Gejala penyakit kanker kolorektal seperti penyakit lainnya, tidak permanen tetapi beragam, malah terkadang sulit untuk membedakannya dari penyakit lain.

Kata para ahli bahwa gejala kanker kolorektal, biasanya termasuk: tinja berdarah, perubahan frekuensi buang air besar, anemia, penurunan berat badan, sakit perut atau kembung. Karena tidak ada gejala awal yang jelas, setelah berada di stadium tengah-akhir baru timbul gejala di atas. Itu sebabnya secara berkala orang harus memiliki kebiasaan pemeriksaan dini kanker kolorektal.

Penelitian menemukan bahwa jika dilakukan skrining rutin terhadap kanker kolorektal dan dapat terdeteksi lebih dini, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun adalah 90 persen. Dan jika ketika ditemukan telah menyebar ke kelenjar getah bening, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun akan terkurangi menjadi 68 persen.

Selain itu, para ahli merekomendasikan, ketika terjadi gejala berikut pada tubuh sangat mungkin adalah kanker kolorektal, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter, untuk terdeteksi dini dan terobati lebih dini.

1. Nyeri perut dan kembung

Nyeri perut dan kembung disebabkan oleh gangguan fungsi saluran usus, atau disebabkan obstruksi usus. Lebih terkonsentrasi di perut bagian bawah atau sebagian besar rasa sakit samar-samar atau nyeri, dan secara bertahap memburuk. Beberapa pasien juga tampak timbul gejala sakit terus menerus pada lokasi yang tidak tetap.

Sebagian pasien menunjukkan gejala nyeri perut karena obstruksi usus tidak lengkap, menunjukkan gejala nyeri secara periodik dan berlangsung selama beberapa menit, terasa ada nyeri yang seperti dilalui gas, lalu disusul mengeluarkan gas, kemudian rasa sakit tiba-tiba menghilang, bila gejala tersebut terjadi pada manula, kanker kolorektal harus dipertimbangkan terlebih dahulu.

2. Tinja berdarah

Ini adalah gejala awal yang paling umum dari kanker kolorektal. Karena sumber penyakit tidak jauh dari anus, tinja kebanyakan berwarna merah segar atau merah gelap, dan terkadang tinja dan darah terpisah.

Pasien ringan harus melalui tes laboratorium baru diketahui ada pendarahan ringan, bagi pasien parah dapat termanifestasi dari tinja yang berlendir dan berdarah, tinja dengan darah nanah berlendir atau BAB darah segar. Pasien acapkali salah didiagnosis sebagai diare atau pendarahan karena wasir, sehingga menunda peluang pengobatan.

3. Perubahan kebiasaan buang air besar

Jika peningkatan frekuensi buang air besar atau perubahan bentuk tinja, misalnya jika sebelumnya melakukan BAB sekali sehari, berubah menjadi BAB 3-4 kali sehari, dan ketika melakukan BAB ada perasaan tidak tuntas. Atau bolak-balik diare dan sembelit secara bergantian, sepertinya ada darah atau nanah dalam tinja, itu boleh jadi adalah peringatan dari tubuh bahwa ada masalah kesehatan usus dan sudah saatnya berkunjung ke dokter untuk diperiksa.

Hanya ketika kanker kolorektal relatif membesar dan ada pengikisan, tukak atau infeksi, baru muncul BAB tidak pada biasanya, perubahan kekerapan, dan sembelit atau diare yang tidak jelas penyebabnya. Jika pertumbuhan tumor atau kanker mengarah ke rongga dubur, sehingga jalur usus relatif sempit, maka tinja yang keluar acapkali berubah menjadi tipis, deformasi, dapat berbentuk datar, terkadang tinja yang deformasi melekat sedikit darah.

4. Anemia dan penurunan berat badan

Seiring dengan perkembangan penyakit, pasien bisa timbul gejala kronis, seperti anemia, penurunan berat badan, kelelahan dan demam, dan sering disertai dengan kelelahan dan berat badan anjlok yang sulit dijelaskan, berkaitan dengan BAB berdarah, tidak cukup asupan serta pendarahan berlebihan.

5 kebiasaan untuk mengurangi risiko kanker

Analisis dari pakar, pola makan dan gaya hidup yang buruk merupakan salah satu penyebab terkena kanker. Peneliti ahli dari WHO menemukan bahwa hamburger, kentang goreng, daging panggang, ayam goreng dan kerupuk mengandung banyak zat akrilamida, di antaranya akrilamida dari kentang goreng adalah sekitar 100 kali lebih tinggi dari standar yang ditentukan. Akrilamida dapat menyebabkan mutasi genetik tiba-tiba, merusak sistem saraf pusat dan perifer, menginduksi tumor jinak atau ganas.

Oktober tahun lalu, majalah Inggris BMC Medicine memuat sebuah penelitian terbaru di Jerman yang menemukan bahwa menggunakan kombinasi dari lima perilaku sehat akan mengurangi risiko terjangkit kanker kolorektal.

Peneliti dari Institute of Human Nutrition Potsdam Jerman mengukur beberapa kombinasi gaya hidup sehat, untuk mengamati dampak dari gaya hidup ini pada penderita kanker kolorektal, mereka menemukan bahwa efek ini lebih kuat untuk pria daripada wanita.

Para peneliti ini melakukan wawancara sistematis terhadap 347.000 perserta dari Eropa selama 12 tahun, selama penelitian itu hampir 3.760 orang didiagnosis mengidap kanker kolorektal.

Indeks Hidup Sehat terbentuk oleh 5 faktor gaya hidup sebagai berikut: berat badan yang sehat, lemak di bagian perut rendah, berpartisipasi dalam aktivitas olahraga secara teratur, tidak merokok dan minum sedikit alkohol, serta makan buah, sayuran, ikan, yogurt, kacang-kacangan dan makanan kaya serat, kurangi makan daging merah dan daging olahan.

Penelitian menemukan bahwa faktor gaya hidup yang lebih sehat dapat mengurangi risiko kanker kolorektal. Dibandingkan dengan orang yang hanya memiliki satu faktor kesehatan dengan orang berperilaku faktor kesehatan 2, 3, 4 atau 5 macam, masing-masing akan terbentuk, 13 persen, 21 persen, 34 persen dan probabilitas 37 persen, dapat mengurangi risiko kanker kolorektal.

Para peneliti mengatakan: “Jika mengikuti 5 macam perilaku sehat ini, lebih dari 22 persen pria dan 11 persen wanita dapat mencegah terjangkitnya kanker kolorektal.” (Sud/Yant)

Share

Video Popular