Akhir-akhir ini harga komoditas dan pasar saham mengalami gejolak hingga menurun tajam. Hal itu memicu kekhawatiran orang tentang masa depan ekonomi dunia. Perusahaan besar Goldman Sachs dalam laporan yang dikeluarkan baru-baru ini menyebutkan bahwa kemungkinan terjadinya resesi ekonomi global tidak besar. Namun para investor dunia masih disarankan dalam 6 – 12 bulan ke depan untuk terus mendukung perusahaan-perusahaan di negara maju melalui penambahan saham.

Menurut laporan CNBC Amerika bahwa Kepala Strategi Ekuitas Global perusahan Goldman, Peter Oppenheimer dalam laporannya menyebutkan, “Meskipun kekhawatiran pasar global meningkat, tim ekonomi kita mengingatkan kepada kalian agar tidak terlalu membesar-besarkan pelemahan ekonomi Tiongkok dan pengaruh jatuhnya harga komoditas terhadap pertumbuhan ekonomi global.”

Peter menegaskan bahwa Goldman masih percaya bahwa kemungkinan resesi ekonomi global itu tidak besar. Terseret oleh devaluasi Renminbi dan melemahnya ekonomi Tiongkok, harga komoditas dan saham dunia anjlok dalam beberapa hari terakhir. Sedikitnya sudah ada 9 negara yang indeks pasar sahamnya menurun drastis. Dan harga minyak mentah dunia juga jatuh sampai menyentuh level terendah dalam 6 tahun terakhir.

Meskipun demikian, Goldman percaya bahwa pertumbuhan ekonomi negara maju masih tetap kuat, dan mampu menahan tekanan yang ditimbulkan oleh pelemahan ekonomi Tiongkok dan negara-negara berkembang.

Menurut Goldman bahwa harga energi yang menurun malahan lebih menguntungkan negara-negara ekonomi maju. Harga minyak mentah West Texas Intermediate menurun 5.5% menjadi USD. 38.24 per barel pada penutupan Senin (24/8/2015). Menciptakan harga terendah sejak bulan Februari 2009. Pada hari yang sama, minyak mentah Brent turun 6% menjadi USD. 42.80 per barel. Harga terendah pada hari transaksi itu adalah USD. 42.51 yang merupakan harga terendah sejak Maret 2009.

Menurut Peter bahwa Tiongkok sendirilah akhirnya yang menanggung resiko itu. Dampaknya pada ekonomi global seperti yang sedang ramai dibahas publik itu cenderung tidak terjadi. Tetapi Goldman percaya bahwa situasi demikian ini justru merupakan kesempatan baik untuk melakukan investasi.

Jadi, apa strategi investasi Goldman? Goldman masih bertahan dengan pendirian mereka sejak awal tahun yaitu, menyarankan investor untuk tetap mendukung saham-saham perusahaan negara maju, dengan ekuitas pasar berkembang yang lebih rendah.

Goldman dalam laporannya juga menyebutkan bahwa beberapa negara berkembang pengekspor komoditas ke Tiongkok dengan keterbukaan pasar yang tidak sepenuhnya sangat mungkin mengalami tekanan. Belum lagi mereka masih harus mengatasi masalah-masalah stabilitas dalam negeri, sehingga devaluasi RMB membuat mereka bertambah sulit bergerak.

Goldman menurunkan angka indeks bursa saham Asia MSCI (Jepang dikecualikan) menjadi angka prospek untuk masing-masing 3, 6 dan 12 bulan adalah 405, 430 dan 455 yang artinya ROI atas saham akan menjadi 0%, 6% dan 12%. Alasannya adalah bahwa perkiraan laba pada 2016 masih beresiko penurunan, resiko di pasar saham masih tinggi kecuali ada perbaikan situasi ekonomi. (Li Yang/sinatra/rmat)

Share

Video Popular