RRT lagi-lagi berniat menggelar parade militer. Pada parade militer peringatan 60 tahun berdirinya Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebelumnya (2009), disebut-sebut telah menelan biaya melebihi Olimpiade Beijing. Di situs Wikipedia terdapat informasi khusus mengenai parade militer 2009 tersebut, dari data yang mendetil itu dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut mungkin bersumber dari pihak pemerintah Tiongkok sendiri, tapi berapa besar biaya yang dihabiskan tidak disinggung sama sekali. Sudah jelas karena biayanya terlalu besar, sehingga enggan diungkapkan.

Parade militer selama ini memang menjadi aksi badut negara-negara diktator, yang tak hanya menghamburkan uang hasil darah dan keringat rakyat, tapi juga merupakan pertunjukan lelucon menunjukkan betapa lemahnya pemerintahan tersebut di mata internasional. Negara AS yang memiliki kekuatan militer terbesar di dunia selamanya tidak pernah melakukan parade militer. Orang yang sejatinya memiliki kekuatan nyata tidak pernah mempertontonkan kekuatannya, hanya orang-orang yang penuh kebohongan yang selalu memamerkannya di depan umum.

Dalam parade militer Beijing kali ini, media massa memberitakan, sama seperti sebelumnya, dibangun sebuah kawasan parade di luar kota untuk melakukan latihan, bahkan dibangun Kota Tiananmen tiruan (Forbidden City, Red.) yang fotonya bisa dilihat di internet. Pakar menyebutkan, biaya latihan beberapa bulan untuk formasi 18 unit tank saja sudah menghabiskan dana jutaan USD. Dalam parade militer Beijing sebelumnya, dana untuk sarapan pagi bagi 300.000 perwira/serdadu dan para tamu saja mencapai RMB 6 juta (13 miliar rupiah). Biaya pembuatan mobil parade militer yang ditumpangi oleh Hu Jintao saja telah menelan biaya RMB 8 juta (17,4 miliar rupiah), setara dengan biaya membangun 40 unit sekolah dasar!

Apakah Tiongkok benar-benar kaya, sampai-sampai tidak ada lagi tempat untuk menghabiskan uang? Sama sekali tidak! Menjelang parade militer Beijing, media massa tengah memberitakan kondisi ekstrim miskin di Gunung Daliang (kawasan suku Yi di propinsi Sichuan). Seorang pelajar putri setempat menulis karangan yang berjudul “Air Mata” yang menyentuh hati, karena di desa-desa petani di Tiongkok, terutama di kawasan suku minoritas, warga setempat sangat miskin bahkan untuk makan, sekolah, transport dan berobat pun sangat sulit.

Kondisi miskin di Gunung Daliang bukan gejala kebetulan. Menurut data ofisial pemerintah, di tahun 1986 di Tiongkok terdapat 386 kabupaten miskin, dan setelah 30 tahun pertumbuhan ekonomi sedemikian pesat, kabupaten miskin tersebut tidak berkurang tapi justru bertambah menjadi 592 buah. Ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi di Tiongkok sangat tidak berimbang.

Wakil Kepala Kantor Pengentasan Kemiskinan Kementerian Dalam Negeri RRT yakni Zheng Wenkai pada bulan Oktober tahun lalu mengatakan, jumlah penduduk miskin menurut standar RRT sebanyak 82 juta jiwa; tapi menurut standar internasional, jumlah penduduk miskin RRT sebanyak 200 juta jiwa.

Menurut standar RRT: pendapatan rata-rata per tahun setiap orang adalah RMB 2300 Yuan (5 juta rupiah); menurut standar PBB: biaya hidup per orang setiap hari hanya USD 1,25 (17.250 rupiah) adalah teramat miskin (setara dengan pendapatan rata-rata per tahun RMB 3000 Yuan/6,5 juta rupiah).

Cadangan devisa asing milik RRT adalah nomor satu di dunia, hingga akhir tahun lalu mencapai USD 3,843 trilyun (53.000 triliun rupiah) Tapi menilai suatu negara, tidak hanya dengan melihat betapa kaya pemerintah negara tersebut, melainkan harus melihat bagaimana rakyat jelata di negara tersebut hidup.

Cadangan devisa asing milik AS saat ini hanya USD 1,2 trilyun (16.600 triliun rupiah) atau kurang dari 1/30 cadangan devisa RRT. AS juga berhutang pada RRT, hal ini diketahui semua orang. Tapi pendapatan rata-rata per tahun warga AS lebih dari USD 50.000 (692 juta rupiah), sedangkan RRT setelah mengalami pertumbuhan ekonomi pesat selama lebih dari 30 tahun ini, saat ini pendapatan rata-rata per tahun warganya hanya 12% dari pendapatan rata-rata warga AS.

Pendapatan rata-rata warga RRT saja masih lebih rendah dibandingkan dengan Turki, Brazil, Meksiko, bahkan juga Libanon, Argentina, dan Malaysia, apalagi dibandingkan negara Eropa Timur yang telah mengakhiri sistem komunis mereka seperti Polandia, Rumania, Bulgaria dan lain-lain. Sementara pendapatan rata-rata negara Republik Ceko dan Slovakia saat ini telah mencapai lebih 3 kali lipat dari RRT.

Selain itu, jumlah penduduk miskin RRT menempati posisi kedua di seluruh dunia (posisi pertama adalah India), jauh melampaui seluruh negara Afrika seperti Kongo, Nigeria, Zambia, Guinea Ekuatorial!

Pada pemikiran rata-rata warga RRT, negara Afrika seperti Nigeria, Kongo, dan lain-lain sangat terbelakang dan miskin, dengan kebangkitan ekonomi RRT kekuatan negara menjadi besar dan rakyat menjadi makmur. Tapi rasio warga miskin di Nigeria hanya 8,9% sementara di Kongo hanya 6,9%, sedangkan di RRT mencapai 12,8% atau hampir 2 kali lipat dari Kongo! Setidaknya hal ini menjelaskan bahwa kesenjangan kaya miskin di RRT jauh melebihi di Kongo, Nigeria, maupun negara Afrika lainnya.

Seberapa besar kesenjangan kaya miskin di RRT? Menurut data statistik PBB, mengabaikan kota Singapura sebagai negara kota dan Hongkong sebagai wilayah, RRT menempati urutan pertama di seluruh dunia, yakni memiliki kesenjangan kaya miskin terbesar di dunia! berdasarkan statistik RRT sendiri, dari angka survey yang dilakukan oleh Chinese Academy of Social Science di tahun 2006, rata-rata pendapatan dari 10% warga kaya RRT mencapai 32 kali lipat pendapatan dari 10% warga miskin! Dan 6 tahun kemudian yakni di tahun 2012, hasil survey yang sama menunjukkan lonjakan mencapai 65 kali lipat! Dan sekarang, mungkin telah mencapai 70x lipat! Chinese Academy of Social Science melakukan survey tersebut di 7 daerah yakni Guangdong, Shanghai, Zhejiang, Jiangsu, Fujian, Shandong, dan Liaoning. Nilai aset yang dimiliki rata-rata pejabat RRT lebih dari RMB 8 juta (17,4 miliar rupiah), artinya setiap pejabat PKT adalah miliarder. Pendapatan rata-rata pejabat RRT mencapai 80 kali lipat dibandingkan para petani di pedesaan!

Kondisi kemiskinan keluarga pelajar putri di Gunung Daliang tersebut jika dibandingkan dengan seorang pejabat daerah sekalipun, ibarat langit dan bumi! Zheng Wenkai bahkan mengakui: para kaum miskin di RRT tidak hanya berpendapatan rendah, di sejumlah wilayah bahkan untuk mendapatkan air bersih, transportasi, listrik, sekolah, dan pengobatan pun begitu sulit.

Ketika menjadi perdana menteri dan berpidato di AS, Wen Jiabao mengatakan: sebagai perdana menteri suatu negara, yang selalu terpikir adalah dua jenis angka: seberapa besar pun cadangan devisa jika dibagikan dengan penduduk sebanyak 1,3 milyar jiwa, tak ada artinya; seberapa kecil pun sesuatu hal jika dikalikan dengan penduduk sebanyak 1,3 milyar jiwa, maka itu adalah hal besar!

Tapi di bawah pemerintahan komunis, “hal besar” seperti mencukupi kebutuhan pokok rakyat seolah tidak ada di dalam benak PKT; sedangkan impian semu seperti parade militer besar-besaran, Pesta Olimpiade (bahkan berambisi menggelar lagi Olimpiade 2022) yang sebenarnya hanya untuk mengukuhkan kekuasaan komunis, tujuannya adalah “membuat partai tampak perkasa”, agar mereka tetap dapat berbuat semena-mena dan terus memanfaatkan rakyat.

Baik membandingkan Olimpiade Beijing, Olimpiade musim dingin, parade militer maupun Asia Investment Bank, pasti akan mendapat dukungan penuh dari kebanyakan pejabat PKT, karena setiap proyek bernilai besar berarti peluang bagi mereka untuk korupsi. Dalam Olimpiade Beijing dan parade militer, entah berapa banyak dana yang masuk ke dalam dompet pribadi. Dan ketika para pejabat sudah cukup banyak korupsi, mereka akan melarikan diri ke luar negeri. Menurut riset berjudul “Antisipasi Pencegahan dan Sanksi Korupsi di RRT” oleh Chinese Academy of Social Science, sekitar 4000 orang pejabat korup RRT telah melarikan diri ke luar negeri; sejak tahun 1990, rata-rata uang yang mengalir ke luar negeri setiap tahunnya mencapai USD 10 milyar (138 triliun rupiah). Dihitung berdasarkan angka ini, hingga sekarang uang yang mengalir keluar telah mencapai USD 250 milyar (3.457 triliun rupiah). Padahal total cadangan devisi di dua negara yakni Inggris dan AS kurang dari USD 280 milyar (3.872 triliun rupiah).

Warga Tiongkok yang kembali dari luar negeri akan dengan mudah bisa merasakan, hampir semua warga RRT sangat emosional, merasa diperlakukan tidak adil, suka membandingkan, iri dan dengki, penuh amarah. Baik yang kaya maupun yang miskin selalu muram. Ada warga yang baru kembali dari luar negeri mengatakan, setiap kali acara pesta menjamu teman lama di restoran selalu ada kejadian memarahi pelayan, bahkan mencaci maki pelayan; kemudian baru memahami, warga RRT butuh satu kesempatan menjadi “tuan” untuk melampiaskan kemarahan terhadap masyarakat, terhadap kehidupan, bahkan terhadap segala sesuatu; sementara pelayan tersebut demi sesuap nasi, atau demi mengharapkan tips, terpaksa menahan emosi.

Selain rasio penderita penyakit jiwa dan gangguan mental yang tinggi, penyakit fisik warga RRT juga sangat mengerikan. Menurut laporan hasil survey “Ulasan Penyebab Kematian Warga RRT” (tahun 2006), tingkat kematian warga RRT akibat kanker meningkat 80% dibandingkan 30 tahun lalu, dan kanker paru-paru menduduki posisi pertama dengan menewaskan hampir 2 juta jiwa setiap tahunnya. Mengapa begitu banyak warga RRT direnggut nyawanya akibat kanker paru-paru? Apakah karena polusi udara atau karena kabut asap? Menyusul di posisi berikutnya adalah kanker lambung dan kanker hati, apakah ini ada kaitannya dengan produk makanan palsu, makanan tercemar, atau makanan beracun di RRT?

Menurut daftar urutan “Perkiraan Usia Warga Negara Dunia 2014” yang dirilis oleh WHO bulan April 2015 lalu, RRT menduduki posisi ke-83. Rata-rata usia warga RRT adalah 73,5 tahun. Jepang menduduki posisi pertama, dengan rata-rata usia penduduknya 83,4 tahun atau hampir 10 tahun lebih panjang umur dibandingkan warga RRT. Selain itu menurut angka “Statistik Kesehatan Dunia 2014” dari WHO, rata-rata usia warga RRT adalah 76 tahun, sedangkan Jepang adalah 84 tahun, atau 8 tahun lebih panjang umur dibandingkan warga RRT.

Mengapa pemerintah RRT tidak berinvestasi di bidang kesehatan yang menyangkut “keselamatan jiwa manusia” ini, melainkan justru menghamburkan uang melakukan parade militer? mengapa tidak berinvestasi dalam hal keamanan makanan dan fasilitas hidup, tapi justru membuang uang menggelar Olimpiade? Dari kemiskinan ekstrim Gunung Daliang sampai penghamburan uang untuk parade militer, apa penyebab semua ini? Selama otokratis tidak mati di Tiongkok, maka bencana / musibah pun tidak akan pernah berakhir. (cao changqing/sud/whs/rmat)

Share

Video Popular