Bagaimana menjadi orangtua yang baik? Ini adalah pertanyaan setiap orangtua yang kerap dipertanyakan pada dirinya sendiri. Ketika bayi dilahirkan tidak akan seperti buku penjelasan tentang perawatan dan tata cara operasional yang dilampirkan dari produk elektronik. Meskipun Anda telah saja membaca segala buku tentang pendidikan anak-anak, dan minta petunjuk dari setiap ibu yang ditemui juga belum tentu bisa memahami semua cara tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik.

Namun, di saat selalu mengingatkan diri sendiri sebagai orangtua harus begini atau begitu, harap jangan sampai melupakan 6 hal berikut ini.

1. Selalu menuruti kemauan anak

Tidak peduli apakah itu hanya berupa mainan yang tidak seberapa atau game mahal yang dikehendaki anak-anak yang membuat Anda tidak memperhitungkan harganya, tapi jika selalu memenuhi segala yang diinginkan anak-anak itu hanya akan memanjakan mereka.

Banyak orangtua beranggapan bahwa menolak permintaan anak-anak itu membuat diri mereka terlihat seperti seorang musuh. Namun, begitu anak itu memanjakan diri dan menangis, lalu dengan serta merta Anda merogoh isi dompet, hal ini akan mengakibatkan bahwa materi dan uang bagi mereka itu lebih penting daripada menghayati interaksi emosional. Dan memberi kesan yang salah bahwa seseorang itu bisa mendapatkan sesuatu tanpa harus bekerja.

Cara yang tepat :Anak-anak perlu tahu akan arti uang dan kerja keras. Orangtua sejatinya membantu mereka membangun nilai yang diinginkan dan realistis untuk mendapatkan sesuatu. Batasi anak Anda bahwa setiap bulan hanya bisa mendapatkan satu mainan baru atau mengatur batas pengeluaran. Jika mereka ingin lebih banyak atau sesuatu yang mahal, maka mereka harus melakukan pekerjaan rumah tangga demi mendapatkan uang, atau belajar menyimpan uang secara perlahan.

2. Kurangnya pengawasan

Jika anak Anda nakal, marah-marah atau melecehkan anak lain dan Anda hanya menutup mata, sementara perbuatan yang dibiarkan semaunya ini dapat menyebabkan masalah serius. Pertumbuhan kuat anak-anak itu perlu orang dewasa dalam menentukan aturan interaksi dengan orang lain dan batasan bagi mereka. Jika seusai melakukan sesuatu yang buruk tanpa perlu menanggung konsekuensinya, maka batas-batas antara yang baik dan buruk itu akan menjadi abu-abu, atau bahkan tidak ada.

Cara yang tepat: Kurangnya disiplin dan kontrol dari orangtua terhadap anak-anaknya kerap berawal dari orangtua yang tidak ingin dianggap “tak berpersaan” oleh anak-anaknya. Banyak orangtua tidak tahu cara yang benar dalam mendisiplinkan anak-anak, sehingga mereka lebih memilih diam dan tidak melakukan apa-apa.

Membuat aturan dan sarana insentif yang jelas dan konsisten pada anak-anak. Jika mereka bertindak diluar batas di sekolah atau di tempat umum, maka batalkan hak istimewa mereka, misalnya nonton TV atau makan malam. Jika mereka melanggar peraturan di rumah, Anda bisa menjatuhkan hukumam yang mendidik, dan selaku orangtua, sebaiknya Anda jelaskan kepada anak-anak mengapa tindakan seperti itu tidak bisa diterima.

3. Berat sebelah

Ketika guru atau pihak lain mengadukan suatu perkara, sejumlah orangtua selalu merasa sulit percaya anaknya seperti itu dan terlalu membela anaknya sendiri. Mereka merasa bahwa anak-anak mereka tidak mungkin melakukan kesalahan besar, dan cenderung berpikir orang lain yang berprasangka atau menindas anaknya. Menutup sebelah mata atas kesalahan anak sendiri atau bersikeras menyangkal bukanlah jawaban untuk memecahkan masalah. Tegaskan pada anak-anak, bahwa peran guru, polisi dan orang dewasa itu sangat penting dalam membimbing anak-anak.

Cara yang tepat: Biarkan anak-anak Anda tahu bahwa mereka harus mematuhi aturan, dan menanggung akibat dari kesalahannya. Jika guru anak Anda menyarankan untuk mengambil suatu cara hukuman, sebaiknya Anda terima, kecuali itu adalah cara yang tidak masuk akal dan berbahaya. Jelaskan pada anak Anda alasan dijatuhinya hukuman, Anda masih mencintai dan menyayangi mereka, tetapi mereka harus memahami apa itu perilaku yang bertanggungjawab.

4.Tidak berada di samping anak-anak

Anak-anak perlu merasa dicintai dan disayang, perlu merasakan bahwa mereka layak diperhatikan dan pantas untuk dicintai. Namun, jika Anda selalu bekerja sampai larut malam, memilih keluar bersama teman-teman dan bersenang-senang pada waktu pertandingan sepak bola favorit anak-anak, atau mengabaikan anak Anda, maka ia mungkin akan mencari hiburan diluar yang mungin tidak tepat atau bahkan mengalami depresi.

Cara yang tepat: Kendati Anda memiliki jadwal kerja yang padat, atau hanya perlu sesekali untuk bebas sejenak ditengah kesibukan dan tanggungjawab Anda selaku orangtua, cobalah upayakan mengatur setidaknya satu hari atau satu malam dalam sepekan meluangkan waktu untuk anak-anak. Anda bisa nonton bioskop bersama atau menghabiskan sepanjang sore di taman bersama anak-anak.

5. Bertengkar di depan anak-anak

Bertengkar dengan pasangan dengan kata-kata kotor, berteriak lantang di depan anak-anak, atau satu sama lain mengancam akan berdampak negatif pada anak-anak. Ketahuilah, anak-anak yang menyaksikan semua pemandangan ini mungkin akan menghindarkan diri, melampiaskan emosi bahkan menggunakan obat-obatan atau minuma keras dan cara-cara lain untuk mengatasi stres. Mereka mungkin akan keliru dan beranggapan bahwa memperlakukan pasangan atau orang lain dengan cara ini adalah tindakan yang dapat diterima.

Cara yang tepat: Harap menahan diri di depan anak-anak, bertengkarlah di ruangan lain atau di luar. Siapkan terapi bagi anak Anda saat terjadi perceraian atau masalah keluarga, supaya anak-anak memiliki objek pengaduan dan mendapatkan bimbingan profesional. Menanamkan amarah dan kekerasan pada anak adalah cara menangani konflik yang tidak dapat diterima.

6. Memberi contoh yang buruk

Berbohong dan melakukan hal negatif lainnya di depan anak-anak akan membuat contoh buruk bagi anak-anak. Orangtua adalah guru pertama anak-anak, perilaku mereka berdampak paling besar pada anak-anak. Membuat contoh yang buruk di hadapan anak-anak, akan mengubah pandangan anak-anak tentang benar atau salah. Ketahuilah, Anda salah besar bahwa menurut Anda anak-anak itu tidak memerhatikan dan mengamati perilaku Anda. Perlu diketahui, anak-anak itu sangat mudah terpengaruh, jika sering terkontak atau melihat perilaku buruk seseorang, mereka akan mulai menirunya.

Cara yang tepat: Jadilah orangtua teladan di depan anak-anak. Tentu saja, kita semua pasti akan membuat kesalahan, dan dalam kondisi demikian, sejatinya Anda jelaskan kepada anak-anak mengapa perilaku Anda seperti itu salah dan bagaimana memperbaikinya. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular