatu hari ketika ia berjalan di pematang sawah, tiba-tiba berpapasan dengan seorang wanita desa.

Wanita desa itu memikul sekeranjang tanah, mereka saling tidak mau mengalah, akhirnya wanita desa mengusulkan, jika ia mampu menyampaikan bagian bawah kuplet antitesis (sejenis sajak terdiri dari 2 bagian atas dan bawah yang berhubungan artinya) dengan baik, maka dia rela mundur.

Ternyata kuplet bagian atas wanita desa itu berbunyi: “Sepikul tanah berat menghalangi Zi Lu (seorang murid Konfusius, juga bermakna ganda: perjalanan).” Tidak dapat dijawab oleh Su, petani yang bercocok tanam di kedua sisi sawah menertawainya terbahak-bahak, dalam keadaan terdesak Su meneruskan bagian bawah kuplet dengan kata-kata: “Petani di kedua sisi sawah menertawai Yan Hui (juga nama seorang murid Konfusius).” Kemudian Su melepas sepatu dan kaus kaki, memberi jalan kepada wanita desa itu.

Sesungguhnya, penting tidaknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang, standar tersebut jelas bukan diri sendiri yang menentukan.

Tenang dan rendah hati barulah merupakan hal yang paling berbobot.

Sastrawan Rusia Lev Tolstoy pernah dianggap oleh seorang wanita bangsawan sebagai kuli pengangkut koper, Tolstoy dengan senang hati mengerjakannya dengan baik, dan mendapatkan imbalan sebesar 1 Rubel, ketika wanita itu mengetahui si kuli itu ternyata adalah Tolstoy, dia tersipu malu dan berusaha mengambil kembali 1 Rubel tersebut, namun Tolstoy malah dengan gembira mengatakan, tidak, ini merupakan hasil lelah saya, sama pentingnya dengan royalti.

Walau Ronald Reagan adalah seorang Presiden, namun ia dapat “memandang remeh” dirinya.

Seorang anak lelaki bernama Billy menderita penyakit berat, tidak akan hidup lama lagi, mendengar keinginan paling besar Billy adalah menjadi presiden, maka Reagan mengundangnya datang ke Gedung Putih, dan mempersilahkan Billy duduk di dalam ruang Oval, Reagan sendiri menjadi asisten Billy dan membantunya menangani pekerjaan resmi kenegaraan selama sehari penuh.

Seorang mahasiswa baru pertama kali datang kuliah di sebuah universitas, ia mencegat seorang kakek tua penjaga gerbang, memintanya membantu mengawasi kopernya sejenak.

Pada keesokan harinya ia baru mengetahui, si kakek tua penjaga gerbang itu adalah wakil rektor, yakni sarjana terkenal bernama Ji Xianlin.

Sarjana yang menguasai ilmu Timur dan Barat itu dapat sedemikian rupa memandang remeh diri sendiri, mungkin juga merupakan salah satu penyebab terpilihnya ia sebagai sarjana teladan pada masa itu.

Franklin, dikenal sebagai Bapak Bangsa Amerika Serikat, ketika masih muda pernah mengunjungi seorang veteran yang sangat bereputasi.

Kala itu dengan semangat tinggi seorang muda, ia membusungkan dada, mata menatap ke atas melangkah masuk ke dalam rumah, begitu melewati pintu, kepalanya terbentur keras pada kusen pintu, rasa sakit membuatnya terus memijat-mijat dahi sambil memandangi kusen pintu yang lebih rendah dari dirinya.

Sang veteran tua yang keluar menjemputnya melihat keadaan itu sambil tersenyum berkata: ”Nampaknya sakit benar! Akan tetapi, ini akan merupakan hasil paling besar kunjungan Anda kepada saya hari ini.

Seseorang jika ingin hidup dengan tenang dan selamat di dunia ini, maka harus senantiasa ingat: Disaat harus menundukkan kepala haruslah tunduk.

Ini adalah hal yang akan saya ajarkan kepada Anda juga.”

Sepasang suami istri sering bertengkar atas masalah sepele.

Demi mengalahkan kegarangan sang suami, sang istri memutuskan bercerai sebagai ancaman kepada suami.

Maka, dia yang selalu sewenang-wenang menulis sendiri surat perjanjian cerai, menyatakan semua harta milik suami, anak juga ikut suami, setiap tahun dia membiayai anak sebesar 500 dollar AS, dengan demikian hendak menunjukkan tekadnya untuk bercerai.

Dia mengira sang suami tidak akan menyetujuinya.

Tak dinyana sang suami dengan serta-merta menyetujuinya. Seminggu kemudian, dia berinisiatif memohon sang suami untuk membatalkan penceraian, namun ditolak.

Dia mengatakan kepada suami: ”Aku memberimu setengah tahun, jika masih tidak menyetujui pembatalan penceraian, maka aku akan kawin dengan orang lain!”

Dia terlalu memandang tinggi dirinya, mengira sang suami tidak akan menikah lagi selain dengan dia!

Dia terus berharap sang suami yang telah berubah agak asing bagi dirinya, dapat tergugah hatinya atas ultimatum itu, namun sang suami tanpa berpikir mengatakan, “Aku sudah cukup menderita karena ulahmu, Silakan saja!” Selanjutnya, mereka benar-benar bercerai.

Kisah ini nyata dan sederhana, tapi ia memberitahu kita, harus belajar mengenali diri sendiri, jangan sekali-kali memandang terlalu tinggi diri sendiri.

Di dalam dunia ini keberadaan setiap orang sangat penting, namun walaupun kehilangan seseorang, Bumi tetap berputar seperti sedia kala.

Sebagai seorang manusia boleh percaya diri, namun jangan menyombongkan diri; boleh sesekali semaunya sendiri, namun jangan terlalu arogan; boleh sehat panjang umur, namun jangan ingin hidup kekal tanpa batas; dapat berusaha keras untuk membalikkan situasi krisis, namun mutlak tidak mungkin menciptakan dunia baru.

Tidak memandang terlalu tinggi diri sendiri, sesungguhnya merupakan semacam pengasuhan diri, semacam sikap anggun, semacam taraf kondisi yang mulia, semacam sikap hidup yang selalu optimis, merupakan semacam kedewasaan sikap hati, sebuah penghambaran atas kemauan hati.

Seorang manusia yang bersikap hati demikian, dirinya akan semakin sehat dan semakin berlapang dada.

Mengerjakan sesuatu dengan sikap hati demikian, dapat membuat kehidupan lebih ringan dan lebih mantap.

Menggunakan sikap hati demikian untuk mengatasi masalah dunia, dapat membuat masyarakat semakin harmonis. (Tys/Yant)

Share

Video Popular