Alasan ketiga: “hidup hanya satu kali”

Alasan ketiga para ekstrimis yang menentang hukuman mati adalah: hidup manusia hanya sekali, begitu salah memvonis, maka tidak akan bisa diselamatkan lagi. Faktanya, diantara sekian banyak alasan menentang hukuman mati, hanya yang satu ini yang memiliki konsep yang cukup kuat, juga merupakan alasan paling kuat yang dapat meyakinkan agar hukuman mati dihapus. Tapi kondisi sekarang adalah, karena munculnya banyak teknologi inspeksi baru termasuk tes DNA dan lain sebagainya, kemungkinan terjadinya salah vonis di negara dengan sistem hukum yang lengkap seperti itu dapat diturunkan hingga sangat minim.

Seperti di AS, sejak 1976 dipulihkannya vonis hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi (Pada 1972 Pengadilan Tinggi pernah menetapkan hukuman mati melanggar konstitusi) sampai sekarang hampir 40 tahun lamanya, hanya 75 orang pernah divonis hukuman mati oleh Pengadilan Federal, dan hanya 3 di antaranya yang dieksekusi. Jika kasus peledakan bom Marathon Boston ini hukuman mati terhadap pelaku dieksekusi, maka ini akan menjadi eksekusi hukuman mati yang pertama (bagi Pengadilan Federal) sejak peristiwa serangan teroris 911 tahun 2001 lalu. Terakhir kali yang dihukum mati adalah teroris domestic Timothy McVeigh yang pada 1995 menghancurkan gedung Alfred P. Murrah Federal Building Oklahoma State di kota Oklahoma dan telah menimbulkan korban tewas 169 orang dan terluka sebanyak 680 orang.

Di AS, terpidana mati rata-rata diberi masa banding (pengadilan ulang) mencapai 20 tahun! Membuktikan di Amerika hukuman mati divonis begitu hati-hati hampir mencapai tahap tidak dilaksanakan. Nyawa manusia memang berharga, tapi jika terlalu ekstrim menghapus total hukuman mati, maka akan mengakibatkan pelaku kejahatan tidak takut untuk membunuh orang lain. Metode di AS adalah contoh baik: tidak menghapus hukuman mati, tapi juga sangat berhati-hati dalam melaksanakannya.

Alasan ke-empat: “Hapus hukuman mati adalah trend global”

Alasan ke-empat dari penentang hukuman mati yang bukan aspirasi mayoritas global warga adalah: menghapus hukuman mati adalah tren dunia, sebanyak 193 negara anggota PBB, sebanyak 97 negara telah menghapus hukuman mati (58 negara masih mempertahankan hukuman mati). Kesampingkan dahulu soal kebenaran suatu tren, faktanya adalah teori dari “tren dunia” ini sendiri tidak tepat. Mulai dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Kanada sebagai negara Barat terpandang yang telah menghapus hukuman mati, ini merupakan hasil ideologi politik sebagian kecil kaum sayap kiri (termasuk hakim, media, politikus) yang mati-matian mendesak untuk mengubah hukum, dan sama sekali bukan merupakan aspirasi rakyat mayoritas.

Seperti di Kanada saat dihapusnya hukuman mati 1976 lalu, pada 2012 survey menunjukkan (dilakukan oleh surat kabar “Toronto Star” dan lain-lain) bahwa, setelah hampir 40 tahun ditiadakannya hukuman mati, sebanyak 61% warga Kanada berpendapat pelaku kejahatan pembunuhan harus dihukum mati.

Di Inggris, survey yang dilakukan Angus Reid pada 2011 menunjukkan, sebanyak 65% WN Inggris mendukung diterapkannya kembali hukuman mati bagi pelaku pembunuhan (28% menentang). Para pria dan berusia lebih dari 35 tahun cenderung setuju diberlakukannya kembali hukuman mati.

Salah satu negara paling kiri di Eropa adalah Prancis, yang menghapus hukuman mati pada 1981, yang dilakukan secara paksa oleh Presiden Mitterand yang sayap kiri bersama dengan Menteri Kehakiman Badinter yang lebih ekstrim kiri lagi berdasarkan “keyakinan filosofi” (kemudian ditulis dalam konstitusi Prancis), sama sekali tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Waktu itu mayoritas WN Prancis setuju bahwa hukuman mati adalah legal, harus ada, dan efektif. Hingga sekarang sebanyak 42% warga Prancis setuju agar hukuman mati diberlakukan kembali (52% menentang), diserangnya kantor tabloid “Charlie Week” oleh teroris menyebabkan tragedi banyaknya korban jiwa, suara warga Prancis mendukung hukuman mati pun melonjak drastis, pemimpin sayap kanan juga secara terbuka menyuarakan diberlakukannya kembali hukuman mati.

Uni Eropa menetapkan standard calon keanggotaan untuk harus menghapus hukuman mati, ini menyebabkan Turki yang masih memberlakukan hukuman mati tidak bisa bergabung dengan Uni Eropa. Sementara PM Hungaria yang telah menjadi anggota UE, menyatakan pada bulan Mei lalu, “Hukuman mati memiliki kekuatan pencegahan, meskipun mungkin akan merampas nyawa seseorang, tapi dapat menyelamatkan lebih banyak orang.” Ungkapan tersebut menyebabkan UE mengancam akan mencabut keanggotaan Hungaria. Sementara terhadap Yunani yang terus menggerogoti dana bantuan UE justru mati-matian dipertahankan agar Yunani tidak mundur dari UE. Dari sini bisa dilihat betapa ideologi sayap kiri Uni Eropa sangat membabi buta hingga tingkat yang sangat tidak rasional.

AS sebagai basis paham konservatif Barat, mayoritas aspirasi warga selama ini selalu mendukung hukuman mati. Puncaknya di tahun 1994, ketika 80% warga mendukung hukuman mati. Setelah itu meskipun gerakan anti hukuman mati terus bergelora setelahnya, namun hasil survey Gallup pada 2011 menunjukkan: warga AS yang menentang hukuman mati hanya 35%.

Mendiang PM Inggris Margaret Thatcher secara tepat pernah menunjukkan, “Seluruh bencana manusia berasal dari dataran Eropa.”

Paham komunisme disebarkan dari Rusia, dua kali perang dunia dikobarkan oleh Jerman, pemenggal kepala Guillotine diciptakan oleh Prancis. Semua Utopia dan filosofi anarkis tersebut telah menyengsarakan dunia. Kini, spirit kaum sayap kiri yang ingin menghapus hukuman mati, lagi-lagi mulai gentayangan dari Benua Eropa. Tapi di kalangan negara Asia, kebanyakan warga tidak tertarik pada dihapusnya hukuman mati seperti di Eropa sana.

Seperti di Korea Selatan, dalam survey tahun 2009 menunjukkan, sebanyak 66.7% warganya mendukung hukuman mati. Beberapa tahun ini bahkan lebih tinggi, mencapai 83.1% warga Korsel setuju adanya hukuman mati (hanya 11.1% menentang).

Di Jepang, suara yang mendukung hukuman mati bahkan lebih banyak lagi. Survey tahun 2010 menunjukkan sebanyak 85.6% WN Jepang setuju adanya hukuman mati, jauh lebih tinggi daripada hasil survey sebelumnya.

Di Taiwan, setiap survey selama seperempat abad terakhir menunjukkan dukungan mayoritas warga terhadap hukuman mati: tahun 1990 sebesar 75%, tahun 2001 sebesar 79%, tahun 2006 sebesar 76%, tahun 2008 sebesar 79.7%, tahun 2010 sebesar 74%, hasil survey terbaru yang dipublikasikan awal 2013 lalu, pendukung hukuman mati memecahkan rekor sejarah, yakni 91%!

Hal yang membedakan Taiwan dengan negara Eropa adalah, sebanyak lebih dari 80% kaum terpelajar dan akademis Taiwan (termasuk hakim dan lain-lain) mendukung hukuman mati, hanya 15.9% mendukung hukuman mati dihapuskan.

“Menghukum mati” sesuai dengan hukum alam, meskipun lebih dari setengah negara anggota PBB telah menghapus hukuman mati, tapi yang patut dijelaskan adalah, saat ini di seluruh dunia negara yang mendukung hukuman mati mencapai 65%, atau hampir 2/3 negara dunia!. Survey masyarakat global yang dilakukan Gallup pada 2014 menunjukkan, lebih dari separoh orang yang disurvey mendukung dilakukan hukuman mati terhadap pembunuh.

Dosen Fakultas Hukum New York yang merupakan pakar peneliti masalah hukuman mati AS Profesor Robert Blecker memiliki beberapa pandangan yang cukup representatif. Blecker mengatakan, bagi para penjahat besar yang berniat menghabisi warga dalam skala besar (seperti pelaku pemboman Oklahoma Building Timothy McVeigh, atau pelaku pemboman lomba Marathon Boston Dzhokhar Tsarnaev dan lain-lain) mutlak harus dihukum mati. Hukuman yang dijatuhkan pada mereka harus sepadan dengan perbuatannya, ungkapannya yang lebih tepat lagi adalah: membiarkan seorang pelaku kejahatan seperti itu untuk tetap hidup adalah tindakan yang tidak adil!

Ucapan Profesor Blecker bersumber dari kebijaksanaan para leluhur. Pemikir abad ke-17 Inggris John Locke yang sangat mengedepankan hak pribadi dan menetapkan konstitusi demokrasi pada masa itu mengemukakan, “Nyawa yang dihabisi oleh seorang pembunuh tidak bisa dihidupkan lagi, jadi menghukum pelaku dengan hukuman mati adalah sesuai dengan hukum alam.” Filsuf Jerman Kant juga mendukung pandangan ini.

Setelah 3 hari mempertimbangkan kasus ledakan bom lomba marathon Boston, 12 orang juri menghasilkan suara bulat (satu orang saja menentang maka hukuman mati tidak bisa dilaksanakan) menjatuhkan vonis hukuman mati bagi Dzhokhar Tsarnaev dan bukan hukuman seumur hidup. Setelah divonis Jaksa Ketua menyatakan, vonis hukuman tersebut “adil dan benar”. Terdakwa Dzhokhar Tsarnaev telah membuat warga AS kehilangan nyawanya atau cacat seumur hidup untuk mewujudkan “keyakinannya”, jadi seharusnya ia diganjar dengan hukuman mati untuk membayar perbuatannya. (Cao Changqing/sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular