71 jenasah diangkut dalam sebuah truk Austia yang ditemukan di perbatasan pada Kamis (27/8/2015), Selain itu, sedikitnya 200 jenasah para pengungsi dan imigran gelap korban asal kapal dari Libya yang tenggelam tampak terapung di permukaan laut. Pada hari yang sama, pertemuan kedua Balkan Barat yang diadakan di Wina sedang membahas topik tentang masalah penanganan pengungsi.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa kesepakatan Dublin yang mengatur penempatan para pengungsi sudah dibatalkan, karena itu Eropa perlu menetapkan kebijakan baru soal penanganan pengungsi. Ia pun menyarankan kepada negara-negara Eropa untuk meningkatkan kerjasama dalam menghadapi membludaknya jumlah pengungsi akhir-akhir ini.

2 tragedi kematian para pengungsi terjadi dalam sehari

Sebuah truk bermuatan sejumlah jenasah pengungsi yang sudah menebarkan bau busuk ditemukan di perbatasan antara Austria dengna Hungaria pada Kamis (27/8/2015). Jurubicara Departemen Dalam Negeri Austria mengatakan bahwa pihaknya telah memastikan jenasah yang diangkut truk itu berjumlah 71 dan mereka tewas akibat kehabisan napas.

Pada hari yang sama, 2 kapal pengungsi yang berangkat dari Libya menuju Italia tenggelam di laut. Polisi pengawas pantai Libya mengatakan bahwa mereka berhasil menyelamatkan 200-an orang dari tragedi itu, tetapi masih ada sekitar 200-an orang lainnya yang tak tertolong. Pejabat lokal mengatakan, mereka itu kebanyakan berasal dari daerah sekitar Sahara dan Afrika bagian selatan, seperti Pakistan, Suriah, Banglades dan Maroko.

Jumlah pengungsi dari Laut Tengah membludak

Dalam 2 tahun terakhir ini, jumlah pengungsi dan imigran gelap ke Eropa melalui Laut Tengah terus bertambah. Pejabat PBB mengatakan bahwa Eropa sedang menghadapi krisis pengungsi terbesar sejak berakhirnya Perang Dunia kedua.

Ada sebanyak 220.000 orang imigran gelap yang memasuki negara-negara Eropa pada 2014, dan sejak awal tahun ini, para imigran gelap asal daerah sekitar Laut Tengah yang masuk ke Eropa sudah mencapai lebih dari 300.000 orang. Termasuk 200.000 orang yang masuk melalui Yunani. pada Juli yang lalu, jumlah pengungsi dan imigran gelap yang masuk Eropa sudah mencapai 107.000 orang yang memecahkan rekor selama ini.

Menurut Pusat Imigrasi Internasional bahwa, di tahun ini sudah tercatat 2.432 orang imigran gelap asal Laut Tengah yang tewas. Laporan BBC menunjukkan bahwa para pengungsi yang meninggal dunia dalam perjalanan di bulan Mei saja sudah mencapai lebih dari 1.800 orang. Jumlah tersebut merupakan 20 kali dari jumlah korban pada periode yang sama tahun lalu.

Akibat banyaknya kecelakaan fatal yang merenggut nyawa para pengungsi, perairan laut antara Libya – Italia dikenal sebagai ‘Jalur laut Maut’ atau ‘Kuburan Laut Tengah’.

Negara Eropa memiliki masalah masing-masing yang sulit dikompromikan

Untuk menyelesaikan masalah 40.000 orang pengungsi yang terdampar di Italia dan Yunani, Komisi Uni Eropa pernah mengusulkan untuk menciptakan sistem kuota yang membagi ‘jatah penampungan’ kepada pengungsi sesuai dengan kemampuan ekonomi dari negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Tetapi usulan tersebut tidak memperoleh kesepakatan dalam pertemuan yang mereka adakan pada 20 Juli lalu.

Menurut rancangan semula bahwa ke-25 negara Uni Eropa itu diwajibkan untuk menyediakan penampungan bagi para pengungsi. Dari negara dengan ekonomi kuat seperti Jerman, Prancis sampai negara kecil Luxemburg ikut kebagian. Inggris, Denmark dan Irlandia juga dihimbau untuk berpartisipasi meskipun tidak kebagian ‘jatah’.

Tahun lalu Jerman menerima aplikasi suaka bagi 200.000 orang pengungsi. Tahun ini aplikasi yang sama mungkin bisa mencapai 700.000. namun suara protes dari dalam negeri mengenai penerimaan pengungsi juga terus meningkat, Neo Nazi dan organisasi ekstrem kiri lainnya membuat kerusuhan, membakar tempat-tempat pengungsian untuk menentang Merkel.

Prancis yang masih merupakan negara sekutu Jerman juga menyatakan keberatan atas sistem kuota Komisi Uni Eropa dengan alasan bahwa ‘Prancis sesungguhnya juga sudah berbuat banyak’ dalam menangani masalah pengungsi.

Pemerintah Inggris secara tegas menolak himauan Komisi Uni Eropa. Bahkan memperkuat penjagaan lorong bawah laut Selat Inggris untuk mencegah masuknya kaum pengungsi maupun imigran gelap ke Inggris. Dikabarkan bahwa Inggris dalam setahun ini sudah menerima jumlah imigran legal sampai 330.000. jumlah ini sudah 3 kali lipat dari apa yang pernah dijanjikan oleh Partai Konservatif Inggris untuk menerima paling banyak 100.000 orang imigran resmi dalam setahun.

Perekonomian negara Eropa Timur tidak sebagus Eropa Barat sehingga pemerintah negara seperti Polandia, Ceko, Latvia, Slovakia dan lainnya juga menyatakan keengganan mereka untuk mendukung sistem kuota Uni Eropa itu. Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban bahkan secara blak-blakan menyebut proyek itu sebagai suatu ‘rancangan kaum idiot’.

Eropa terdesak untuk menciptakan satu tatanan baru tentang pengungsi

Menurut Kesepakatan negara-negara Eropa dalam menangani masalah pengungsi yang ditanda-tangani 25 tahun silam di kota Dublin menyebutkan, negara pertama yang kedatangan pengungsi perlu bertanggung jawab untuk memberikan penampungan dan suaka bagi para pengungsi. Namun ‘pintu’ yang terletak di Eropa Selatan yaitu Yunani dan Italia tidak mampu untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut sehingga memaksa Uni Eropa untuk menilai kembali Kesepakatan tersebut.

Kanselir Jerman dalam pertemuan di Wina mengatakan bahwa Eropa dipandang perlu untuk secepatnya membentuk mekanisme baru untuk pemerataan penampungan kaum pengungsi.

Di saat para pemimpin Eropa sedang dipusingkan oleh belum tercapainya kesepakatan penanganan, jumlah pengungsi terus bertambah. Banyak warga negara sekitar Laut Tengah ‘biar beresiko mati asal bisa pergi ke Eropa’ terus membanjiri perbatasan antara Hungaria dengan Serbia untuk menyelinap masuk negara Eropa. Tatanan baru soal penanganan pengungsi dan imigran gelap memang sudak mendesak untuk diadakan. (Ma Li/sinatra/rmat)

 

Share

Video Popular