Membaca dua cerita mini dari kisah nyata ini, agaknya memiliki keajaiban yang serupa tapi tak sama. Salah satunya adalah bagaimana seorang pemilik usaha kecil membalikkan situasi negosiasi yang berulang kali gagal, suatu pengalaman ajaib yang akhirnya memenangkan peluang bekerjasama. Cerita mini lainnya adalah kisah nyata tentang seorang salesman yang tidak keberatan diberi imbalan “kebaikan kecil” yang memberi penghargaan dan kasih kepada orang lain.

Seorang pemilik perusahaan kecil yang selalu ingin bekerja-sama dengan sebuah perusahaan besar, akhirnya berhasil membalikkan situasi memenangkan negosiasi yang telah berulang kali gagal, ternyata didasarkan pada momentum pada suatu hari disaat menyangga pohon kecil yang roboh akibat tertiup angin. Pencitraan sekejap itu, tidak hanya menyoroti kebaikan hatinya yang bersedia melakukan suatu kebaikan; yang lebih sulit ialah, perbuatan baiknya hanyalah hal kecil yang tidak menimbulkan perhatian orang lain. Selain itu hal kecil, namun memerlukan upaya untuk mendapatkan tali dan ketika baru berhasil menyelesaikan setelah mengikat dengan benar pohon kecil tersebut, ia pun tetap riang dan tak merasa lelah serta tidak merasa direpotkan.

Yang perlu disebutkan bahwa, sebelum ia melihat pohon yang dirobohkan angin itu ia baru saja mengalami kekecewaan karena upaya kerjasama yang gagal. Namun, ia tidak lantas kehilangan kebaikan hatinya untuk membantu hanya karena ketidak beruntungannya, jadi dalam situasi apa pun ia tetap mempertahankan kebaikannya. Yang membuatnya mujur ialah, disaat perbuatannya itu secara tak sengaja disaksikan langsung oleh bos perusahaan besar tersebut. Terharu oleh kebaikannya, si bos besar akhirnya setuju untuk bekerja sama dengannya.

Cerita kedua bahkan lebih menakjubkan. Pada suatu hari ketika hujan turun, seorang perempuan tua yang basah kuyup masuk ke sebuah pusat perbelanjaan. Ibu itu berpakaian sederhana dan hanya ingin berteduh, tidak membeli apa-apa. Oleh karena itu, para pegawai toko pada mengabaikan dirinya. Tetapi ada seorang pegawai pria yang melihat ibu tua yang ingin berteduh tetapi sepertinya hatinya terasa was-was. Dia segera mengambil sebuah kursi dan memintanya untuk duduk dan menghiburnya, agar ibu tua tersebut tidak merasa jengah dan dapat berteduh dengan tenang.

Kata-kata hangat dan maksud baik si pemuda membuat ibu tua merasa terharu. Yang tak disangka ialah, perempuan tua yang berpakaian sederhana itu adalah ibu seorang miliarder. Beberapa bulan kemudian, untuk mengungkapkan rasa berterima kasihnya kepada si pemuda, sang perempuan tua mengatur sebuah kesempatan langka untuk mendiskusikan bisnis dengan seorang perwakilan perusahaan. Sejak itu, nasib si pemuda itu meroket, menjadi tangan kanan sang miliarder dan menjadi kaya raya. Pada dasarnya, yang membuatnya bisa menjadi kesayangan dari “Dewa Keberuntungan” adalah kebaikan dari dasar hatinya. Dan yang benar-benar mengesankan bagi wanita tua itu adalah kebaikan hatinya yang sederhana yang mau memikirkan orang lain.

Kisah-kisah yang sederhana itu menggambarkan betapa berharganya sikap yang ringan tangan, suatu tindakan kecil yang telah mampu membuat haru, karena di dalam sekelebatan tindakan tersebut, sejenis kekuatan yang tak terbatas, dipancarkan oleh materi yang disebut “kebajikan”. Jika tanpa kekuatan yang tak kelihatan ini yang setiap saat memainkan peran yang menentukan, siapakah yang dapat membayangkan perbuatan kecil membantu menyangga pohon akan tercapainya keberhasilan mendapatkan kerja sama dengan rekan bisnis? Siapakah yang akan menghubungkan perbuatan kecil yang tak terkait dengan detail sukses-gagalnya kehidupan dengan menggangkatkan kursi bagi wanita tua yang berteduh dengan mega kekayaan? Malah apabila dengan sengaja diatur dan mengkhususkan untuk itu, barangkali tidak mampu mewujudkan geliat dan serangan balik dalam kehidupan yang mengejutkan semacam ini.

Tentu saja, kita tidak harus menafsirkan ini sebagai kesimpulan, lalu kita semua lantas mencampakkan pekerjaan masing-masing dan kerjaan setiap harinya hanya untuk menemukan hal baik untuk dilakukan, tujuannya tak lain tak bukan hanyalah untuk menjadi kaya di suatu hari nanti. Pemikiran semacam ini adalah menuju ke sisi ekstrim lainnya. Yang perlu dicatat ialah, orang yang berbuat baik ketika melakukan kebaikan mutlak tidak boleh mengandung keegoisan dan hasrat, jika melakukan kebaikan hanya untuk mencapai suatu tujuan, maka orang semacam itu tidak seharusnya dianggap sebagai orang yang benar-benar baik.

Dan yang lebih diutamakan ialah, meskipun sebuah perbuatan baik mungkin menjadi faktor kunci menjadi sukses dalam mencapai masa depan, akan tetapi kehidupan dari situasi sulit dapat berbalik mencapai sukses, dengan demikian telah terjadi nasib pembalikan yang unik, bukanlah hanya karena sebuah sebuah perbuatan amal saja. Ketika seseorang dalam berbuat kebaikan setelah 100 kali melakukan perbuatan baru mulai berjalan mencapai kesuksesan, kita tidak harus mengabaikan perbuatan baiknya dari awal sampai ke-99 kalinya yang dengan wajar telah terakumulasi dan diperolehnya.

Oleh karena itu, dalam rangka untuk menjadi orang yang benar-benar baik, selain melakukan kebaikan tanpa tujuan dan pamrih apa pun, yang terpenting adalah terus mempertahankan berbuat kebaikan itu. Baik perbuatan besar yang terpampang di depan mata, atau hal-hal kecil yang tiada seorang pun memedulikannya, tak peduli apakah untuk pertama kalinya, atau keseratus kalinya, selama berguna bagi orang lain, maka secara konsisten tetap dilakukan berdasarkan sebuah hati yang baik. Dan orang yang berbuat baik seperti ini, mana boleh “Dewa Keberuntungan” tidak memedulikannya? (Hui/Yant)

Share

Video Popular