31 Desember 2014 menandai ulang tahun ke-500 kelahiran salah satu tokoh paling penting dalam sejarah kedokteran. Ia menulis salah satu buku paling elegan dan berpengaruh dalam sejarah ilmiah. Penyelidikannya merevolusi pemahaman kita tentang bagian dalam tubuh manusia dan berbagai metode yang digunakan oleh para dokter untuk belajar dan mengajar tentang hal itu, yang masih terus bergema di seluruh dunia pengobatan hingga saat ini.

Tokoh itu bernama Andreas Vesalius. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga medis di tempat yang sekarang merupakan wilayah Belgia. Sebagai anak laki-laki, ia menunjukkan minat yang besar terhadap pembedahan hewan, sebuah hal yang dianggap menjijikkan pada zamannya. Namun ia bertahan, demi memelajari ilmu kedokteran di Paris, Perancis dan Padua, Italia, yang merupakan dua pusat besar bagi dunia penelitian anatomi. Ketika lulus, ia langsung ditawari posisi mengajar. Tidak seperti para pengajarnya, dia bersikeras melakukan pembedahan sendiri dan mendorong siswa untuk melakukan hal yang sama.

Membandingkan antara apa yang terungkap melalui pembedahannya sendiri dengan apa yang ia baca dari buku pelajaran pada saat itu, Vesalius menegaskan bahwa daging itu sendiri adalah panduan yang lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan sekedar kata-kata tertulis. Dia bertentangan dengan lebih dari 200 dari ajaran milik Galen, dokter dan ahli anatomi Romawi abad ke – 2, sosok paling menjulang dalam sejarah anatomi kala itu. Sebagai contoh, Vesalius menunjukkan bahwa Galen keliru dalam menyatakan bahwa rahang manusia terdiri dari dua tulang.

Bagaimana mungkin seorang pria yang ajarannya bertahan selama lebih dari 1.300 tahun membuat suatu kesalahan yang tampaknya begitu sepele? Beberapa pihak berwenang yang membela Galen menyatakan bahwa anatomi tubuh manusia tentunya telah mengalami perubahan sejak zaman Galen. Namun Vesalius mengetahui jawaban yang sesungguhnya: kebiasaan bangsa Romawi telah melarang Galen melakukan pembedahan terhadap mayat manusia, sehingga memaksa dia untuk mengandalkan contoh anatomi dari hewan, seperti babi, kera, dan anjing. Dan untuk rahang anjing, Galen memang benar.

Tentu saja, Vesalius sendiri mengetahui bahwa Galen jauh lebih sering benar daripada salah, dan ia sering mengagumi kedalaman pengetahuan dari pendahulu kunonya itu. Misalnya, Galen telah bereksperimen pada saraf tulang belakang babi, menunjukkan bahwa ketika ia memotong saraf di dekat ujung ekor, hewan itu akan kehilangan penggunaan kaki belakangnya. Ketika memotong saraf lain yang lebih dekat ke kepala, lengan depan akan berhenti bergerak. Dan ketika ia memotong di tempat yang lebih tinggi, hewan itu akan berhenti bernafas. Ini merupakan keterkaitan eksperimental yang sungguh luar biasa antara struktur dan fungsi neurologis.

Kegigihannya agar pengajar dan siswa belajar anatomi secara langsung, bukan menghafal apa yang mereka temukan di buku-buku pelajaran, Vesalius seolah menyalakan kembali api gairah Galen terhadap pengamatan langsung. Dalam prosesnya, ia menciptakan spesimen anatomi yang benar-benar luar biasa. Diseksi publiknya pada 1543 dari tubuh seorang penjahat terkenal menghasilkan kerangka anatomi tertua dan terlengkap di dunia. Kerangka ini masih dipamerkan hingga saat ini di Basel, Swiss.

Mungkin prestasi yang paling luar biasa dari Vesalius adalah publikasinya, “On the Fabric of the Human Body”. Ini terdiri dari tujuh jilid yang menggambarkan tulang, otot, pembuluh darah, saraf, sistem pencernaan, jantung, dan otak. Karya itu berisi lebih dari 200 ilustrasi, banyak yang diakui saat ini sebagai salah satu gambar anatomi yang paling indah yang pernah diciptakan. Diciptakan oleh seniman yang ia kagumi, gambar-gambar itu terukir di blok kayu untuk reproduksi, dan mereka mewakili lompatan kuantum di luar pendahulu mereka tentang anatomi secara rinci dan kecanggihan.

Karya Vesalius diakui sebagai salah satu buku terbesar yang pernah diterbitkan. Hal ini tidak hanya indah, namun juga mencerminkan gelar tak tertandingi baik pengetahuan ilmiah dan sensitivitas estetika. Hal ini menunjukkan tubuh tidak hanya sebagai tumpukan daging, namun juga ditampilkan secara meriah dan bergerak, menekankan korelasi antara bentuk dan fungsi. Hal ini juga mendirikan standar yang sangat tinggi untuk penelitian dan pengajaran anatomi, pengaturan biologi, dan kedokteran pada jalur baru dari penemuan. Dan akhirnya, itu adalah salah satu perkawinan terbesar antara ilmu pengetahuan, seni, dan humanism yang pernah dicapai.

Yang juga mengesankan adalah fakta bahwa Vesalius menerbitkan magnum opus-nya pada usia yang masih sangat muda, 28 tahun, pada era ketika sebagian pihak berwenang dalam kedokteran masih satu atau dua generasi di atasnya. Dalam menyajikan visi anatomi baru ini kepada dunia, ia membangun kembali keunggulan bentuk manusia itu sendiri sebagai teks kedokteran yang paling penting. Mereka yang ingin mengetahui bentuk tubuh manusia, menurutnya, harus mengabdikan diri untuk belajar bagi diri mereka sendiri, bukan mendelegasikan tanggungjawab itu kepada orang lain.

Pemahaman kita tentang anatomi manusia telah maju cukup jauh sejak Vesalius. Pengenalan mikroskop membuka dunia dari sel-sel yang mungkin hanya bisa menjadi mimpi Vesalius, dan penemuan CT dan MRI scanner telah memungkinkan untuk memeriksa bagian dalam bentuk tubuh manusia dalam kondisi hidup, tanpa menggunakan pisau bedah. Namun bahkan inovasi yang lebih baru akan terus mengingat semangat Vesalius, yang bersikeras bahwa mereka yang ingin memahami tubuh harus melihatnya sendiri. (Osc/yant)

Share

Video Popular