Menurut laporan media massa Daratan Tiongkok, dokter telah mengeluarkan 420 butir batu ginjal dari salah satu ginjal seorang pria berusia 55 tahun, batubatu tersebut hampir memadati seluruh ginjalnya, sampai-sampai sang dokter sibuk sekali mengeluarkan dengan jepitan selama 45 menit. Laporan itu menyatakan bahwa batuan ini terjadi karena pria itu suka makan tahu namun tidak suka minum air. Apakah benar semua itu disebabkan oleh tahu?

Beberapa ahli berpendapat, tahu belum tentu merupakan “biang keladinya”, kurang minum air justru merupakan salah satu penyebab utama.

Menurut laporan Warta Kota Xin Jiang, seberapa besarkah hubungan antara makan tahu dengan batu ginjal, dalam dunia kedokteran belum ada kesimpulan yang pasti, penderita batu ginjal bukannya divonis tidak boleh mengonsumsi tahu. Dokter Zhang Lei, wakil kepala Divisi Ginjal di Rumah Sakit Ginjal Ke -5 yang berafiliasi pada Fakultas Kedokteran Xin Jiang mengatakan:”Jika pasien menderita batu ginjal yang diakibatkan oleh tingginya asam kemih (uric acid), maka perlu mengurangi konsumsi produk kedelai.”

Menurut Zhao Qiang, ahli gizi di Ma Xie Memorial Hospital di Taiwan mengatakan dalam buku “Cara Makan Untuk Mencegah dan Mengobati Penyakit Batu Ginjal”, dari hasil penyelidikan beberapa tahun ini terungkap, meskipun batu ginjal dari kebanyakan penderita mengandung kalsium (zat kapur), namun biang keladi yang menyebabkan batu ginjal bukanlah mengonsumsi “terlalu banyak zat kapur”, melainkan “minum air terlalu sedikit”.

Tentu saja penyebab timbulnya batu ginjal tidaklah sederhana, “kurang minum air” hanya merupakan salah satu penyebab saja. Pada hakekatnya, “karena kurangnya kadar air (air yang diminum kurang atau terlalu banyak dehidrasi melalui berkeringat), maka air kemih yang dihasilkan ginjal tidak memadai, sehingga tidak mampu mengencerkan materi penyebab terbentuknya batu ginjal, sehingga tercapai kondisi terlalu jenuh dan pengkristalan sehingga terjadi batu ginjal”, ini merupakan penyebab yang paling utama.

Lalu bagaimana cara mencegah terjadinya batu ginjal? Berikut ini merupakan kesimpulan berdasarkan saran beberapa ahli:

1. Asupan air yang memadai

Di dalam kondisi tidak berkeringat, setiap hari setidaknya mengonsumsi 2,8 liter air. Dalam keadaan cuaca panas atau sering berkeringat, masih perlu meningkatkan jumlah air yang diminum. Menunggu haus baru minum air adalah suatu kekeliruan, selain itu perlu mengurangi minuman yang mengandung gula (pasir).

2. Zat kapur dalam makanan bermanfaat bagi tubuh manusia

Banyak orang mendengar bahwa batu ginjal kebanyakan adalah batu asam oksalat, kemudian mengira harus mengurangi kadar konsumsi zat kapur (kalsium) dan mengurangi makanan yang kaya akan zat kapur, ini adalah salah paham yang sangat besar. Terbukti dalam penelitian, mengonsumsi makanan dengan kadar zat kapur tinggi justru dapat mengurangi bahaya terkena batu ginjal.

Zhao Qiang menjelaskan, zat kapur dalam makanan dapat bereaksi dengan asam oksalat dalam saluran usus dan membentuk kalsium oksalat yang tidak larut dan tidak dapat diserap, kemudian dikeluarkan melalui tinja, dengan demikian mengurangi penyerapan asam oksalat. Tetapi jika mengurangi konsumsi zat kapur dalam makanan, dapat mengakibatkan meningkatnya penyerapan asam oksalat oleh usus kecil, sehingga pengeluaran asam oksalat melalui air kemih meningkat.

Namun dalam mengonsumsi produk supplemen zat kapur perlu berhati-hati. Ada penelitian yang mengungkap, mengkonsumsi supplemen zat kapur dapat meningkatkan risiko terkena batu ginjal sebesar 20 %, sedangkan mengonsumsi zat kapur dari bahan makanan alami justru dapat mengurangi risiko terserang batu ginjal sampai sepertiganya.

3. Kadar zat putih telur yang dikonsumsi hendaknya tidak berlebihan

Zat putih telur hewani yang berlebihan dapat meningkatkan kadar zat kapur, urate dan asam oksalat dalam air kemih, sehingga meningkatkan risiko terkena batu ginjal. Selain itu jika sayuran yang dikonsumsi cenderung kurang, mudah mengakibatkan kurangnya zat-zat dalam makanan seperti zat kapur, kalium, magnesium, sedangkan zat belerang dan fosfor terlalu tinggi, sehingga pengeluaran zat kapur dalam kemih meningkat, zat kapur dari tulang yang ikut larut meningkat.

4. Kadar asam oksalat dalam sayuran sangat rendah

Banyak orang mengira kadar asam oksalat dalam sayuran ada banyak, merupakan faktor yang berisiko menyebabkan batu ginjal, sehingga tidak berani mengonsumsi sayuran berwarna hijau, padahal ini merupakan salah paham. Dalam sayuran berwarna hijau yang mengandung asam oksalat paling tinggi adalah pocai (spinah, mirip bayam), namun selain kaya akan kalium dan magnesium pocai juga kaya akan lycine, yang merupakan zat berguna untuk menurunkan nilai pH air kemih. Asalkan pocai direbus sejenak untuk menyingkirkan sebagian asam oksalatnya, maka akan dapat dimasukkan ke dalam menu makan dengan hati lega. Sedangkan sayuran berwarna hijau lain kandungan asam oksalatnya sangat rendah, tidak perlu dikhawatirkan. (Pur/Yant)

Share

Video Popular