Nasib telah meninggalkan Elio D’Anna dalam kesendirian selama tiga tahun, terpisah dari teman-teman, keluarga dan berada di negara asing. Selama melalui masa-masa itu, pendiri dan Presiden European School of Economics (ESE) ini tercerahkan dengan filosofi baru yang akan mendasari sekolah bisnisnya.

Dengan misi menyebarkan pemahaman baru yang menginspirasi dan memperkaya para pemimpin organisasi pada masa depan. Elio mulai merevolusi dunia pendidikan. Ia membuka kuliah bisnis pertamanya di Milan, Italia, 20 tahun yang lalu. Kemudian mengembangkan sekolahnya di Florence dan Roma, sebelum ekspansi ke Kota New York, London, dan Madrid.

Perguruan tinggi sekarang menawarkan gelar, tidak hanya pelatihan dalam keterampilan bisnis dasar, tetapi juga dalam integritas dan kesadaran diri untuk “menciptakan generasi baru para pengusaha muda dan pemimpin perusahaan, visioner, pemimpi pragmatis”, menurut situs ESE.

“Saya percaya kita harus mengubah visi kita, kita harus mengubah mimpi kita, dan melalui itu kita mengubah realitas kita,” tutur Elio kepada Epoch Times.

Sebagai seorang musisi muda dan berbakat, Elio memulai karir profesionalnya sebagai bintang rock terkenal, tapi setelah mengalami hal yang tidak terduga dalam karier musiknya, Elio menemukan dirinya dalam kesendirian di negara baru yang jauh dari kehangatan tanah airnya, Italia. Dalam kesendiriannya, Elio menemukan sesuatu yang nyata di dalam dirinya, menemukan kebebasan, yang hanya didapatkan melalui pengalaman masa-masa krisis seperti itu.

Tahun-tahun kesendirian sangat penting bagi Elio, “Penting, karena mereka membuat saya berpaling ke arah saya dan melihat semua masalah dan kesulitan secara mendalam.”

“Anda harus mengubah sesuatu di dalam diri Anda untuk menyadari bahwa realitas hanyalah cermin dari batin Anda,” jelas Elio. “Kita sangat terobsesi dengan kehidupan di luar diri kita, yang membuat kita lupa, benar-benar lupa, pada diri sendiri.”

Apa yang Elio temukan, bahwa dunia yang ia ciptakan, sebuah dunia di mana ia tidak bisa berdiri lagi, semuanya berasal dari dirinya sendiri, dan ia menyadari bahwa harus mengubahnya dari dalam.

“Kami mencoba untuk mengubah orang-orang di sekitar kita,” katanya. “Tapi pada akhirnya kita merasa adalah pecundang. Untuk menjadi pemenang, Anda harus terlebih dahulu menaklukkan diri sendiri.”

Dalam bukunya The School for Gods, Elio tidak hanya menggambarkan filosofi dan ide-ide yang menginspirasi sekolah bisnisnya, tetapi manifesto dari “revolusi individu”.

Elio juga menulis The Technology of the Dreamer (Teknologi Pemimpi), dan akan segera merilis buku lain yang terinspirasi oleh pemahaman filosofis.

Ketika berada di kelas, ia mengajarkan bahwa tidak mungkin untuk berpikir hanya satu cara untuk membawa perubahan di dunia, adalah untuk mengambil tindakan terhadap itu. “Kita harus mengubah arah diri kita sendiri, dan melihat bahwa semua konflik, kesulitan, serta masalah yang di dalam diri kita,” tutur Elio. “Semua hanyalah cermin dari diri Anda.”

Dengan demikian, konsep antagonis memainkan peran penting dalam filsafat Elio.

“Semua orang takut pada sosok antagonis,” jelasnya. Orang-orang selalu berusaha menghindarinya. Baik itu termanifestasi sebagai masalah dalam keluarga atau pesaing bisnis, tapi satu-satunya cara untuk menaklukkannya adalah untuk menemukan harmoni dalam, “Maka Anda akan melihat bahwa hal yang sangat luar diri Anda yang menakutkan Anda akan hilang,” katanya.

“Antagonis adalah hal yang hebat. Anda harus berharap diri sendiri menjadi antagonis yang sangat garang,” kata Elio. “Anda akan temukan bahwa antagonis lebih mencintai Anda dari pada diri Anda sendiri … ia tahu apa yang terbaik bagi Anda.”

Ketika orang telah menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari dalam, katanya, semua ketakutan mereka akan hilang. “Kekuatan ada di dalam diri kita sendiri.” (fdz/yant)

Share

Video Popular