Dalam kehidupan nyata, orang acapkali memiliki pandangan yang berbeda terhadap kehidupan diri sendiri yang penuh dengan unsur ketidakpastian ini. Salah satu pandangan yang disebut orang sebagai “teori fatalisme” beranggapan bahwa, hidup dan mati, kaya atau miskin adalah nasib, dan itu semuanya ditentukan oleh Tuhan. Pandangan yang lain beranggapan bahwa semua hal tergantung perbuatan manusia, pandangan tersebut mencoba untuk memberitahu manusia bahwa nasib itu tergenggam dalam tangan sendiri dan kebahagiaan tergantung kita sendiri yang memperjuangkannya.

Karena itu, ketika menghadapi pilihan penting, manusia yang telah menerima pengaruh dari dua pandangan yang bertentangan ini, kehidupan mereka sesudahnya dengan sendirinya akan menampakkan perbandingan yang jelas, bahkan ada kemungkinan bertentangan sehingga menimbulkan konflik dan benturan dalam situasi dan hasil yang berbeda.

Selama ini, manusia senantiasa terjebak dalam dilema yang tak mampu ia lepaskan yakni antara tergantung nasib atau tergantung diri sendiri, terhadap permasalahan tersebut juga selalu ingin memperoleh jawaban atas pertanyaan: Apakah sesungguhnya nasib manusia bisa diubah? Jika dapat diubah, apakah gerangan yang disebut titik krusial untuk mengubah nasib itu? Barangkali buku Liao Fan Si Xun (了凡四訓, Empat Hikmah dari Liao Fan), bisa membukakan pintu gerbang bagi kita untuk memahami perihal nasib dan suka-duka kehidupan.

Orang yang pernah membaca buku tersebut, hampir semuanya pasti terkesan dan terharu akan penulisnya, Yuan Liaofan (1533-1606), yang boleh dibilang telah mengalami suatu kehidupan yang legendaris. Jika bukan pengalaman diri sendiri yang dijadikan sebagai contoh dan kisah nyata, mungkin siapapun tidak akan bisa membayangkan, nasib yang sudah diterawang dan dihitung akurat oleh pertapa Tao, Xian Gu Dao Ren, diluar dugaan telah muncul pembalikan nasib yang begitu ajaib dalam paruh hidupnya. Asalnya menurut penghitungan nasib Yuan hanya bisa mendapatkan juara ketiga dalam ujian negara, namun pada akhirnya berhasil menyabet juara satu; juga sebenarnya ia ditakdirkan tidak berjodoh menjadi pejabat, tak dinyana sukses meraih gelar kesarjanaan dalam ujian desa; padahal sudah ditakdirkan tidak mempunyai keturunan, tetapi dalam paruh hidupnya ternyata dianugerahi seorang putra; juga sebenarnya sudah dihitung akan meninggal dalam usia 53 tahun, tak disangka dalam usia 69 tahun masih tetap sehat bugar serta mulai menuliskan kisah nyatanya, Liao Fan Si Xun.

Ketika semua orang sangat mengagumi kehidupan Yuan Liaofan yang berubah sesuai keinginan, sepertinya mereka secara diam-diam juga menemukan, ternyata nasib itu bisa diubah; ketika manusia secara tidak sengaja dapat merasakan dan mendeteksi dibalik perubahan tersebut mestinya tersembunyi semacam kekuatan gaib, maka mereka dapat berupaya mencari dalam kisah tersebut untuk mengetahui sebenarnya kekuatan gaib apakah yang bisa mengubah nasib dan membuat nasib seseorang berubah total?

Bagi orang yang mengenal dekat Yuan Liaofan mungkin akan berkata, perubahan nasib itu disebabkan Yuan beruntung bisa pergi ke Gunung Qixia dan memperoleh petunjuk dan wejangan oleh biksu agung Yun Gu, barulah ia bisa memahami misteri kehidupan. Perkataan tersebut ada benarnya, akan tetapi dalam kenyataannya yang lebih penting adalah kata-kata krusial sang biksu agung.

Dalam pandangan biksu agung Yun Gu, selama seorang manusia biasa masih mempunyai hati sombong, ini merupakan akar penyebab mengapa nasib masih bisa membelenggu manusia pada umumnya. Namun, “Hal itu tidak berlaku bagi manusia yang sangat bajik, nasib tidak lagi bisa mengekangnya”. Selain itu sang biksu agung juga menyitir kitab kebijakan kuno dengan mengatakan meskipun mengakui dalil nasib, tetapi juga menunjukkan bahwa hal yang asalnya mustahil terjadi, ternyata bisa ditebus dengan “mengumpulkan kebajikan” dan terjadilah “memiliki keberuntungan berlebih”.

Setelah itu, Yuan Liaofan yang telah mendapatkan pencerahan mulai menapaki perjalanan perubahan nasib yang luar biasa. Walau disaat sendiri, hatinya selalu bersyukur dan respek terhadap hukum alam semesta; walau mengalami fitnahan dan ketidakadilan ia tetap mempertahankan hati yang tenang dan damai.

Dalam kurun 10 tahun ia secara teguh dan kontinu melakukan hal-hal baik sebanyak 3.000 kali dan kemudian setelah menjadi bupati ia mengurangi pajak rakyat sebesar 50%. Seorang pejabat yang tidak mementingkan diri sendiri, menyayangi rakyat dan berperilaku adil seperti ini sepatutnya dipandang sebagai pejabat yang berakhlak tinggi dan dipenuhi berkah pahala. Akhirnya, berkat telah menanam perilaku kebajikan yang luar biasa maka telah berefek luar biasa pula, suratan nasib yang semula tidak bisa tergoyahkan ini telah mengalami perubahan secara gaib.

Ketika kita bersujud kepada yang maha kuasa memohon keselamatan dan kebahagiaan, pertama-tama seharusnya lebih mengutamakan prinsip “Sang Pencipta hanya melihat hati manusia” yang ditanam secara dalam-dalam di relung hati kita masing-masing. Ketika kita berdiri bimbang dan ragu di persimpangan jalan kehidupan, mungkin kita harus mengingat-ingat dengan jelas bahwa tak peduli menuruti kebaikan atau mengikuti kejahatan semuanya pasti akan menampakkan hasil akhir yang berbeda. Dalam kenyataan, ketika setiap orang begitu dalam sekejap sedang membuat pilihan, takdir pertemuannya dalam kehidupan yang saling bersepadanan langsung telah ditetapkan, inilah makna sebenarnya dari “takdir Tuhan sulit dilanggar”.

Jika ingin mengubah hasil akhir tragis yang disebabkan oleh dampak niat pikiran jahat, hanya dengan memohon kepada Sang Pencipta untuk mendobrak aturan yang telah ditetapkan, agar menjadi “anak beruntung” yang tidak perlu bertanggungjawab atas perilaku negatif diri sendiri, mutlak adalah sesuatu yang mustahil. Hal itu sendiri adalah semacam niat jahat pasca melakukan hal-hal buruk dengan tidak mau menanggung risikonya.

Satu-satunya yang bisa mengubah kelapukan menjadi sesuatu yang menakjubkan ialah: mengubah kejahatan menjadi kedamaian dan hanya dengan mengubah hati diri sendiri dengan mencampakkan kejahatan mengikuti jalan kebajikan. Karena belas asih dari Sang Pencipta hanya terletak pada menyadarkan manusia dan melalui berbagai metode memberitahukan kepada manusia tentang hukum alam “kebaikan dan kejahatan akan selalu berimbalan”, dan jika benar-benar ingin mengubah nasib dan menciptakan keajaiban hidup, pada gilirannya masih tetap harus bergantung pada niat-pikiran-ucapan dan tindakan. Dengan demikian baru bisa mengetahui titik krusial dalam melepaskan diri dari kekangan nasib. (Lin/Yant)

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular