Alasan kedua: tidak bisa “kekerasan dibalas kekerasan”

Alasan kedua para penentang hukuman mati tentang “hutang nyawa dibayar nyawa” memiliki efek penangkal adalah: hukuman modern seharusnya menitikberatkan pada rehabilitasi, dan bukan pembalasan dendam; tidak bisa “kekerasan dibalas kekerasan, atau membalas kematian dengan kematian, atau saling membalas dendam”; apalagi hukuman mati tidak bisa menimbulkan efek jera / pencegah untuk meredam yang lainnya.

Seperti uraian sebelumnya, “pembunuh yang membunuh orang tak bersalah” dan “hukum memvonis pelaku dengan hukuman mati” adalah dua konsep yang berbeda. Diantara dua orang pribadi terdapat kondisi “balas dendam”, “kekerasan dibalas kekerasan”, atau “saling membalas dendam”; sementara di pengadilan pada masyarakat hukum, sudah bukan lagi seorang pribadi terhadap pribadi lainnya, bukan pula tim juri terhadap orang pribadi, dan hal ini sejak dulu telah dijabarkan oleh John Locke, seorang pemikir Inggris, untuk membela diri rakyat yang diberi kuasa (lewat penyampaian kesepakatan) membentuk pemerintah; jadi pengadilan dari suatu pemerintahan hukum adalah wujud manifestasi dari kehendak rakyat yang telah diberi wewenang. Jadi bukan lagi antara seseorang (pribadi) melakukan “balas dendam” terhadap orang lain, melainkan aspirasi rakyat untuk mengadili si pelaku kejahatan. Di satu pihak melakukan kejahatan, di pihak lain menghentikan kejahatan, keduanya memiliki nilai yang saling bertolak belakang. Kaum sayap kiri yang menentang hukuman mati memiliki satu kesalahan yang paling besar, yakni mengacaukan pola pikir, dan memutar balikkan nilai kemanusiaan.

Sedangkan mengenai ada atau tidaknya hukuman mati menimbulkan faktor “jera”, dari prinsip rasional yang mendasar, tentu saja akan ada. Dalam bahasa Tiongkok kuno ada ungkapan “hutang nyawa dibalas nyawa”, konsep “dibayar nyawa” ini tentu saja akan menimbulkan dampak pencegahan secara psikologis bagi si pelaku pembunuhan; karena ini berarti jika Anda membunuh, maka sama saja artinya dengan Anda membunuh diri sendiri! Ini hanya memberikan celah yang sangat sempit bagi si pelaku pembunuhan: jika tidak beruntung dan tertangkap, maka Anda harus membayarnya dengan nyawa. Konsep ini menyusup ke dalam sanubari tiap manusia, yang tentunya akan mencegah perilaku pembunuhan. Seperti seorang penulis wanita kaum konservatif dari AS bernama Ann Coulter menyindir, “Jika tidak ada hukuman mati, mengapa Michael Moore (ekstrimis kiri yang menentang hukuman mati) masih tetap hidup, mengapa saya tidak ada di dalam barisan terpidana mati?” Tidak perlu dipertanyakan lagi, sejak dulu dia sudah saya bunuh.

Banyak akademis AS menjelaskan, hukuman mati memiliki “kekuatan membendung yang sangat kuat” untuk mencegah para pelaku pembunuhan. Seorang periset bernama David Muhlhausen dari “Heritage Foundation” pada rapat dengar pendapat senator peradilan pernah membuat penuturan mengenai “hukuman mati cegah pelaku, selamatkan nyawa”: di era tahun 90-an Paul Rubin dan 3 orang akademis lainnya dari Emory University melakukan riset terhadap data kejahatan selama 20 tahun terakhir di lebih dari 3000 kota di AS, yang rata-rata melakukan 1 kali hukuman mati, dapat menyelamatkan 18 orang yang terancam dibunuh. Di AS, bahkan para akademis yang menentang hukuman mati pun mengakui bahwa hukuman mati berefek bisa mencegah pembunuhan. Salah seorang dari akademisi tersebut di atas bernama Joanna Shepherd yang juga menentang hukuman mati, namun dalam laporan risetnya yang dirilis tahun 2005 disebutkan, sejak tahun 1977 hingga 1996, negara bagian di AS yang menghukum mati 9 orang pelaku pembunuhan atau lebih, baru bisa menimbulkan efek mencegah pembunuhan. Artinya, jika pelaksaan hukuman mati terlalu sedikit, efek pencegahannya juga akan ikut menurun.

Satu lagi pengetahuan umum yang mudah didapati adalah, hukuman mati tidak hanya bisa menimbulkan efek jera dan mencegah pembunuhan, tapi memastikan bahwa si pelaku pembunuhan tidak ada lagi kesempatan untuk membunuh orang lain lagi; jika tidak begitu si pelaku kabur dari penjara (di AS dan Meksiko baru-baru ini bukankah telah terjadi 3 orang pelaku pembunuhan kabur dari penjara) atau mendapat pengampunan hukuman dan kembali ke masyarakat, ada kemungkinan ia akan membunuh lagi (seorang mantan pelaku kejahatan lebih berpeluang besar untuk mengulangi kejahatannya, dan kebanyakan melakukan kejahatan yang serupa dengan kejahatan sebelumnya). (Cao Changqing/sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular