Erabaru.net. Jika di dalam hati seseorang tersembunyi jiwa seorang budak, tidak peduli apa asal usulnya, ia akhirnya akan tetap menjadi budak, jika di dalam hati seseorang memiliki jiwa yang bebas, bagaimanapun ia mengalami banyak penderitaan dan kemalangan, ia tentu masih mampu mendapatkan respek dan kehormatan.

Di sebelah selatan Kota Baghdad, Irak , berlokasi di tepi kanan Sungai Efrat, terdapat reruntuhan kuno yang menakjubkan yakni: Babylonia.

Kota kuno yang nun jauh dari ingatan ini, meninggalkan kesan di benak orang bagaikan sebuah petunjuk misterius yang terkadang dapat menuntun orang dengan traksi yang kuat untuk melacak ujung paling jauh dari peradaban manusia.

Di puing membisu itu telah digali sejumlah besar “buku sejarah” dari tablet tanah liat, yang telah mencatat gaya dan adat kebiasaan masyarakat zaman tersebut, juga telah meninggalkan hukum kekayaan yang sama abadinya dengan waktu.

Huruf Paku yang ditulis dengan alang-alang runcing, berjalan paralel dengan waktu, menjelajahi perubahan silih berganti antara kemuliaan dan kehinaan selama 6.000 tahun, dengan membawa kemuliaan imperium, kekayaan dan misteri, diwarisi sampai hari ini.

Bagi orang-orang yang mengejar kekayaan, jika bisa bertindak sesuai dengan konsep kekayaan yang telah diwariskan selama 6.000 tahun ini, mungkin dipastikan bisa mencapai taraf kekayaan yang tak terduga.

Sedangkan taraf kekayaan itu berkaitan erat dengan apakah orang itu mampu dengan pandai mengubah konsepnya sendiri.

Dari tablet tanah liat yang tergali itu, diantaranya ada beberapa catatan mengenai bagaimana kasus seseorang berhasil melepas status budaknya dan lantas menjadi kaya.

Dabasir dari budak menjadi berduit

Dabasir sejak masih muda sudah mengikuti ayahnya berbisnis.

Karena berpenghasilan rendah, maka ia mengandalkan pada kredit dan hutang untuk memenuhi kehidupan hedonisnya, itu sebabnya hutangnya menumpuk.

Akibat dari kehidupan berfoya-foya ini, tak diragukan lagi telah menggali kubur untuk diri sendiri, dan akhirnya situasi ini telah membawanya ke dalam kesulitan dan kehinaan.

Ketidakmampuannya untuk melunasi utang, telah mendorongnya melarikan diri dari Babylonia.

Kemudian bergabung dengan gerombolan bandit dan merampok di mana-mana, setelah tertangkap oleh tentara dan dibawa ke Damaskus, ia dijual kepada seorang kaya untuk dijadikan budak.

Pada suatu kesempatan ia mengatakan kepada Sira, majikan wanitanya bahwa ia tidak dilahirkan sebagai budak, melainkan manusia bebas, dan diceritakanlah keadaannya sebelum ini serta situasi bagaimana sampai nasibnya bisa seperti hari ini.

Sira, majikan wanitanya dengan keras menegurnya, karena kelemahannya sehingga kini menjadi budak, bagaimana layak disebut sebagai orang yang bebas.

Dia berkata: “Jika di dalam hati seseorang tersembunyi jiwa seorang budak, tidak peduli apa asal usulnya, ia akhirnya akan tetap menjadi budak, wajar bagaikan air mengalir secara alami ke tempat yang lebih rendah; jika di dalam hati seseorang memiliki jiwa yang bebas, bagaimanapun ia menderita banyak kemalangan, ia tentu masih mampu mendapatkan respek dan kehormatan di kota kelahirannya sendiri.”

Perkataan nyonya majikannya membuat dia tersadar.

Maka ia pun bertekat untuk kembali ke Babylonia, tidak akan menghindari utang dan memperbaiki kepercayaan dan kebaikan yang telah diberikan orang lain.

Ia teringat perkataan Sira: “Hutangmu adalah musuhmu yang paling kuat.”

Hutang itulah yang memaksanya melarikan diri dari Babylonia.

Jika hutang ini terus diabaikan, mereka akan menjadi semakin kuat, akan melukai keberanian dan kebanggaan kehidupannya, sehingga ia tidak mampu lagi menyingkirkan diri dari situasi perbudakan.

Untuk mendapatkan kembali rasa hormat dari masyarakat, hanya dengan membayar hutangnya, adalah jalan satu-satunya.

Di bawah usulan Sira, ia rela menempuh dan mengalami kesengsaraan perjalanan panjang kembali ke Babylonia dan mulai berencana melunasi hutang-hutangnya.

Pertama-tama ia mendata semua kewajiban hutangnya dan mengunjungi satu per satu teman-teman yang meminjamkan uang kepadanya.

Tentu saja, ada beberapa yang menghinanya, sementara yang lain melihat ketulusannya dan sekali lagi bersedia membantunya.

Karena Dabasir tahu banyak tentang unta dan suatu ketika Raja Babylonia menugaskan pedagang unta untuk membeli unta dalam jumlah besar, ternyata pengetahuannya sangat berguna.

Oleh karena itu, sesuai dengan rencana pembayaran hutangnya, secara bertahap ia telah melunasi semua hutang, dan berhasil terdaftar sebagai salah seorang dari kelompok orang kaya Babylonia, serta mulai memenangkan kembali respek dari masyarakat.

Ketika ia memiliki keinginan untuk kembali menjadi jiwa yang bebas, maka di bawah dukungan niatannya itu, ia berani melewati gurun yang tak berpenghuni, mengatasi bahaya kekurangan air dan berhasil kembali ke habitat kebebasan.

Dalam contoh ini, “dimana ada kemauan di situ jalan di dapat”.

Dabasir, pernah menganggap kejadian dirinya menjadi budak adalah nasib malang yang buruk dalam kehidupannya, sehingga nada dasar psikologisnya terpenuhi oleh rona abu-abu redup, juga oleh karena itu ia pun sering menyalahkan diri sendiri dan mengasihani diri sendiri.

Akhirnya, karena kata-kata majikannya, ia telah mengubah konsepnya sendiri, “Jangan karena kelemahan diri sendiri lantas menyalahkan sang Pencipta”.

“Orang-orang yang hanya ingin meminjam uang, tetapi tidak ingin membayar hutang, akan selalu ditemani nasib buruk”.

Dalam contoh ini, konsep manusia berdampak langsung pada dua polar kehidupan, akan membawa lingkungan yang sama sekali berbeda eksistensinya.

Meskipun cerita ini berasal dari tablet tanah liat yang tercatat pada 6.000 tahun silam, kisah hidup perbudakan, yang dilihat dari sudut pandang sekarang tampaknya nun jauh disana.

Tapi pemikiran yang dihasilkan, di zaman kuno maupun zaman kini seolah masih saling terhubung.

Awalnya dunia ini membawa warna lain yang sama sekali berbeda, namun ketika seseorang dapat melepaskan konsep-konsep lama yang dimilikinya, maka ia akan berada dalam situasi lain yang lebih baik dan maha luas untuk melihat kehidupan riil diri sendiri, akan melihat warna sejati (sebenarnya) dari dunia ini, juga melihat nilai dan makna sebenarnya dari kehidupan. (Hui/Yant)

Share

Video Popular