Seseorang yang sering berbohong memang sangat menjengkelkan. Mungkin kita semua pernah mendengar cerita tentang serigala, mereka yang sering berbohong itu tidak akan bisa mendapatkan kepercayaan dari orang lain, dan yang rugi adalah mereka sendiri. Sebenarnya, orang yang suka berbohong itu juga mencerminkan perilaku moral dan kualitas seseorang. Di era materialistik saat ini, ada orangtua dari kita itu kerap berbohong baik dengan kata-kata maupun dengan contoh kelakuan diri agar anak-anaknya sendiri tidak mengalami kerugian.

Kisah tentang Buddhisme berikut ini menceritakan lebih mendalam tentang perilaku orang-orang yang berbohong.

Rahula adalah putra dari Buddha Sakyamuni sebelum beliau menjadi biksu. Pada tahun pencerahan Buddha kala itu, Rahula yang masih belia ikut menjadi biksu. Anak yang baru berusia puluhan tahun, masih mempertahankan kebiasaan nakalnya (suka bermain/bercanda), dan bukanlah waktu yang singkat untuk bisa memperbaikinya. Hidup di bawah lingkungan yang khidmat dan tenang seperti itu, tidak ada kesenangan dan mainan yang dapat memuaskannya (Rahula), lalu ia merancang suatu permainan yang menyenangkan untuk dirinya.

Setiap kali ada yang datang bertanya tentang di mana Buddha pada Rahula, ia selalu bercanda dengan tamu yang berkunjung, Sang Buddha jelas-jelas sedang duduk bermeditasi di bawah pohon, Rahula berbohong mengatakan bahwa Buddha sedang meditasi di pinggir sungai ; Sang Buddha berada di biara memberikan pencerahan pada murid-muridnya, ia (Rahula) menujuk ke kejauhan sambil mengatakan Buddha sedang berkhotbah di suatu tempat. Melihat para tamu yang kesana kemari mencari Buddha, Rahula pun menertawakan kebodohan orang lain.

Setelah Buddha mengetahui perilaku bohong Rahula, Sang Buddha kemudian mendapatkan cara untuk mendidiknya. Suatu hari Sang Buddha memintanya untuk mengambil sewadah air bersih, untuk mencuci kaki Buddha. Seusai membersihkan kakinya, Sang Buddha lalu berkata pada Rahula : “Minum air di wadah ini.” Rahula lalu menjawab : “Air bekas cuci kaki ini sangat kotor.” Lalu Buddha berkata lagi : “Rahula, kata-katamu seperti air kotor di wadah ini, menyakitkan telinga orang yang mendengarnya.” Mendengar itu, Rahula menjadi takut, lalu segera membuang air di wadah itu. Buddha kemudian berkata lagi : “Bawalah wadah ini, tuang nasimu ke dalam dan makanlah!” Merasa disalahkan, Rahula lalu berkata : “Wadah bekas cuci kaki itu kotor, tidak bisa mengisi makanan yang bersih.” Buddha lalu berkata lagi : “Rahula, kamu seperti wadah kotor ini, Dharma (ajaran Buddha) yang baik itu tidak bisa dimasukkan ke dalam batinmu.” Mendengar itu, Rahula merasa sangat malu.

Buddha menatap wadah di atas tanah itu, lalu menendangnya, wadah itu pun menggelinding ke mana-mana. Kemudian Buddha bertanya : “Rahula, apakah kamu merasa sayang kalau wadah ini pecah ?” Rahula lalu mengatakan : “Buddha, wadah untuk mencuci kaki ini adalah sesuatu yang nista, tidak seberapa nilainya, meski rusak sekalipun juga tidak apa-apa!” Mendegar perkataan Rahula, Buddha lalu mengatakan : “Kamu seperti wadah yang tak berharga ini, jika suka bicara sembarangan dan berbohong, maka kamu tidak akan mendapatkan penghargaan dari orang lain dan juga tidak ada yang akan menghormatimu, dan peduli dengamu.” Seusai mendengar perkataan / wejangan Buddha, Rahula pun seketika menangis terisak dan sejak itu Rahula tidak lagi berbohong, konsentrasi pada kultivasinya untuk mencapai pencerahan, hingga mencapai pencerahan pertama dalam kultivasinya dan menjadi Arahat Agung. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular