Di era multimedia ini, sejumlah berita atau informasi negatif, seperti foto atau video tentang tragedi dan tindak kekerasan sering muncul di internet atau televisi. Meskipun psikolog memperingatkan bahwa pemandangan-pemandangan seperti itu akan memengaruhi kejiwaan anak-anak, namun, ketergantungan anak-anak terhadap internet dan televisi rasanya sulit untuk dihindarkan. Lalu bagaimana sebaiknya orangtua untuk menangani masalah ini ?

Jika orangtua merasa sangat sulit untuk menjelaskan peristiwa tragis atau perilaku negatif seperti itu kepada anak-anak, tidak ada salahnya coba dengarkan sejenak saran dari para ahli terkait.

Dengarkan ketakutan dalam jiwa anak-anak

Canadian news melaporkan, Sandra Mendlowitz, seorang psikolog dari University of Toronto, Kanada, mengatakan, bahwa peristiwa tragis yang terjadi di Kanada, seperti penembakan yang terjadi baru-baru ini di Gedung Parlemen Ottawa, Kanada, dampaknya lebih nyata terhadap anak-anak Kanada daripada kejadian serupa yang terjadi di luar negeri.

David Wolfe, seorang pakar kesehatan mental remaja Kanada mengatakan, anak-anak mungkin akan mengajukan pertanyaan yang sangat praktis, seperti misalnya, “apakah ia akan ke rumah kita dan menembak saya ?”

Tidak ada cara untuk mencegah anak-anak untuk tidak mengetahui berita negatif seperti itu, karena cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya, dan mungkin akan merasa takut. Mendlowitz menyarankan agar orangtua berbicara dengan anak-anak tentang hal-hal yang membuatnya merasa takut. Tentu saja, dalam hal ini, orangtua harus mengatakan yang sebenarnya, tetapi harus disesuaikan dengan taraf usia anak-anak, memahami apa yang diketahui dan dicemaskan anak-anak. Terkadang orangtua menganggap anak-anak tahu bagaimana menghadapinya, namun, pada kenyataannya anak-anak mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Jangan menunggu menjelang tidur baru membicarakan masalah itu, karena bisa jadi akan membuat anak-anak tidak bisa memejamkan matanya (tidur),” ujar Mendlowitz.

Sesuaikan cara berkomunikasi dengan anak-anak

Wolf mengatakan, bahwa anak-anak yang tumbuh semakin besar, maka hal-hal yang ingin diketahuinya juga semakin banyak. Anak-anak yang berusia 10, 11 atau 12 tahun, mulai menyadari bahwa dunia ini ternyata lebih kompleks dan tidak aman daripada yang mereka bayangakan semula, peristiwa negatif akan sangat besar gangguannya pada mereka. Jika anak-anak tidak berinisiatif membicarakan hal-hal tersebut, maka orangtua juga tidak perlu memaksa mereka untuk membicarakannya, tetapi jika anak-anak ingin terus membahas hal itu, maka Anda tidak boleh mengabaikan permintaannya.

Ada anak-anak yang mungkin akan mengajukan pertanyaan lebih dalam. Menurut Wolf, bahwa ini adalah kesempatan yang baik bagi orangtua untuk mendengarkan dengan seksama suara hati anak-anak, dan bisa membicarakan lebih mendalam dengan mereka. Jangan menyembunyikan fakta, dan tidak perlu membujuk mereka dengan mengatakan “tidak perlu takut, karena hal seperti itu tidak akan pernah terjadi pada kita”. Biarkan anak-anak Anda tahu kalau mereka itu aman, tetapi peristiwa negatif atau tragis kadang memang akan terjadi, manfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan anak-anak konsep tentang keselamatan atau integritas personal.

Amati apakah ada ketidakwajaran pada diri anak-anak

Orangtua juga harus perhatikan terkait berita negatif yang mungkin akan berdampak pada jiwa dan perilaku anak-anak, perhatikan perubahan selera makan, suasana hati dan tidur mereka. Wolf mengatakan bahwa antara anak laki-laki dan perempuan sering bereaksi tidak sama, mungkin anak laki-laki akan mengalami kesulitan atau mereka tidak mau mengaku saat berbicara tentang perasaan mereka.

Penyebaran informasi di era modern ini sangat cepat. Dan anak-anak dibanjiri dengan informasi-informasi negatif ini juga sangat cepat, orangtua sebaiknya memerhatikan respon anak-anak, usahakan membantu mereka memecahkan gangguan seperti itu, untuk menghindari pesan negatif terkait jangan sampai meninggalkan bayang-bayang terlalu dalam pada diri anak-anak.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular