Beberapa kebudayaan kuno memiliki tokoh legenda yang suka berjalan mundur, hal ini untuk mengingatkan orang-orang di sekitarnya agar memperhati-kan perkembangan standar moralitasnya sendiri, kemajuan atau kemunduran.

Zhang Guo Lao

Zhang Guo Lao, seorang pertapa Taois Tiongkok kuno, zaman Dinasti Tang (618 – 907 M), mengendarai keledai dengan posisi membelakangi, tujuannya untuk menunjuk¬kan orang bagaimana standar pemikiran (= moralitas) mereka mengalami kemunduran. Menurut Taois ini, apa yang kebanyakan orang pikir telah bergerak maju (mendapatkan kekayaan, memuaskan berbagai keinginan) sebenarnya adalah bergerak mundur, jauh dari bagaimana prinsip manusia sesungguhnya. Dia menunjukkan orang-orang bahwa sering kali prinsip-prinsip hidup terbalik ketika seseorang mengikuti jalan spiritual.

Meskipun Zhang adalah tokoh besar dalam legenda Tiongkok, namun dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa dia adalah eksis di ke¬hidupan nyata.

Dikatakan bahwa tokoh suci ini telah mempelajari ra¬hasia dari keabadian. Zhang diperkirakan lahir sekitar 2.200 SM. Zhang tidak akan menemui orang untuk mem¬berikan rahasianya, tapi ia mau bertemu dengan satu kaisar yang hatinya tulus dan mencari kebijaksanaan akan Tao, suatu tradisi spiritual Tiongkok kuno.

Pelajaran lain yang ter¬kandung dalam kisah Zhang berjalan mundur. Zhang di¬panggil ke istana kekaisaran untuk menunjukkan kele¬dainya yang berjalan mundur. Keledai tersebut bergerak be¬gitu mantap, sehingga kaisar memberikan hadiah anggur. Akan tetapi tiba-tiba keledai itu beralih menjadi selembar kertas. Zhang mengatakan itu adalah keledai kertas yang digerakkan dengan kekuatan magisnya, namun anggur itu yang membuatnya kembali ke bentuk kertas.

Dia mengatakan: “Apa yang benar akan tetap berdiri dan yang palsu tidak akan bertahan.”

Heyoka

Di antara penduduk asli Amerika, Lakota, ada seorang tokoh yang dikenal sebagai Heyoka, naik kuda dengan mengenakan pakaian se¬cara terbalik (pakaian dalam dikenakan diluar) dan pada umumnya melakukan segala suatu dengan mundur.

Namun Heyoka itu tidak satu orang, tetapi beberapa orang yang telah dipilih untuk memenuhi peran spiritual ini di masyarakat.

Dr. Steven Mizrak, dosen di Departemen Penelitian Global dan Sosial Budaya di Florida International Uni¬versity, AS, menjelaskan dalam makalahnya yang berjudul Thunderbird and the Trick¬ster: “Heyoka, atau badut suci, biasanya sedikit jum¬lahnya, tetapi ditemukan di hampir setiap klan [dari La¬kota]. Heyoka adalah perten¬tangan, sering kali berbicara dan berjalan mundur. Mereka bertindak konyol, cabul, dan gaya yang lucu, terutama selama upacara sakral. Mereka dianggap tak kenal takut dan tanpa rasa sakit, mampu merebut sepotong daging dari panci air mendidih.”

Para Heyoka dianggap berada di luar konsep manusia, dan untuk berhubungan dengan Tuhan. Tindakan mundur mereka dimaksudkan untuk mengejutkan orang dalam mengevaluasi pemikiran mereka. Dr. Mizrak mengatakan: “Heyoka mengolok-olok orang lain dalam budayanya untuk tidak membuat orang tersebut merasa malu dan bodoh, tetapi untuk menunjuk¬kan kepada mereka cara mulai menjadi lebih pintar.”

“Setiap kali mereka mengganggu kekhidmatan upacara, orang menganggapnya sebagai peringatan untuk melihat melampaui literal dari ritual, dan menyelami misteri kesakralan yang lebih dalam.” (Ajg/Yant)

Share

Video Popular