Oleh: He Qinglian

Baru-baru ini masyarakat internasional telah menjadi “pesimis” ekonomi Tiongkok, dan “pesimis” ini dibandingkan dengan “optimis” sebelumnya benar-benar terpaut jauh. Seperti kata Soros: “Kemunduran ekonomi RRT (Republik Rakyat Tiongkok-red) dapat mengakibatkan PD-III”, sementara Menkeu Selandia Baru menyatakan kekhawatirannya akan seolah kembar siam ekonomi RRT-Selandia Baru: “Jika ekonomi RRT terjun bebas, maka risiko kemunduran Selandia Baru akan semakin besar”. Hanya saja alasan pesimis di antaranya adalah karena ada yang berpendapat bahwa pemberantasan korupsi menyebabkan situasi politik tidak stabil sehingga dapat menyebabkan kemerosotan ekonomi, ada juga yang berpendapat bahwa intervensi pemerintah Tiongkok pada bursa saham secara langsung menyebabkan krisis ekonomi.

Semua komentar ini hampir tidak ada yang benar-benar mempertimbangkan: stamina ekonomi Tiongkok mentakdirkan kemakmurannya tidak bertahan lama, selama ini Tiongkok sama sekali bukan bahtera Nuh yang dapat menyelamatkan ekonomi dunia.

Impian Eropa-AS-Latin Amerika-Afrika: Semoga RRT Longgarkan Pundi Uang

Di tengah tingkat pengangguran yang semakin tinggi dan kehidupan masyarakat menengah dan bawah di RRT semakin sulit, dan pada menertawakan pemimpin Tiongkok gembar gembor akan “impian Tiongkok” yang hanya khayalan semata, warga Tiongkok sama sekali tak mengira bahwa masyarakat internasional sedang terhanyut “mimpi indah Tiongkok” lain yakni berharap “pemerintah RRT akan melonggarkan pundi uangnya” dan berinvestasi di negara mereka agar dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi serta penyerapan tenaga kerja di negara mereka.

Impian itu sepertinya semu tapi juga nyata: “Di dunia ini belum pernah ada kisah ekonomi seperti RRT – selama 30 tahun berturut-turut, pertumbuhan pendapatan penduduk rata-rata 10% per tahun, ratusan juta warga RRT terlepas dari kemiskinan, proses pertmbuhan yang semula bukan siapa-siapa melonjak menjadi negara ekonomi kedua terbesar dunia dengan menyumbangkan 15% dari total PDB dunia dan meningkatkan PDB dunia sebesar 25%. Tentu saja tak sedikit pemimpin negara lain yang tergiur akan cadangan devisa milik RRT sebesar lebih dari 4 trilyun USD yang merupakan tertinggi di dunia itu dialihkan barang sedikit saja ke negaranya.

Pemerintah RRT memang sedang melonggarkan pundi uangnya, dan sedang gencar-gencarnya berinvestasi dalam skala besar di luar negeri. Menurut “Buletin Statistik Investasi Luar Negeri Langsung RRT Tahun 2013”, hingga akhir tahun 2013 sebanyak 15.300 investor RRT telah berinvestasi langsung di sebanyak 184 negara dan regional dan mendirikan 25.400 perusahaan. Menurut data dari UNTAD (United Nation of Trading and Development), di tahun 2013 RRT telah menjadi negara investor ketiga terbesar dunia, hanya di bawah AS senilai USD 338,3 milyar dan Jepang senilai USD 135,7 milyar. Sejak tahun 2005 hingga semester I 2014, investasi langsung RRT di luar negeri mencapai USD 515,3 milyar dengan investasi proyek pembangunan sebesar USD 355,1 milyar. Kalangan bank investasi umumnya berpendapat, investasi luar negeri RRT di tahun 2014 sangat mungkin akan mendekati atau bahkan dapat melampaui Jepang, dan akan segera menembus USD 1 trilyun.

Investasi luar negeri RRT memperlakukan negara kaya dan negara miskin secara sama, ini bisa dilihat dari penyalurannya lewat bank investasi. Baik investasi langsung sebesar USD 515,3 milyar maupun investasi proyek pembangunan sebesar USD 355,1 milyar, sektor energy mendominasi dengan porsi hampir 50%, sektor pertambangan logam juga merupakan sasaran utama investasi langsung, sementara titik berat lain pada sektor proyek pembangunan infrastruktur adalah bidang transportasi berupa pembangunan jalan menembus gunung dan jembatan melewati sungai. Semua itu ibarat angin segar bagi negara berkembang, karena kemampuan RRT di bidang pembangunan infrastruktur “cukup unggul”, menarik investasi dari RRT selain memperbaiki sarana infrasturktur setempat, juga dapat menumbuhkan lapangan kerja.

AS, Inggris, dan Jerman adalah negara dengan pertumbuhan investasi RRT yang paling cepat akhir-akhir ini. Sejak tahun 2007 hingga 2013, investasi langsung RRT di AS bertumbuh 14 kali lipat. Saat ini dari 50 negara bagian di AS, sebanyak 35 negara bagian di antaranya ada investasi dari RRT, negara bagian New York, California dan Texas adalah 3 negara bagian yang paling banyak menarik investasi langsung dari RRT.

Sektor investasi RRT cukup luas, mencakup energi, properti, industri, finansial, jasa, informatika, elektronika, teknologi biologi, penghijauan dan masih banyak lagi, serta telah menyediakan lebih dari 80.000 lapangan kerja bagi AS. Jerman juga menjadi lahan gemuk investasi RRT: di tahun 2012 Jerman menguasai sebesar 38% dari total investasi langsung luar negeri RRT di Eropa, jauh melampaui jumlah investasi di Inggris dan Prancis, yang masing-masing hanya 22% dan 5%. Menurut data Biro Dagang dan Investasi Federal Jerman (GTAI), investasi langsung RRT di Jerman pada tahun 2013 mencapai 139 proyek, hanya di bawah AS dan Swiss, menjadikan Jerman sebagai negara dengan jumlah investasi ketiga terbesar.

Pendapatan bank investasi dari pasar RRT juga tidak sedikit. Di tahun 2014, bank investasi meraup pendapatan sebesar USD 6 milyar dari pasar RRT. Meskipun jauh lebih rendah dibandingkan AS dan negara Uni Eropa, tapi selain RRT, kemana lagi harus mencari “kue pertumbuhan besar”? Apalagi secercah harapan telah terlihat di depan mata: menurut laporan yang dirilis bersama oleh Mercator China Research Center dan sebuah institute riset AS yakni Wing Ding Advisory, diperkirakan hingga tahun 2020 mendatang Tiongkok akan menjadi investor antar negara terbesar dunia, aset Tiongkok di luar negeri akan meningkat hingga 3 kali lipat dari yang ada sekarang, yakni dari yang USD 6,4 trilyun sekarang menjadi hampir USD 20 trilyun, “Tiongkok kini telah menjadi investor penting dunia, dan besar harapan dalam 10 tahun mendatang akan menjadi faktor pendorong utama meningkatnya investasi langsung di luar negeri”. Semakin besar harapan, semakin mudah kecewa, ekonomi RRT yang merosot membuat seluruh dunia was-was, karena menaruh harapan terlalu tinggi pada sang penyelamat ekonomi dunia” ini.

Bukan Beijing Tak Berniat Menolong, Apa Daya Tangan Tak Sampai

Jika menuruti keinginan pemerintah Tiongkok memang sangat ingin menjadi negara ekonomi kedua terkuat dunia. Tapi takdir menghendaki lain, terutama peruntungan Xi dan Li (Presiden dan PM RRT) tidak jauh lebih baik daripada Hu dan Wen (presiden dan PM sebelum Xi dan Li). Saat Xi menerima jabatan dari Hu, keadaan Tiongkok sudah sangat tercemar baik tanah, sungai, maupun laut dan langit, 3 kereta penggerak utama perekonomian Tiongkok selama hampir 30 tahun mendadak mogok, terbeban penduduk hampir 700 juta jiwa dengan kemampuan konsumsi kurang dari 2 dolar AS per hari (AIIB pernah mengkategorikan rakyat dengan konsumsi harian 2 dolar sebagai golongan menengah), Xi dan Li nafsu besar tenaga kurang.

Para analis yang menyatakan bahwa abad ke-21 adalah “abad Tiongkok”, tetap saja tidak mau menghadapi kenyataan: jika sebuah negara berniat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, hanya ada dua kondisi yang memungkinkan:

1. Harus memiliki keunggulan dalam hal sumber daya alam, pemerintah dan rakyat memiliki kesadaran berhemat sumber daya yang baik, serta memiliki system industry yang unggul, seperti AS dan Kanada;.

2. Keunggulan teknologi, seperti AS sekarang, atau Inggris sebelum PD-II. Inggris dan Tiongkok meskipun sama-sama menyandang gelar “pabrik dunia”, tapi pabrik dunia di Inggris mengandalkan keunggulan teknologi yang diraih dari Revolusi Industri; sedangkan pabrik dunia di Tiongkok, dari segi fungsinya hanya bisa dikategorikan sebagai pabrik assembling atau perakitan dunia saja, sama sekali tidak bisa disamakan dengan pabrik dunia versi Inggris dulu. Begitu upah buruh serta harga tanah tidak lagi murah, modal asing pun akan segera hengkang mencari lahan baru. Tahun 2009 adalah awal dari hengkangnya modal asing dari Tiongkok, juga awal dari menurunya kemakmuran ekonomi Tiongkok. Sejak saat itu, tren pertumbuhan ekonomi Tiongkok tak bisa diselamatkan lagi, pemerintah RRT mengandalkan dana 4 trilyun untuk menyelamatkan bursa saham, menopang properti dan investasi infrastruktur, yang hanya mampu memperlambat tren penurunan tersebut namun tak kuasa memutar balikkan situasi ini.

Uraian di atas adalah hal-hal yang telah penulis berulangkali tekankan sejak beberapa tahun lalu pada artikel sebelumnya “Status Buruh di Pabrik Dunia”, “Belum Usai Kesibukan Olimpiade, Ekonomi RRT Alami Krisis”, “Tahun 2009: Serigala Kemerosotan Ekonomi RRT Datang”, dan lain-lain.

Pengulangan sekali lagi: gemerlap prestasi Tiongkok sebagai pabrik dunia sepenuhnya tergantung pada biaya yang rendah sebagai andalan, yakni biaya lahan dan upah buruh. Untuk menopang “pertumbuhan ekonomi”, RRT menguras sumber daya alam tanpa mempedulikan akibatnya: sumber air, tanah, udara yang menjadi sumber kehidupan bagi rakyatnya telah tercemar parah, hasil tambang juga dikuras habis. Menurut data dari Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, terdapat 118 kota penyumbang sumber daya di Tiongkok, atau sekitar 18% jumlah kota di seluruh Tiongkok, dengan populasi sebanyak 154 juta jiwa. Selain itu, di sebagian provinsi di barat serta barat laut Tiongkok sejak tahun 2005 lalu telah terdapat pengungsi bencana ekosistem sebanyak 180 juta jiwa (angka yang dipublikasikan oleh Pan Yue pada media massa).

Investasi Tiongkok di luar negeri adalah keberanian Tiongkok menjalankan mesin pencetak uang, menjadikan Tiongkok sebagai negara pencetak uang terbesar dunia. Januari 2013 lalu menurut data China 21 Century Network dengan mengkalkulasi angka M2 selama 2008-2012 dari seluruh bank sentral utama dunia, hasil yang disimpulkan: sejak tahun 2009, suplai mata uang dari bank sentral RRT melampaui Jepang, AS dan zona Euro, menjadikan Tiongkok sebagai “mesin cetak uang” terbesar dunia. Di tahun 2012, pertambahan mata uang baru di seluruh dunia melampaui RMB 26 trilyun, dan Tiongkok mencakup hampir setengah.

Data dari 21 Century network ini sesuai dengan perhitungan lainnya. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok selama hampir 30 tahun terakhir, salah satu metode utamanya adalah mengandalkan cara mencetak uang berlebihan, selama satu dekade dari 2003-2013, mata uang dasar bertambah sebesar RMB 88 trilyun, aset valuta asing bertambah USD 3,4 trilyun, yang terutama berasal dari penempatan mata uang yang baru ditambah. Cadangan emas RRT hanya sekitar 1,1% dari cadangan devisa asingnya, yang berarti porsi emas pada portfolio mata uang Tiongkok terlampau kecil.

Dana yang digunakan untuk investasi di luar negeri terutama berasal dari cadangan devisa. Bisa dibayangkan, jika saja tahun ini IMF begitu tololnya sampai membiarkan Tiongkok bergabung dalam rencana keranjang mata uang dunia, dan membiarkan RMB perlahan menjadi mata uang keras internasional, ketika setiap negara menyambut investasi RRT, mungkin juga harus menuai akibat dari tumpahan mata uang yang diedarkan berlebihan oleh RRT.

Bagi para pengamat Tiongkok yang selama ini terngiang-ngiang terus akan cadangan devisa raksasa milik Tiongkok, ada satu berita buruk: cadangan devisa RRT yang mengagumkan itu kini terus menipis, dari USD 4 trilyun di bulan Juni 2014 lalu, telah menipis menjadi USD 3,65 trilyun di bulan Juli tahun ini.

Kemerosotan Ekonomi Jangka Panjang Baru Permulaan

Setelah hampir 40 tahun reformasi keterbukaan RRT, negara maju berharap agar Tiongkok dapat menjadi lahan subur investasi serta pasar terbesar produk mereka, tapi setelah menyadari ternyata lingkungan investasi di Tiongkok tidak sesuai harapan maka satu persatu dari mereka pun hengkang. Bersamaan dengan itu produk bermutu rendah RRT tersebar luas di seluruh dunia dan mengakibatkan hilangnya kepercayaan konsumen terhadap produk “Made in China”. Setelah tahun 2008, ketika negara dunia mengalami krisis finansial, mereka berharap Tiongkok dapat tampil untuk “menyelamatkan ekonomi dunia”. Orang-orang yang penuh harapan itu telah mengabaikan bahwa negara-negara yang menantikan “pertolongan” itu seperti Uni Eropa, Selandia Baru, Afrika Selatan dan lain-lain, hidup jauh lebih baik daripada mayoritas penduduk Tiongkok, tapi berharap pada sebuah negara yang konsumsi harian dari 800 juta jiwa penduduknya hanya 2 dolar (Laporan AIIB 2010 mendefinisikan konsumsi harian 2 dolar sebagai kalangan bawah dari golongan menengah), yang terpolusi serius pada air, tanah dan udara, dan berpenduduk yang pada dasarnya tidak menikmati kesejahteraan untuk menyelamatkan dunia. Impian konyol ini diilustrasikan dengan artikel di surat kabar “Wall Street Journal” edisi 22 Januari 2015: “Kita membutuhkan system Bretton Woods generasi ketiga, kali ini Tiongkok akan menyediakan dana, dan membiarkan AS menyerap sebagian besar dana tersebut, agar kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dunia”.

Berbagai konsep seperti yang dikenal dengan istilah “BRIC”, negara ekonomi berkembang, G2 (sebuah grup yang dibentuk oleh RRT dan AS menggantikan 8 anggota sebelumnya untuk berkoalisi menyelesaikan masalah ekonomi dunia) terus bermunculan, selain menimbulkan berbagai gelembung harapan bagi dunia internasional, juga mendatangkan berbagai kekecewaan. Sejak tahun 2009, negara seperti Brazil, Turki, Afrika Selatan, Rusia, dan lain-lain yang terus mempererat hubungan pertumbuhan ekonomi dengan RRT, berharap bisa ikut di gerbong perekonomian Tiongkok dan menempuh jalur pertumbuhan ekonomi yang pesat itu.

Orang yang meramalkan tragedi manusia selalu tidak disukai masyarakat. Tapi saya sudah terlalu sering menjadi orang yang tidak disukai, jadi tidak ada bedanya melakukannya sekali lagi. Bagi yang berharap pada negara miskin seperti Tiongkok untuk menyelamatkan dunia terutama negara kaya, mungkin dalam jangka pendek bisa bermanfaat, tapi pada akhirnya RRT hanya akan menimbulkan lebih banyak lagi kaum miskin dan pengungsi ekosistem. Bagi orang yang mengharapkan RRT akan menjadi bahtera Nuh penyelamat ekonomi dunia, masa depan Tiongkok yang paling menyedihkan bukan terletak pada tidak mampunya RRT menjadikan dunia sebagai system Bretton Woods generasi ketiga, mereka sebaiknya berdoa pada Yang Maha Kuasa agar RRT tidak mengikuti jejak negara Timur Tengah atau Afrika sebagai negara pengekspor pengungsi. (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular