Erabaru.net. Faktor pertama mengapa anak-anak tidak memiliki kemampuan bergaul dengan teman sebayanya dapat dikatakan karena mandeknya pertumbuhan spontanitas.

Anak-anak dengan pertumbuhan spontanitas yang lancar tidak hanya sangat nakal, lagipula saat menginjak usia tiga tahun akan menjadi sangat aktif dalam mencari teman.

Karena saling bentrok dengan pendirian diri, mereka kerap akan bertengkar atau berkelahi sebentar, tidak lama kemudian menjadi bengal.

Ini adalah periode dasar yang membentuk kemampuan bergaul dengan teman-teman.

Anak-anak dengan pertumbuhan spontanitas yang lancar, dimana saat duduk di kelas dua, tiga SD ia akan membentuk “Geng” bersama teman-temannya dan bermain kemana-mana, menyambut datanganya masa puncak bermain dengan teman-teman, yaitu “era gang”.

Namun, jika menjadikan kenakalan itu sebagai hal yang buruk kemudian diilarang, maka spontanitas anak-anak tidak akan berkembang, dan saat menginjak usia 3 – 4 tahun juga tidak ada keinginaan mencari teman, bahkan ketika melihat anak-anak lain nakal, ia akan berpikir bahwa itu melakukan hal yang buruk, dan tidak akan bermain dengan anak-anak seperti itu.

Setelah masuk TK, ia hanya bisa menyaksikan dari samping anak-anak yang bermain, sementara dirinya tidak bergabung dalam lingkaran permainan mereka.

Terjadinya kondisi anak-anak seperti ini, jelas disebabkan oleh spontanitas yang mandek, jadi, “metode menekan perkembangan spontanitas”yang diulas dalam bab ke tiga ini harus dihentikan.

Artinya, jangan lagi menjejal anak-anak ke dalam bingkai sebagai “anak yang baik”, jangan lagi berlebihan melindungi, tetapi semaksimal mungkin berikan kebebasan pada mereka.

Sorang anak yang mendapatkan kebebasan, awalnya akan menunjukkan kebingungannya, tapi spontanitasnya secara bertahap akan meningkat, bahkan meskipun telah menjadi seorang siswa sekolah menengah, ia akan secara aktif mencari teman.

Faktor kedua tidak bisa menjalin persahabatan dengan teman, karena kurangnya simpati dan pengertian.

Faktor lain seseorang yang tidak bisa menjalin persahabatan boleh dikata karena tidak terbinanya rasa simpati dan pengerian terhadap orang lain.

Seorang anak yang tidak memiliki rasa simpati maupun pengertian terhadap teman sebayanya kerap akan beritikat buruk sesekali terhadap anak-anak lain, atau menyerang sesekali anak-anak lainnya dan sebagainya.

Misalnya, sengaja mendorong anak-anak ke dalam lubang pasir ; merusak hasil karya seni anak-anak ; saat anak-anal lain sedang senang-senangnya bermain, ia dengan sengaja dan bersikeras mengacaukan suasana dan sebagainya.

Untuk menganalisis anak seperti itu, pertama yang perlu dipertimbangkan adalah apakah anak itu tidak mendapatkan belaian kasih sayang dari orang tuanya di rumah, sehingga suasana hatinya (emosinya) selalu labil.

Kita bahkan bisa mengatakan, bahwa perilaku anak-anak seperti ini, merupakan sinyal merah “selamatkanlah saya”, “cintailah saya” yang dipancarkan anak-anak.

Ketika hubungan emosional antara ibu dan anak tidak terjalin sepenuhnya, maka suasana hati atau emosional anak-anak, jika bukan karena tidak stabil berarti telah menjadi kaku.

Anak-anak yang emosionalnya tidak stabil akan kehilangan keharmonisan dan hubungan yang stabil antar sesamanya ; anak-anak yang emosionalnya telah menjadi kaku (keras), kebanyakan jarang tersenyum, pendiam tidak suka bicara, mekipun memintanya ikut berpartisipasi dalam permainan, juga tidak akan menunjukkan kegembiraannya, apalagi anak-anak seperti ini juga tidak akan secara inisiatif mencari teman untuk bermain.

Perilaku agresif adalah sinyal merah yang dipancarkan anak-anak

Kalau begitu, langkah-langkah apa yang harus diambil terkait anak dengan tipe yang dibicarakan di atas ?

Yaitu orang-orang dewasa di sekitarnya sebaiknya memperlakukan anak itu secara lembut dan hangat dengan hati yang lapang, tingkatkan terapi sentuhan.

Tidak menyalahkan apalagi mengecam terhadap perilaku agresif dan itikat buruk anak-anak, ada baiknya pahami jiwa anak-anak yang kesepian.

Pada awalnya, anak-anak mungkin akan menunjukkan perlawanan terhadap emosionalnya, namun, seiring dengan bertambahnya terapi sentuhan itu, ia akan menjadi berinisiatif meminta sentuhan terapi itu, dan seiring dengan proses ini, perilaku agresifnya secara bertahap akan berkurang.

Sebenarnya, kemampuan menjalin perhabatan itu merupakan suatu kemampuan bawaan anak-anak, asalkan kita tidak menggunakan pola pendidikan awal dan pembelajaran ketrampilan yang berlebihan, tidak mengekang anak-anak, perbolehkan kenakalan alamiah anak-anak selama tidak menjurus ke hal yang negatif, biarkan mereka bebas bermain dengan anak-anak sebayanya, sehingga dengan demikian, dapat membuat kemampuannya dalam menjalin persahabatan itu secara alami akan berkembang sepenuhnya.

Sementara itu, terhadap anak-anak yang tidak bisa menjalin persahabatan, sebaiknya para orang dewasa secepat mungkin mengubah pola pendidikannya, agar anak-anak bisa sedini mungkin menikmati kesenangan bermainnya bersama dengan teman-temannya.

Jika tidak, maka setelah anak-anak tumbuh dewasa dan terjun ke masyarakat, ia tidak akan trampil dalam menjalin persahabatan dengan orang lain, dan akan merasa risau karenanya, atau bahkan tidak bisa sepenuhnya memberikan kontribusi akan ke-ahliannya kepada masyarakat.

Anak-anak tidak mungkin meninggalkan komunitas mereka, dan mendapatkan perkembangan yang komperehensif hanya dalam lingkaran orangtua dan lingkungan orang-orang dewasa lainnya.

Anak-anak harus berada di lingkungan anak-anak, dan melalui permainan, bermain dengan sesamanya, mengembangkan kualitas utama atas rasa simpati, pengertian, spontanitas dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular