Jakarta – Kondisi perekonomian Indonesia sudah dikatakan pada titik kritis ditambah dengan menurunnya daya beli masyarakat. Bahkan sejumlah perusahaan yang bergerak pada tekstil, elektronik dan otomotif sudah memasuki kondisi yang sama bahkan sejumlah perusahaan tambang sudah memberhentikan karyawan mereka.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan indikator kritis pada sebuah negara bisa dikatakan jika sudah mengalami penurunan ekonomi selama dua tahun berturut-turut. Kondisi demikian, lanjutnya, sudah bisa ditandai dengan kondisi perkenomian yang kurang baik sepanjang 2014 hingga 2015.

“Suatu kondisi ekonomi bisa dikatakan krisis kalau suatu negara kalau turun selama dua tahun berturut-turut,” katanya dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (30/8/2015).

Dia menambahkan, jika dilihat pada 2013 kondisi perekonomian sudah mengalami penurunan. Bahkan pada 2014 pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,1 persen dan pada 2015 target ekonomi yang ditargetkan mencapai 5 persen, kini hanya mencapai 4,7 persen.

Menurut Enny, kondisi perekonomian yang sudah berada dalam kritis memerlukan penanganan intensif dan kongkrit dari pemerintah. Jika kondisi pada saat ini tetap dibiarkan maka Indonesia benar-benar sudah memasuki kondisi krisis. Dia mengibaratkan perekonomian sekarang sudah dalam keadaan sakit dengan kondisi kritis.

Oleh karena itu, imbuhnya, kondisi perekonomian yang kritis pada saat ini jika dibiarkan maka kondisi perekonomian bisa death dan life. Namun demikian, tentunya kondisi demikian tidak serta merta diinginka oleh masyarakat Indonesia. Mengharapkan tumbuhnya optimisme, lanjut Enny, dinilai lebih jauh penting dari pada menyalahkan pihak lain.

Deputi III Kantor Staf Kepresidenan, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tidak setuju jika kondisi ekonomi sekarang berada dalam kondisi kritis. Dia menilai perekonomian sekarang hanya memasuki kondisi melambat saat memasuki kondisi siklus bisnis. Perekonomian Indonesia tidak bisa dikatakan memaski kondisi memburuk.

“Kita belum kritis tapi melambat, kalau kondisi sekarang buruk tidak juga,” ujarnya.

Dia mengklaim sebelum pemerintahan Jokowi-JK memimpin secara resmi, kondisi perekonomian sekarang sudah diprediksi sebelumnya. Hingga kemudian, lanjutnya, pemerintah mencoba menciptakan titik balik ekonomi ke depan agar bisa tumbuh dengan baik.

Menurut dia, pemerintah sudah berusaha dan bekerja keras untuk kembali pada titik kemungkinan dengan menjaga daya beli masyarakat. Dia berjanji pemerintah akan memperbaiki harga pangan dengan meluncurkan program keluarga sejahter. Langkah ini diharapkan tidak membuat keluarga miskin terperosok. Selanjutnya Kementerian Keuangan melaksanakan langkah jitu untuk mempercepat perbaikan pelemahan ekonomi.

“Dulu dan sekarang beda, dulu banyak instruksi tapi pelaksanaan, kita mempercepat proyek infrsatruktur yang macet dan dampaknya signifikan, UMKM ke depan akan menikmati penurunan suku bunga,” ujarnya. (Asari)

Share

Video Popular