Antara kaum miskin dan hartawan, terdapat kesenjangan yang amat besar, dengan cara apa dapat menyambung dan memperkecilnya? Ambil contoh John Rockefeller, ia merupakan miliarder pertama dalam sejarah Amerika Serikat, yang dapat menghubungkan kesenjangan amat besar antara kaum miskin dan hartawan yaitu dengan: ketekunan.

John Rockefeller dalam surat untuk mendidik anaknya mengingatkan kembali, dalam masa hidupnya ketika masih kanak-kanak dipenuhi dengan kesulitan dan penderitaan. Pada usia 10 tahun ia sudah harus memikul pekerjaan yang sanggup dilakukan: Memotong kayu bakar, memeras susu sapi, bercocok tanam, menimba air dan lain-lain. Kemudian disaat bekerja di perusahaan Hewitt – Tuttle sebagai pegawai bagian pembukuan, ia hanya digaji 5 dollar AS (saat itu) per minggu.

Namun siapa dapat mengira justru karena kemiskinan tersebut pada suatu hari dapat menjadi milliarder pertama di dunia, seorang pendiri perusahaan minyak Standard Oil. Dalam masa paling jayanya ia berhasil menguasai 90% kebutuhan pasar di seluruh AS dan dengan ketenaran sang bos raksasa minyak global, perusahaan itu mampu memengaruhi nadi perekonomian dunia.

Dalam jalur menuju kekayaan materi, bagi semua orang ‘kesempatan’ disediakan sama, demikian pula dengan ‘waktu’, namun mengapa ada orang berhasil membuka kunci menuju sumber kekayaan, sedangkan sebagian besar lainnya terlewatkan begitu saja?

Terhadap hal ini, John memiliki motto yang sangat ia anjurkan: “Ketekunan melahirkan hartawan”. Rockefeller mengatakan, sejak remaja ia percaya pada sebuah prinsip: kekayaan merupakan hasil tambahan dari bekerja tekun. Di tengah dunia yang penuh dengan perubahan tak terbatas, tidak ada hartawan yang abadi, juga tidak ada kesengsaraan abadi. John Rockefeller di masa kanak-kanak, kondisi keluarganya sangat miskin, bahkan sampai memerlukan bantuan para dermawan untuk menyambung kehidupan keluarganya. Namun di kemudian hari, ia justru berhasil memiliki sebuah mega kerajaan bisnis.

John beranggapan, imperium kekayaan dan kedudukan internasional yang menonjol itu, hanya sebagai imbalan dari hasil kerja keras dirinya yang jauh lebih banyak daripada orang lain. “Saya mulanya adalah manusia awam yang biasa-biasa saja yang tidak memiliki mahkota di atas kepala, namun hanya dengan kemauan yang kuat, kegigihan dan ketekunan, akhirnya mencapai keberhasilan. Reputasi saya bukanlah semu, adalah mahkota yang dituang oleh keringat dan darah. Kekayaan kami merupakan hadiah dari ketekunan kami,”katanya.

Dalam pandangan John, dunia yang sarat dengan perubahan ini, seolah tiada henti. Walau dengan kondisi keluarga sangat miskin, namun asalkan mau bekerja dan berpikir dengan rajin dan tekun serta senantiasa menuntut kearifan, orang miskin juga sama saja dapat menjadi hartawan baru. Rajin bekerja bukan demi orang lain, justru diri sendirilah yang akan menikmati keuntungan yang paling besar, “Seluruh martabat dan kemuliaan harus diperoleh dari kreativitas diri sendiri, dengan demikian baru bisa langgeng”.

Baik di masa lalu maupun sekarang, di Timur maupun di Barat, para hartawan yang memiliki kedudukan, kewibawaan, kemuliaan dan kekayaan, mereka umumnya juga memiliki sebuah hati yang tekun dan tulus, justru karena digembleng oleh sikap kerja keras seperti itu, sehingga mereka dapat memiliki kualitas materi kekayaan dan memperoleh keberhasilan dalam usahanya. Tekad menggembleng diri tersebut membuat mereka dalam menciptakan kekayaannya, berhasil menjadi seorang hartawan baru.

Kisah tentang John Rockefeller yang mendidik anaknya dengan menggunakan pepatah ketekunan melahirkan hartawan, juga sedang menyampaikan pesan, ketekunan di tengah proses penciptaan kekayaan, dapat memperlihatkan kepada masyarakat, kemampuan yang amat besar dalam menghubungkannya dengan hartawan. Walau penyampaian ketekunan dalam budaya Timur dan Barat terdapat perbedaan dalam bahasa, namun bermakna sama.

Dalam kebudayaan Timur, “tekun” mempunyai arti yang lebih luas, di Tiongkok terdapat sebuah pepatah kuno, “Alam akan memberi imbalan besar kepada orang yang tekun bekerja”. Maknanya ialah tekun dapat melengkapi kekurangan orang, dapat memperoleh keberhasilan dalam sekolah, dapat mencapai puncak karier dan lain sebagainya. Tekun bekerja dan hemat dapat membuat keluarga sejahtera. Negara tekun dalam pemerintahan dapat membuat negeri damai rakyat sentosa, dapat dikatakan makna “tekun” sangat dalam dan luas.

Dilihat lebih mendalam lagi, karena ketekunan dapat tak henti-hentinya membuka kemampuan jiwa yang berada di lubuk hati, sehingga dapat mencapai hasil yang tak tergoyahkan. Misalnya tali yang lembut tapi secara tekun digerakkan mampu menggergaji putus pohon besar, tetes air yang berkesinambungan secara tekun mampu menembus batu cadas. Itu sebabnya buah dari ketekunan itu ibarat batu cadas (rock) yang dengan kokoh menyangga imperium bisnis yang berhasil diwariskan hingga sekarang oleh seorang John Rockefeller (1839- 1937). (Tys/Yant)

Share

Video Popular