Di era sekarang, baik sekolah atau orangtua, penilaian baik dan buruknya anak-anak selalu tak lepas dari prestasi akademik mereka. Mendapatkan nilai ujian yang tinggi (bagus) itulah siswa yang baik, yang di kemudian hari akan lebih sukses dalam hidupnya. Tapi apakah demikian faktanya ? Benarkah prestasi nilai akademik itu sangat penting ?

Saat hari raya pulang ke kampung halaman, saya berkumpul atau reunian dengan beberapa teman-teman semasa SD. Teman-teman yang sudah lama tidak bertemu lantas ngobrol tentang situasi saat ini : Si Jimmy (samaran) sekarang buka pabrik sendiri, dengan aset jutaan (dollar Taiwan) ; sedangkan Anton sekarang adalah kepala kontraktor, memiliki beberapa unit rumah di kota ; sementara itu, Yusub mengawali usahanya dengan menjual nasi kotak, dan berkembang hingga sekarang membuka sebuah hotel besar ; sedangkan Rangga mengawali usahanya dengan kredit mobil untuk usaha transportasi jarak jauh, dan sekarang adalah bos dari perusahaan transportasi yang memiliki lebih dari 60 unit mobil trayek berbagai ukuran.

Setelah menceritakan perjalanan hidup masing-masing, mereka pun mendesah sambil membayangkan masa-masa sekolah dulu : kala itu, prestasi akademik mereka bukan saja buruk, tapi juga mereka suka jail dan nakal, kerap membuat para guru dan teman-teman mereka pusing. Namun, justru seperti mereka inilah, kini masing-masing sukses dalam karier, hidup serba berkecukupan dan nyaman. Sementara itu, rekan sesama siswa mereka yang pendiam dan berprestasi bagus ketika itu, selain hanya sebagian kecil yang lulus dan diterima di perguruan tinggi, lainnya hanya menjadi “kerah putih” (pegawai kantoran) di perusahaan besar untuk sekadar “menyambung hidup”, sedangkan sebagian besar hanya menjadi pegawai kecil di perusahaan biasa, dengan pendapatan hanya mampu memberi makan keluarga mereka.

Seorang profesor dari suatu universitas juga pernah dengan nada canda berkata seperti ini kepada mahasiswanya : “Umumnya mahasiswa yang mendapatkan IP A akan membeawakan tas siswa yang mendapatkan IP B.” Nilai bagus atau prestasi akademik yang bagus itu tidak berarti akan sukses di kemudian hari. Sementara itu, mereka yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja, atau siswa yang disebut “liar” itu, punya pola pikir masing-masing, meskipun tidak populer di sekolah, tetapi tidak berarti itu salah. Jadi, ia mendorong siswa untuk tidak menjadikan prestasi akademik itu sebagai hal yang sangat penting.

Saya menjelajahi “google” sejenak di internet, dan menemukan orang-orang atau tokoh terkenal yang sukses itu kebanyakan adalah “siswa badung” dengan prestasi akademik yang tidak menonjol.

Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris kala itu, sangat condong pada suatu ilmu pengetahuan di era sekolahnya ketika itu, kerap menyerahkan kertas ujian kosong pada ulangan matematika ; Bill Gates, orang terkaya di dunia, sering tidur pada masa sekolahnya dulu saat berlangsung proses belajar mengajar, kalau bukan tertidur di kelas, ia kerap bolos sekolah dan mengerjakan hal-hal yang disukainya, hingga berkembang, kemudian memilih putus sekolah, dan bersama teman-temannya mendirikan Microsoft ; sementara itu, ilmuwan besar Albert Einstein juga lebih condong pada suatu bidang ilmu pengetahuan semasa kecilnya, ia tidak disukai oleh guru maupun teman-temannya dan masih banyak lagi contoh nyata para “siswa badung” yang sukses sebagai tokoh terkemuka yang memberikan kontribusi pada dunia.

Ada sebuah studi menemukan, bahwa sekolah yang bagus atau siswa yang berprestasi bagus, tidak akan lebih sukses daripada siswa yang berprestasi buruk, karena jika sejak kecil sudah memiliki prestasi yang bagus, akan memicunya suatu perasaan unggul tidak ingin mencoba dengan kegagalan, atau dengan kata lain, hanya akan mengerjakan hal-hal yang dipastikan tidak akan gagal. Tapi bagi mereka yang pernah mencoba merintis usaha tahu, bahwa merintis usaha pada dasarnya hampir pasti akan mengalami kegagalan, tetapi yang terpenting adalah terus mencoba dan mencoba sekaligus belajar setelah mengalami kegagalan, tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar.

Jika melihat orang-orang di sekitar yang sukses, Anda akan menemukan bahwa sebagian besar dari mereka itu adalah sosok orang sukses yang mengerjakan segala sesuatunya itu tidak berdasarkan prinsip kerja yang rasional tapi dengan caranya masing-masing yang tidak menyalahi logika, mereka adalah orang-orang yang berani terus mencoba, dan berani menghadapi kegagalan. Winston Churchill pernah berkata : “Rahasia sukses terletak pada semangat Anda yang tetap bergairah meskipun telah mengalami kegagalan berkali-kali.”

Oleh karena itu, siswa-siswa yang prestasinya buruk, jangan berkecil hati, belajar pengalaman sukses dalam kegagalan, selama Anda tetap tegar dan bertahan, pada akhirnya akan menemukan jalan sukses Anda sendiri.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular