Dua tentara wanita Kapten Kristen Griest dan Letnan Shaye Haver dari Sekolah Pendidikan Ranger US Army pada 21 Agustus lalu telah lulus menjadi Rangers yang didambakan, dengan demikian menjadi kelompok tentara wanita pertama dalam sejarah Angkatan Darat Amerika Serikat yang lulus melalui pelatihan yang paling ketat.

Menurut laporan CNN, secara global sedikitnya terdapat 16 negara industri (kebanyakan sekutu dari AS) yang memperbolehkan kaum wanita menyandang senjata, sebagian dari Negara itu malah sudah menerapkannya selama puluhan tahun.

Sejumlah perwira tinggi militer AS menyebutkan, pasca Peristwa WTC 11 September 2001, kaum wanita AS dengan status dan latar belakang berbeda telah terlibat dalam pertempuran, dan hingga kini sedikitnya 88 tentara wanita gugur, kebanyakan terjadi di Irak dan Afganistan dimana tidak eksis garis depan dalam artian perang tradisional.

Kebijakan militer AS juga dalam pembenahan. Selain kelompok perdana 2 tentara wanita lolos melalui Ranger AD, pihak Angkatan Laut juga pada minggu lalu menyatakan, asalkan melalui pelatihan, pasukan Navy SEAL juga terbuka bagi kaum hawa.

Pada berbagai pasukan manca Negara, kaum peremupuan biasanya berperan sebagai berikut:

Kanada: 15% dari angkatan bersenjata Kanada adalah kaum perempuan. Sejak 1989 mereka diperbolehkan mengikuti pertempuran, namun jumlah yang pernah secara riel terlibat dalam pertempuran sangatlah sedikit. Petugas penelitian Kanada menyarankan bahwa tentara wanita seharusnya melakukan pekerjaan logistik bukan terlibat dalam pertempuran.

Rumania: Posisi pasukan relawan Rumania terbuka untuk kaum wanita, negara ini telah mengutus hampir 60 tentara wanita ke medan perang Irak. Di Afghanistan, tentara wanita mewakili 7% dari total kekuatan pasukan Negara itu. Rumania menyatakan, jenis kelamin wanita tidak mempengaruhi kinerja pelaksanaan tugas.

Prancis: Meskipun kaum perempuan diperbolehkan berdinas di posisi pertemupuran, tetapi 19% dari tentara Prancis adalah kaum wanita, sedikit sekali wanita yang benar-benar bertugas di garis depan. 1,7% dari tentara wanita bertugas di satuan infantri.

Jerman: Setelah menggusur perundangan yang melarang kaum perempuan bergabung dengan pasukan garis depan, kaum wanita Jerman pada 2001 telah diperbolehkan bergabung di unit-unit tempur. Tentara wanita boleh memilih jenis pasukan, termasuk Pasukan Khusus Komando Angkatan Laut (Marine Commandos). Jumlah tentara wanita Jerman di tahun 2001 – 2014 telah meningkat 2 kali lipat, diantaranya terdapat 800 tentara wanita di pasukan tempur, banyak diantara mereka pernah bertugas di Afganistan.

Denmark: Sejak 1998 tentara wanita bisa mendapatkan pangkat kemiliteran apa saja. Dalam pertempuran darat, kinerja tentara wanita tak berbeda dengan kolega tentara laki-laki. Dalam unit pasukan yang memiliki persyaratan lebih tinggi dalam hal kekuatan fisik, tentara wanita diharuskan mencapai standar fisik yang sama dengan tentara pria. Tentara wanita Denmark pernah melaksanakan misi tempur di Afghanistan.

Israel: Tentara wanita Israel sudah sejak 1990-an diizinkan berpartisipasi dalam pertempuran jarak dekat, dan sangat sesuai dengan 90% dari pekerjaan pertahanan.

Belanda: Tentara wanita tidak diperbolehkan berdinas dalam Korps Marinir atau unit kapal selam, tetapi dapat mengajukan dalam bidang pekerjaan persiapan tempur lainnya. Namun tentara wanita yang secara riel terlibat dalam pertempuran tidaklah banyak, jumlah tentara laki-laki dalam posisi tersebut adalah dua kali lipat dari wanita. Penelitian membuktikan bahwa prestasi wanita dalam menangani manajemen krisis dan menjaga perdamaian, sangat menonjol.

Selandia Baru: Sejak tahun 2001, kaum wanita diperbolehkan mengikuti semua departemen yang berkaitan dengan pertahanan Negara, termasuk pasukan infantri. Tapi keterbukaan ini tidak berarti bahwa sejumlah besar tentara wanita telah bergabung dengan pasukan tempur. Pada Mei 2004, di Selandia Baru hanya terdapat 9 tentara wanita pemegang senapan mesin, 3 tentara wanita bersenjata senapan laras panjang dan 1 tentara wantia insinyur medan tempur.

Polandia: Tentara wanita bisa berdinas di setiap departemen kemiliteran, dan sejak 2004 Negara meminta kaum wanita yang memiliki gelar diploma perawat dan ijazah dokter hewan mengikuti wajib militer. Setelah terjadi berbagai perubahan dalam undang-undang, sejak tahun 1999 sekolah militer Polandia sepakat untuk merekrut kaum wanita, hingga tahun 2003 baru terdapat kaum wanita yang menyelesaikan studi dalam tempo 4 tahun dan memikul tugas kemiliteran.

Swedia: Sejak 1989, di dalam pasukan militer Swedia tidak ada batasan jenis kelamin. Orang Swedia menyatakan, tentara wanita memainkan peran aktif dalam pertempuran, terutama di Afghanistan. Tentara wanita Swedia dan wanita lokal Afghanistan bergaul dengan baik, prestasi tentara wanita dalam memimpin pasukan pencari ranjau/bom, mencari pelaku bom bunuh diri dan tugas-tugas identifikasi lainnya terbukti menonjol.

Australia: Dari September 2011, job dalam pasukan tempur Australia terbuka untuk tentara wanita, diantaranya termasuk memungkinkan mereka untuk bergabung dengan pasukan khusus, infanteri dan pasukan lapis baja di Afghanistan. Tentara wanita juga telah diizinkan untuk menjadi penyelam Angkatan Laut. Sampai Juni 2014, ada 63 tentara wanita yang bergabung dengan unit-unit tempur garis depan. (Liu Quan/hui/whs/rmat)

 

Share

Video Popular