Kita telah banyak mendengar cerita tentang penyontekan akademik di seluruh dunia: mulai dari siswa yang tertangkap menyontek pada pekerjaan rumah serta ujian masuk perguruan tinggi, hingga guru yang tertangkap dalam skandal penyontekan (plagiat).

Diantara 75-98 persen dari mahasiswa yang disurvei berdasarkan laporan setiap tahun, pernah menyontek saat di perguruan tinggi. Jadi, menyontek itu telah terjadi pada skala yang besar, apakah fakta itu bisa dibantah? Dan, apakah kita bisa menyalahkan para siswa saja?

Dalam rangka untuk mencari tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, yang paling penting untuk diketahui adalah mengapa siswa menyontek. Meskipun alasan yang jelas tampaknya ialah keinginan siswa untuk maju (misalnya, untuk mendapatkan nilai yang baik, atau untuk menghindari hukuman), hanya saja alasan yang sebenarnya sedikit lebih rumit.

Masalah gol akademis

Ketika siswa mengerjakan tugas sekolah mereka (yang mencakup segala sesuatu dari pekerjaan rumah sehari- hari), mereka biasanya memiliki tujuan tertentu dalam pikiran. Tujuan ini bervariasi dari satu tugas akademik ke tugas lainnya.

Saya bersama rekan-rekan telah mempelajari psikologi di balik penyontekan akademik selama dua dekade terakhir, dan kami telah menemukan bahwa tujuan siswa dalam tugas-tugas akademik mereka terkait dengan cara yang sangat diprediksi untuk kemungkinan kecurangan mereka. Penelitian juga menunjukkan bahwa guru dan orangtua dapat memengaruhi tujuan tersebut, dan dengan demikian berpotensi mencegah penyontekan.

Jika satu-satunya alasan untuk terlibat dalam tugas akademik adalah untuk mendapatkan nilai yang baik, maka mungkin mudah bagi seorang siswa untuk membenarkan tindakan menyontek.

Saya bersama rekan-rekan menemukan, beberapa siswa mungkin memiliki alasan jangka pendek. Misalnya, untuk beberapa siswa, mungkin sebagai motivasi untuk pergi bersama teman pada akhir pekan. Jika mereka berpikir bahwa orangtua mereka tidak akan memberikan ijin pergi jika mereka gagal tes, mereka mungkin akan mengambil pilihan yang lebih mudah untuk menyontek agar bisa pergi besama teman.

Untuk beberapa orang lainnya, mungkin menjadi alasan jangka panjang: Mereka mungkin ingin gaji yang baik dan kemewahan lainnya dalam kehidupan dewasa mereka dan percaya bahwa satu-satunya jalan untuk hal-hal itu adalah diterima di perguruan tinggi yang baik. Dan mereka mungkin bersedia untuk menyontek pada tes agar memuluskan langkah mereka di masa depan saat telah bekerja.

Siswa memiliki gol yang berbeda

Meskipun alasan ini mungkin tampak egois dan picik bagi sebagian orang dewasa, bagi banyak remaja, yang masih dapat mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka, tujuan-tujuan ini tampaknya masuk akal. Kami menyebut gol tersebut sebagai gol “ekstrinsik”. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan mengemban gol ekstrinsik umumnya lebih mungkin untuk menyontek.

Jelas, tidak semua siswa memiliki tujuan-tujuan ini. Beberapa siswa termotivasi oleh keinginan mereka untuk belajar.

Jadi, untuk beberapa siswa, tujuannya mungkin untuk benar-benar memahami dan menguasai materi yang sedang dipelajari. Dengan kata lain, meskipun beberapa siswa mungkin memiliki tujuan mendapatkan nilai yang baik pada tes kimia untuk mendapatkan sesuatu (misalnya, untuk pergi bersama teman-teman), orang lain mungkin memiliki tujuan untuk benar-benar belajar kimia: “Saya ingin memahami kimia karena saya ingin mengembangkan obat untuk membantu melawan kanker. Saya mengetahui bahwa pemahaman kimia penting bagi saya untuk menjadi sukses dalam karir ini.”

Kami menyebut gol tersebut sebagai gol “penguasaan”. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki gol penguasaan lebih cenderung untuk tidak menyontek.

Jika orang berpikir tentang hal ini, mulai masuk akal. Ketika siswa belajar di ruang kelas dimana gurunya benar-benar menghargai penguasaan konten akademik, maka “menyontek” benar-benar tidak menawarkan manfaat kepada siswa.

Guru dapat membantu

Cara-cara dalam penilaian belajar siswa yang diberikan sangat relevan dalam membantu terjadinya penyontekan akademik. Jika hasil penilaian akhirnya keluar pada suatu tes atau tugas (misalnya, “A” atau “F”), maka siswa seringkali memiliki nilai tes yang lebih baik daripada apa yang mereka benar-benar pelajari.

Namun, jika sebaliknya, penilaian benarbenar berfokus pada demonstrasi penguasaan konten, maka siswa akan fokus pada penguasaan konten dan bukan hanya untuk mendapatkan sebuah nilai “A.”

Ketika siswa harus menunjukkan penguasaan materi, menyontek tidak akan dapat banyak membantu ketika Anda benar-benar harus menunjukkan kepada guru Anda di depan kelas tentang pemahaman dan penerapan informasi yang telah Anda pelajari, sehingga menyontek tidak akan memberikan Anda jalan pintas.

Untungnya, terdapat strategi yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk memfasilitasi tujuan penguasaan materi. Berikut adalah beberapa saran, berdasarkan penelitian kami:

• Pastikan bahwa tugas dan ujian mengharuskan siswa untuk menunjukkan penguasaan konten, dan bukan hanya membutuhkan jawaban pilihan ganda.

• Ketika siswa tidak menunjukkan penguasaan pada tugas atau ujian, suruh mereka untuk mengulang tugas. Pendidik kadang-kadang tidak berpikir bahwa rekomendasi ini adil bagi para siswa. Namun, jika tujuannya adalah benar-benar untuk belajar atau menguasai konten, maka apa salahnya jika hal itu dilakukan?

• Hindari penilaian satu kali yang berisiko tinggi.

• Selalu berikan nilai siswa secara pribadi, jangan diumumkan di depan publik atau ditampilkan di papan. Siswa akan sering menyontek untuk menghindari terlihat “bodoh”.

Pada akhirnya, beberapa siswa pasti akan menyontek. Namun, dengan mempertimbangkan mengapa siswa melakukan berbagai tugas akademik dan membantu mereka mengatur gol “penguasaan” mereka, pendidik dapat secara signifi kan mengurangi epidemi kecurangan dalam dunia akademik. (Osc/Yant)

Share

Video Popular